Al-Qur’an

Zohran Mamdani mencatatkan sejarah baru dalam politik Amerika Serikat setelah resmi dilantik sebagai Wali Kota New York City pada 1 Januari 2026. Ia menjadi wali kota pertama dalam sejarah kota tersebut yang disumpah menggunakan Al-Qur’an, sekaligus mencetak sejumlah rekor sebagai wali kota Muslim pertama, keturunan Asia Selatan pertama, serta kelahiran Afrika pertama yang memimpin New York City.
Prosesi pelantikan Mamdani dilakukan dalam dua tahap. Pelantikan pertama berlangsung pada Malam Tahun Baru di sebuah bekas stasiun kereta bawah tanah New York, menandai pergantian kepemimpinan secara simbolis. Pelantikan kedua digelar secara resmi di Balai Kota New York pada siang hari, dipimpin oleh Senator Amerika Serikat Bernie Sanders.
Dalam kedua prosesi tersebut, Mamdani meletakkan tangannya di atas Al-Qur’an milik keluarganya, yang memiliki nilai historis dan personal, serta sebuah manuskrip karya Arturo Schomburg, tokoh penting dalam sejarah dan budaya Afrika-Amerika. Pilihan tersebut dinilai merepresentasikan identitas, nilai, dan keberagaman yang ia bawa dalam kepemimpinannya.
Zohran Mamdani berusia 34 tahun dan lahir di Kampala, Uganda. Ia kemudian pindah ke New York bersama keluarganya saat berusia tujuh tahun. Karier politiknya berkembang pesat hingga akhirnya memenangkan pemilihan wali kota pada November 2025 sebagai kandidat dari Partai Demokrat dengan platform progresif.
Pelantikan Mamdani tidak hanya menjadi momen bersejarah bagi komunitas Muslim dan kelompok minoritas di Amerika Serikat, tetapi juga mencerminkan wajah New York City sebagai kota multikultural. Kepemimpinannya diharapkan membawa semangat inklusivitas dan keadilan sosial dalam mengelola salah satu kota terbesar dan paling beragam di dunia.

Haha, cerita klasik yang bikin geleng-geleng kepala! Kisah nyata ini memang viral sekitar tahun 2009-2010, saat Muammar Gaddafi (sering ditulis Khadafy atau Qaddafi) mengundang sekitar 200 model top Eropa—kebanyakan dari Italia—ke Roma untuk apa yang mereka kira pesta glamor dengan dansa, minuman, dan hiburan. Malah disambut karpet merah ala keagamaan, lengkap dengan hijab dan ceramah panjang lebar soal Islam, pernikahan sementara (mut'ah), plus nasihat buat mereka "bertobat" dari gaya hidup barat.
Fakta Singkat Kisahnya
- Latar Belakang: Gaddafi, yang dikenal eksentrik, lagi kampanye dakwahnya di Eropa. Dia bayar model-model ini €500-1000 per orang via agensi modeling Italia.
- Reaksi Model: Banyak yang syok berat—ada yang foto pakai hijab sambil meringis, yang lain kabur duluan. Beberapa model bilang di media: "Kami pikir pesta VIP, eh malah kuliah agama 4 jam!"
- Dampak: Berita meledak di koran Italia seperti Corriere della Sera dan internasional. Gaddafi klaim sukses "mengubah" mereka, tapi modelnya bilang cuma formalitas demi duit.
Ini jadi meme abadi soal ekspektasi vs realita, mirip jebakan Batman tapi versi politik-religius. Pernah ngalamin yang mirip gak? 😆
Analisis Dampak dan Respons Global Terhadap Aksi Pembakaran Al-Qur'an di Swedia: Studi Kasus Demonstrasi di Irak dan Reaksi Pemerintah Internasional
Pewarta Nusantara, Internasional - Ratusan warga Irak berkumpul di pusat kota Baghdad pada Kamis (20/7) untuk menyatakan keprihatinan dan protes terhadap aksi pembakaran Al-Qur'an yang terjadi di Swedia.
Demonstrasi ini berlangsung di Tahrir Square, pusat ibukota Irak, di mana para pengunjuk rasa membawa salinan Al-Qur'an, spanduk, potret para pemimpin Islam, dan bendera Irak sebagai bentuk ekspresi perasaan mereka terhadap insiden tersebut.
Pada hari yang sama, pemerintah Irak juga memberikan reaksi tegas atas pembakaran Al-Qur'an di Swedia dengan mengusir duta besar Swedia dari negara mereka.
Selain itu, pemerintah juga mengancam akan memutuskan hubungan dan menghentikan izin operasi bagi perusahaan telekomunikasi Swedia, Ericsson.
Hal ini menunjukkan bahwa aksi pembakaran di Swedia telah menimbulkan dampak yang signifikan dan menjadi perhatian serius bagi pemerintah Irak.
Tak hanya di Irak, tetapi negara tetangga, Iran, juga menunjukkan sikap serupa dalam menanggapi insiden ini. Duta besar Swedia untuk Iran dipanggil ke Kementerian Luar Negeri dan diperingatkan mengenai kemungkinan konsekuensi lebih lanjut atas serangan terhadap kitab suci umat Islam.
Dengan reaksi yang kuat dari berbagai negara, aksi pembakaran Al-Qur'an di Swedia menjadi peristiwa yang mencatat tingginya sensitivitas dan penghormatan terhadap nilai-nilai agama serta perasaan umat Islam di seluruh dunia.
Ketegangan ini bermula pada akhir Juni, ketika sebuah Al-Qur'an dibakar di luar masjid utama di Stockholm, Swedia, pada hari pertama hari raya Idul Adha. Perdana Menteri Swedia, Ulf Kristersson, menyatakan bahwa aksi pembakaran tersebut sah, namun tidak pantas.
Namun, protes dan demonstrasi yang berlangsung di Irak menunjukkan bahwa kejadian tersebut mendapat respons berbeda di negara-negara lain, di mana keberadaan dan penghormatan terhadap kitab suci umat Islam menjadi isu yang sensitif dan mendalam.
Baca Juga; Pemerintah Menegaskan Pentingnya Investasi Pendidikan melalui Beasiswa LPDP
Aksi serupa pembakaran kitab suci umat Islam juga terjadi di Swedia pada bulan Januari, ketika politisi sayap kanan Denmark, Rasmus Paludan, membakar kitab suci di depan kedutaan Turki.
Pada bulan Juli, pihak berwenang Swedia juga telah mengeluarkan izin untuk aksi pembakaran kitab suci lagi, yang menambah kompleksitas dan kontroversi atas isu ini.
Dalam konteks global yang semakin terhubung, aksi-aksi seperti pembakaran kitab suci menimbulkan reaksi beragam dan perlu mendapat perhatian serius dari pihak berwenang dan masyarakat internasional.
Kehormatan dan penghormatan terhadap nilai-nilai agama dan keyakinan harus dijunjung tinggi untuk menjaga keharmonisan dan toleransi antarbangsa.
Selain itu, isu-isu yang sensitif seperti ini harus diatasi dengan bijaksana dan dialog untuk mencari solusi yang dapat membawa perdamaian dan pengertian di tengah perbedaan dan keragaman kepercayaan dan budaya. (*Ibs)
Baca Selengkapnya