Sebuah foto bayi yang baru lahir dengan rambut, kumis, dan jenggot yang tampak cukup tebal menjadi perbincangan di media sosial. Penampilan bayi tersebut menarik perhatian warganet karena terlihat berbeda dari gambaran bayi baru lahir pada umumnya.
Foto yang diunggah oleh akun media sosial Recehixxi itu memperlihatkan seorang bayi dengan rambut gelap yang terlihat cukup lebat. Bagian atas bibir dan dagunya juga tampak memiliki rambut halus yang membuat penampilannya seolah-olah memiliki kumis dan jenggot.

Unggahan tersebut memunculkan beragam reaksi. Sebagian warganet merasa penasaran dengan kondisi yang terlihat pada foto, sementara yang lain mempertanyakan apakah gambar tersebut benar-benar menampilkan bayi baru lahir atau telah mengalami penyuntingan menggunakan kecerdasan buatan (AI).
Dari sisi medis, bayi baru lahir memang dapat memiliki rambut yang cukup banyak. Salah satu kondisi yang berkaitan dengan rambut sejak dalam kandungan adalah lanugo, yaitu rambut halus dan lembut yang tumbuh untuk membantu melindungi kulit janin selama masa kehamilan.
Lanugo biasanya mulai tumbuh ketika janin berada dalam kandungan dan dapat berkurang menjelang kelahiran. Namun, sebagian bayi masih memiliki rambut halus tersebut ketika dilahirkan. Rambut ini dapat terlihat pada bagian punggung, bahu, dahi, atau area tubuh lainnya dan umumnya akan menghilang secara bertahap.

Meski demikian, lanugo berbeda dari rambut kumis atau jenggot yang tumbuh akibat pengaruh hormon androgen. Rambut wajah yang tampak gelap dan tebal pada bayi tidak dapat langsung dipastikan sebagai lanugo hanya berdasarkan foto. Penilaian medis memerlukan pemeriksaan langsung untuk mengetahui jenis rambut dan kemungkinan penyebabnya.
Pada masa bayi, pertumbuhan rambut juga dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk karakteristik individu dan perubahan hormon. Namun, pertumbuhan rambut wajah yang tampak sangat tebal atau tidak biasa perlu dinilai berdasarkan kondisi klinis, bukan hanya penampilan dalam gambar.
Foto yang beredar juga belum cukup untuk memastikan apakah bayi tersebut benar-benar memiliki kumis dan jenggot seperti yang terlihat. Sudut pengambilan gambar, pencahayaan, kualitas foto, penyuntingan digital, maupun penggunaan AI dapat memengaruhi tampilan visual. Karena itu, dugaan bahwa gambar tersebut merupakan hasil rekayasa juga belum dapat dipastikan tanpa pemeriksaan sumber aslinya.
Dalam unggahannya, akun Recehixxi mencantumkan NCBI Bookshelf sebagai rujukan mengenai lanugo. Meski demikian, sumber tersebut tidak dengan sendirinya memverifikasi keaslian foto bayi yang viral maupun menjelaskan penyebab pasti penampilan bayi dalam gambar.
Jika bayi benar-benar mengalami pertumbuhan rambut wajah yang tidak biasa, orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter anak untuk mendapatkan penilaian yang sesuai. Pemeriksaan dapat membantu membedakan variasi normal pertumbuhan rambut dari kondisi lain yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut.
Masyarakat juga diimbau untuk berhati-hati ketika membagikan foto bayi yang belum terverifikasi. Selain memastikan informasi yang disampaikan tidak menyesatkan, privasi dan martabat anak perlu tetap dijaga, terutama ketika foto menjadi bahan perbincangan luas di media sosial.
Hingga saat ini, berdasarkan informasi yang terlihat dalam unggahan tersebut, belum tersedia konfirmasi mengenai identitas bayi, kondisi medisnya, ataupun keaslian gambar yang beredar. Oleh sebab itu, penyebab penampilan bayi tersebut belum dapat ditentukan secara pasti.
Fenomena ini menunjukkan bahwa konten visual yang tidak biasa dapat dengan cepat menarik perhatian publik. Namun, penjelasan medis dan verifikasi sumber tetap diperlukan agar masyarakat dapat membedakan fakta kesehatan dari dugaan yang muncul di media sosial.