Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Unik! Di Ghana, Peti Mati Bisa Dibuat Menyerupai Profesi dan Hobi Orang yang Meninggal

Ghana memiliki tradisi peti mati unik bernama fantasy coffins yang dibuat menyerupai profesi, hobi, atau impian orang yang meninggal. Tradisi masyarakat Ga ini memadukan seni pertukangan dengan penghormatan terhadap perjalanan hidup almarhum.

Ghana memiliki tradisi pemakaman yang unik, yaitu penggunaan peti mati dengan bentuk yang dirancang khusus sesuai profesi, hobi, atau hal-hal yang dianggap penting dalam kehidupan orang yang meninggal. Berbeda dari peti mati konvensional yang umumnya berbentuk persegi panjang, peti mati di sejumlah komunitas Ghana dapat dibuat menyerupai benda tertentu, mulai dari ikan raksasa hingga pesawat terbang.

Tradisi ini dikenal melalui praktik pembuatan peti mati figuratif atau *fantasy coffins*. Bentuknya tidak sekadar menjadi wadah jenazah, tetapi juga merepresentasikan perjalanan hidup, identitas, cita-cita, dan status sosial seseorang. Karena itu, setiap desain dapat memiliki makna tersendiri bagi keluarga yang ditinggalkan.

Tradisi ini dikenal dengan sebutan fantasy coffins atau peti mati fantasi, yang dalam bahasa masyarakat Ga disebut abebuu adekai. Tradisi tersebut berkembang di kalangan masyarakat Ga, terutama di kawasan pesisir Teshie dan sekitar Accra, ibu kota Ghana. Para pengrajin membuat peti mati dengan bentuk yang disesuaikan dengan pekerjaan, karakter, atau impian orang yang meninggal.

Misalnya, seorang nelayan dapat dimakamkan menggunakan peti berbentuk ikan atau perahu, sedangkan pilot bisa memiliki peti berbentuk pesawat. Petani dapat menggunakan desain yang menyerupai hasil pertanian, sementara orang yang memiliki kecintaan terhadap kendaraan atau benda tertentu dapat memilih bentuk yang mencerminkan kegemarannya. Setiap desain dibuat dengan detail dan warna yang khas sehingga menyerupai benda aslinya.

Pembuatan peti mati tersebut membutuhkan keterampilan pertukangan dan seni yang tinggi. Pengrajin terlebih dahulu membentuk rangka dari kayu, kemudian memahat detail, menyusun bagian-bagian, dan mengecatnya agar menyerupai objek yang diinginkan. Tingkat kerumitan desain menentukan waktu pengerjaan, yang bisa berlangsung selama beberapa minggu atau lebih untuk pesanan khusus.

Salah satu tokoh yang dikenal dalam perkembangan tradisi ini adalah Seth Kane Kwei, pengrajin yang memopulerkan peti mati figuratif pada sekitar 1950-an. Sejak itu, keterampilan tersebut diteruskan oleh sejumlah pengrajin dan keluarga mereka, menjadikannya bagian dari warisan seni dan budaya setempat. Karya-karya mereka bahkan menarik perhatian internasional dan dipamerkan di berbagai galeri maupun museum.

Bagi sebagian masyarakat yang menjalankan tradisi ini, pemakaman bukan hanya momen untuk berduka, tetapi juga kesempatan untuk mengenang perjalanan hidup orang yang telah meninggal. Peti mati dengan desain khusus menjadi simbol penghormatan terhadap identitas dan pencapaian almarhum. Meski bentuknya terlihat tidak biasa bagi orang dari budaya lain, maknanya berakar pada cara keluarga mengenang kehidupan orang yang mereka cintai.

Tradisi ini juga menunjukkan bagaimana seni dapat hadir dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk ritual kematian. Peti mati tidak lagi hanya dipandang sebagai benda untuk mengantarkan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir, tetapi juga sebagai karya yang menyampaikan cerita tentang orang yang meninggal. Namun, praktik ini terutama berkaitan dengan komunitas Ga di Ghana dan tidak mewakili seluruh tradisi pemakaman masyarakat Ghana.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.