Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Opini

Tampak Ramah, Tapi Frasa Ini Tunjukkan Niat Buruk

Psikologi komunikasi mengidentifikasi frasa-frasa berulang yang sering menandakan sifat manipulatif, pasif-agresif, atau kurang empati, meskipun tidak selalu menjadikan seseorang "buruk" secara mutlak.   Frasa Manipulatif Frasa seperti "Saya pantas dapat yang lebih baik" mencerminkan…

Psikologi komunikasi mengidentifikasi frasa-frasa berulang yang sering menandakan sifat manipulatif, pasif-agresif, atau kurang empati, meskipun tidak selalu menjadikan seseorang “buruk” secara mutlak.

 

Frasa Manipulatif

Frasa seperti “Saya pantas dapat yang lebih baik” mencerminkan rasa berhak berlebih dan kecenderungan menyalahkan orang lain atas kegagalan pribadi.

​

“Begitulah saya orangnya” menunjukkan penolakan untuk berkembang atau bertanggung jawab atas perubahan diri.

​

Frasa Pasif-Agresif

“Terserah kamu aja” terlihat netral tapi menyiratkan ketidakpuasan tersembunyi dan penarikan emosional.

​

“Tidak apa-apa, sungguh” sering menyembunyikan kemarahan atau kekecewaan tanpa ekspresi langsung.

​

Frasa Meremehkan

“Kamu tuh terlalu sensitif” membatalkan emosi orang lain, disebut emotional invalidation yang merusak hubungan.

​

“Santai aja” atau “Sudah, tidak usah dipikirkan” adalah toxic positivity yang menolak pengakuan emosi negatif.

​

Frasa Perbandingan

“Kamu tuh harusnya kayak …” melukai harga diri melalui perbandingan, memicu rasa iri atau defensif. Penggunaan berulang frasa-frasa ini mengindikasikan pola komunikasi tidak sehat menurut psikologi sosial.

 

Seka one

Penulis

Seka one

Penulis di Pewarta Nusantara.