Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Opini

Ketika Iman Dipertanyakan: Kritik Sosial dan Religius dalam Cerpen Robohnya Surau Kami

1.Pengertian Teknik Skimming, Skimming adalah teknik membaca yang melibatkan membaca cepat untuk mendapatkan gambaran umum materi. Hal ini memungkinkan pembaca untuk memahami keseluruhan informasi yang terkandung dalam suatu bagian, meningkatkan pemahaman dan efisiensi dalam…

1.Pengertian Teknik Skimming, Skimming adalah teknik membaca yang melibatkan membaca cepat untuk mendapatkan gambaran umum materi. Hal ini memungkinkan pembaca untuk memahami keseluruhan informasi yang terkandung dalam suatu bagian, meningkatkan pemahaman dan efisiensi dalam tugas membaca.

Fokus Utama Skimming: judul teks, paragraf awal&akhir kata kunci yang berulang, pergeseran alur atau topik.

Alasan Menggunakan Teknik Skimming pada Cerpen Robohnya Surau Kami

Cerpen Robohnya Surau Kami memuat kritik sosial dan religius yang disampaikan melalui simbol dan alur bertahap. Dengan teknik skimming, pembaca dapat dengan cepat menangkap:

·        Tema utama kritik terhadap kesalehan ritualistik

·        Peran simbol surau dan tokoh Kakek

·        Arah pesan moral yang ingin disampaikan pengarang

2A. Identifikasi ide pokok pada setiap bagian teks

1.     Bagian Pembuka

Pada bagian awal, pengarang menggambarkan kondidi sebuah surau kecil yang telah tua,rusak dan hamper roboh. Surau tersebut dijaga oleh seorang Kakek yang hidup sebatang kara.

Ide pokok:

Surau sebagai pusat ibadah yang kehilangan fungsi sosialnya.

Kakek sebagai simbol individu yang mengabdikan hidupnya hanya untuk ibadah.

2.     Bagian pengembangan awal

Bagian ini menampilkan kehidupan sehari-hari Kakek yang sepenuhnya bergantung pada sedekah orang lain. Ia menghabiskan waktu untuk beribadah saja dan membersihkan surau, dan berdoa.

Ide pokok:

Pengabdian total Kakek pada ibadah tanpa usaha duniawi

Pemahaman agama yang pasif dan tidak produktif secara soaaial.

3.     Bagian pengembangan konflik

Konflik mulai muncul melalui cerita tentang Haji Saleh yang diceritakan oleh tokoh “aku”. Dalam cerita tersebut, Haji Saleh merasa yakin untuk masuk surga karena ia rajin beribadah.

Ide pokok:

Keyakinan bahwa ibadah ritual menjamin keselamatan akhirat

Munculnya kritik terhadap kesalehan individual yang egois.

4.     Bagian klimaks

Klimaks terjadi saat Tuhan menolak pembelaan Haji Saleh. Tuhan menyatakan bahwa manusia diberi akal dan sumber daya untuk mengelola dunia, bukan hanya berdoa dan pasrah.

Ide pokok:

Penolakan terhadap pemaham agama yang sempit

Penegawsan bahwa ibaadah harus seimbang dengan tanggung jawab social.

5.     Bagian penutup

Cerita ditutup dengan tragedy Kakek bunuh diri dan surau benar-benar roboh. Tidak ada lagi yang menjaga atau memakmurkannya.

Ide pokok:

Kehancuran surau sebagai symbol kehancuran nilai

Kegagalan memahami agama secsrs utuh membawa dampak tragis.

B. Informasi pendukung utama

1) Deskripsi surau yang tidak terawat dan sepi jamaah

2) Kehidupan Kakek yang miskin dan bergantung pada belas kasihan

3) Dialog antara Haji Saleh dan Tuhan

4) Sikap Tuhan yang menolak kesalehan tanpa kerja dan kepedulian

5) Bunuh diri Kakek sebagai dampak dari krisi pemahaman religious

C. Makna tersirat yang terkandung dalam teks

Analisis cerpen Robohnya Surau Kami menggunakan pendekatan strukturalisme dinamik yang dipadukan dengan teori semiotik, yaitu kajian yang menekankan simbol sebagai tanda bermakna berdasarkan konvensi sosial. Judul cerpen sudah menunjukkan simbol utama, yakni “surau”, yang melambangkan keimanan dan ketaqwaan manusia kepada Tuhan. Kata “roboh” tidak merujuk pada kerusakan fisik, melainkan runtuhnya nilai iman dan moral. Keruntuhan ini tercermin melalui tokoh Kakek, seorang garin yang sangat taat beribadah dan mengabdikan hidupnya untuk surau, namun imannya goyah setelah mendengar bualan Ajo Sidi. Luka batin yang dialaminya mendorong Kakek memilih bunuh diri, padahal tindakan tersebut dilarang dalam agama. Dengan demikian, cerpen ini memaknai robohnya surau sebagai simbol rapuhnya keimanan manusia yang gagal menyelesaikan masalah secara benar dan diridai Tuhan.

3A. Analisis struktur teks cerpen

Unsur Intrinsik

Tokoh utama cerpen “Robohnya Surau Kami” adalah Kakek, seorang penjaga surau yang taat beribadah, hidup sederhana, namun memiliki kondisi psikologis lemah dan mudah terpengaruh omongan orang. Selain Kakek, terdapat tokoh Aku yang berpihak dan berperan sebagai pencerita. Tokoh lain adalah Ajo Sidi, tokoh antagonis yang pandai membual dan kurang peduli, sehingga bualannya menyebabkan Kakek bunuh diri. Haji Saleh hadir sebagai tokoh simbolik dalam bualan Ajo Sidi yang merepresentasikan nasib Kakek di hadapan Tuhan.

Alur cerpen menggunakan alur campuran, dimulai dari gambaran desa dan surau, berlanjut pada kemurungan Kakek, lalu bergerak mundur menjelaskan bualan Ajo Sidi, dan diakhiri dengan kematian Kakek.

Sudut pandang yang digunakan adalah orang pertama pelaku sampingan, dengan tokoh Aku sebagai penyampai cerita.

B. Gaya bahasa

Contoh gaya bahasa yang digunakan Navis dalam cerpen ini:”Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak di jaga lagi.”

Kutipan  ini  menggunakan  gaya  bahasa  yang  lugas,  sebagai  sarana  untuk  menyuarakan kritik terhadap sikap apatis masyarakat. Navis tampak menyatakan kritik terhadap sikap apatis masyarakat dengan ungkapan yang secara harfiah menyebut “tak hendak memelihara apa yang tidak dijaga.” Pada permukaannya kalimat itu tampak netral, bahkan bisa dibaca sebagai pernyataan logis, tetapi yang tersirat adalah sindiran bahwa  masyarakat  mengabaikan  atau  membiarkan  hal-hal  penting  hancur  karena  ketidakpedulian. Kontras antara “ketaatan beribadah” dan “kelalaian terhadap tanggung jawab sosial” memberi kesan ironi: secara religius seseorang “taat,” tetapi secara sosial melalaikan tugas manusiawi. Navis menghadirkan ironi untuk menegaskan pertentangan antara ketaatan dalam beribadah (yang direpresentasikan oleh tokoh Kakek) dengan pengabaian terhadap kewajiban sosial, yang berujung pada konsekuensi serius. Melalui narasi di atas, Navis mengajak pembaca untuk merenung tentang makna sejati dari pengabdian dan iman.

C. Tujuan penulis

Pengarang yang dikenal sebagai “sang pencemooh” merupakan sosok yang kritis, kreatif, dan berpikiran jauh ke depan, hal ini tercermin dalam karya fenomenalnya Robohnya Surau Kami. Cerpen ini menggugat pemahaman umum tentang keimanan yang menganggap ibadah ritual seperti shalat dan haji secara otomatis menjamin surga. Melalui cerita tersebut, pengarang menunjukkan bahwa keimanan yang hanya berorientasi pada akhirat justru dapat menjerumuskan manusia apabila tanggung jawab duniawi, seperti keluarga dan kehidupan sosial, diabaikan. Dari sisi psikologis, karya ini berupaya memengaruhi dan memperbaiki pola pikir pembaca agar memahami bahwa ibadah tidak hanya terbatas pada ritual, tetapi juga mencakup kewajiban sosial seperti menafkahi keluarga dan menjalani kehidupan secara seimbang.

D. Evaluasi kualitas argumen dan relevanasi akademik

1) Kualitas argumen

Argumen disampaikan secara implisit namun kuat

Tidak bersifat menggurui, tetapi reflektif

Didukung alur cerita dan simbol yang konsisten

2) Relevansi dalam konteks akademik

Cerpen ini sangat relevan untuk kajian, sosiologi sastra,kritik sosial budaya, studi agama dan humanisme, keterampilan membaca kritis

 

Kesimpulan

Dari  hasil tersebut  dapat disimpulkan  bahwa  terdapat  nilai  sosiologi sastra dalam cerpen “Robohnya Surau Kami”. Peneliti   menemukan   gambaran   bagaimana manusia seharusnya hidup.Melalui pendekatan sosiologi   sastra,   cerpen “Robohnya Surau kami” karya  A.A.  Navis  dapat  dipahami sebagai kritik sosial yang sangat tajam terhadap realitas    masyarakat    Indonesia,    khususnya dalam hal keberagamaan dan tanggung jawab sosial.  Cerpen  ini  tidak  hanya  menawarkan kisah tentang tokoh-tokoh tertentu, melainkan menjadi   cerminan   dari   konstruksi   sosial masyarakat   yang   berkembang   pada   masa pasca-kemerdekaan,  ketika  bangsa  Indonesia sedang menghadapi berbagai tantangan pembangunan,  kemiskinan,  dan  kemunduran nilai-nilai sosial.Melalui tokoh-tokohnya, konflik yang dihadirkan, dan simbolisme surau yang roboh, cerpen    ini    menggugah    pembaca    untuk merefleksikan nilai-nilai sosial yang selama ini dibungkus  dengan  jubah  religiusitas  semu. Pendekatan sosiologi sastra membuka ruang bagi   pembacaan   yang   lebih   kritis   dan kontekstual,   bahwa   sastra   bukan   sekadar hiburan  atau  keindahan  bahasa,  tetapi  juga cermin  dan  kritik  tajam  terhadap  realitas kehidupan sosial.

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Fatmawan, A. R., Dewi, N. P. Y. A., & Hita, I. P. A. D. (2023). Skimming and scanning technique: is it effective for improving indonesian students’ reading comprehension? Edusaintek.

Andini, H. (2021). ANALISIS STRUKTURALISME DINAMIK PADA CERPEN “ROBOHNYA SURAU KAMI” KARYA AA NAVIS. NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan, 2(2), 157-168.

Hadi, M. H., & Murtafi’ah, W. (2025). ANALISIS CERPEN” ROBOHNYA SURAU KAMI” KARYA AA NAVIS: PENDEKATAN SOSIOLOGI SASTRA. BEGIBUNG: Jurnal Penelitian Multidisiplin, 3(4), 27-35.

Kulsum, D. U., Widyatwati, K., & Suryadi, M. (2025). KRITIK SOSIAL PRAKTIK KEAGAMAAN DALAM CERPEN” ROBOHNYA SURAU KAMI”: KAJIAN STRUKTURALISME GENETIK. Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 21(2), 566-580.

Nugraha, A. S. (2022). ANALISIS UNSUR INTRINSIK CERPEN” ROBOHNYA SURAU KAMI” KARYA AHMAD ALI NAVIS. Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra), 7(2), 229-236.

 

Tag:
tiara dyuti a

Penulis

tiara dyuti a

Penulis di Pewarta Nusantara.