Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Trump Gebuk Indonesia: Tarif Impor Panel Surya RI Capai 104%, Eksportir Panik!

Departemen Perdagangan AS (DOC) pada tanggal 24 Februari 2026 menetapkan tarif impor sementara (countervailing tariff) sebesar 104,38% untuk sel dan panel surya dari Indonesia, sebagai tanggapan terhadap dugaan subsidi pemerintah yang dianggap merugikan produsen…

Departemen Perdagangan AS (DOC) pada tanggal 24 Februari 2026 menetapkan tarif impor sementara (countervailing tariff) sebesar 104,38% untuk sel dan panel surya dari Indonesia, sebagai tanggapan terhadap dugaan subsidi pemerintah yang dianggap merugikan produsen domestik AS.

Kebijakan ini juga menargetkan India (125,87%) dan Laos (80,67%), melanjutkan proteksionisme Trump terhadap impor surya Asia Tenggara setelah kasus serupa di Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Kamboja.

Pemerintahan Trump menilai subsidi fiskal dan non-fiskal di Indonesia membuat panel surya lokal murah secara tidak wajar, mengganggu daya saing pabrik AS yang kesulitan bersaing dengan biaya produksi lebih tinggi. Tarif ini bersifat sementara sambil investigasi final, dengan perusahaan Indonesia menunggu seperti PT Blue Sky Solar kena 143,3% dan PT REC Solar Energy 85,99% secara individu. Langkah ini bagian dari agenda “America First” pasca-reeleksi 2024, yang prioritas lindungi lapangan kerja manufaktur hijau domestik di tengah transisi energi global.

Ekspor panel surya Indonesia ke AS, bernilai miliaran dolar pada tahun 2025, terancam dan drastis seperti negara tetangga yang impornya turun 50-70% pasca-tarif serupa. Ekspor panik karena pasar AS memberikan dua pertiga impor surya mereka, memaksa melakukan diversifikasi ke Eropa atau ASEAN meskipun biaya logistik lebih tinggi. Kadin dan Asosiasi Panel Surya Indonesia (SuryA) khawatir PHK massal di pabrik seperti di Batam dan Jawa Barat, ditambah potensi perlawanan di WTO jika tarif final dikonfirmasi Juni 2026.

Indonesia bagian dari rantai pasok China yang pindah ke ASEAN untuk menghindari tarif AS sebelumnya, tapi kini ikut kena sasaran karena tuduhan “pengalihan produksi”. Trump ancam eskalasi lebih luas jika negara berkembang tidak mematuhi aturan perdagangan bebas, berpotensi memicu inflasi energi surya di AS tetapi menguntungkan produsen lokal seperti First Solar. Pemerintah RI menyiapkan respons inovatif melalui Kemendag dan negosiasi bilateral, sambil mendorong insentif ekspor ke pasar alternatif.

Seka one

Penulis

Seka one

Penulis di Pewarta Nusantara.