Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Tren “Downgrade” Ramai di Media Sosial, Konsumen Mulai Memilih Barang yang Lebih Terjangkau

Istilah “downgrade” atau downtrading ramai di media sosial seiring perubahan pola konsumsi masyarakat Indonesia. Konsumen mulai lebih selektif dalam memilih kendaraan, merek dan barang kebutuhan, dengan mempertimbangkan harga, kualitas, serta kemampuan anggaran.

Istilah downgrade atau downtrading belakangan ramai diperbincangkan di media sosial Indonesia. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan perubahan pilihan konsumsi ketika seseorang mulai beralih dari barang atau layanan dengan harga lebih tinggi ke pilihan yang lebih terjangkau.

Percakapan di media sosial muncul dalam berbagai bentuk. Ada pengguna yang menceritakan perubahan pilihan kendaraan, dari mobil di kelas menengah ke mobil yang lebih murah dan hemat bahan bakar. Ada pula yang membagikan pengalaman mengganti merek kebutuhan sehari-hari, memilih tempat makan yang lebih terjangkau, hingga mengurangi pembelian barang yang tidak dianggap sebagai kebutuhan utama.

Fenomena tersebut berlangsung ketika sebagian rumah tangga menghadapi tekanan terhadap daya beli. Bank Indonesia dalam Survei Penjualan Eceran Agustus 2026 memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 0,5 persen secara tahunan. Pada Juli 2026, pertumbuhan tahunan tercatat 1,1 persen setelah pada Juni mengalami kontraksi 3 persen secara tahunan. Data tersebut menunjukkan aktivitas konsumsi ritel tetap berjalan, tetapi pertumbuhannya relatif terbatas.

Perubahan pola belanja juga dilaporkan pelaku usaha ritel. Katadata pada Juni 2026 mengutip keterangan pelaku industri yang melihat konsumen semakin memprioritaskan kebutuhan pokok dan mengurangi pembelian barang non-esensial. Perubahan tersebut antara lain terlihat dari nilai belanja yang lebih kecil dalam satu kali kunjungan serta meningkatnya perhatian terhadap harga.

Fenomena serupa terlihat dalam konsumsi produk kebutuhan sehari-hari. Bloomberg Technoz melaporkan pada Juli 2026 bahwa kenaikan harga sejumlah produk membuat konsumen lebih selektif dan mendorong sebagian pembeli beralih ke merek dengan harga lebih rendah. Pergeseran tersebut tidak selalu berarti konsumen berhenti membeli, tetapi mengubah produk yang dipilih agar sesuai dengan anggaran.

Perubahan pilihan tersebut juga terlihat pada pasar kendaraan. Data Gaikindo yang dikutip Katadata menunjukkan penjualan wholesales mobil LCGC mencapai 9.675 unit pada Agustus 2026. LCGC merupakan segmen kendaraan yang dikenal menawarkan harga relatif terjangkau dan efisiensi bahan bakar. Angka tersebut menunjukkan segmen kendaraan berbiaya lebih rendah tetap memiliki pasar di tengah perubahan pola konsumsi.

Namun, meningkatnya pembelian produk yang lebih murah tidak secara otomatis berarti seluruh masyarakat mengalami penurunan kondisi ekonomi. Konsumen dapat melakukan pergantian produk karena berbagai alasan, termasuk kebutuhan menghemat pengeluaran, perubahan prioritas, pertimbangan harga, atau mencari nilai yang dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan.

Sejumlah analisis ekonomi juga melihat adanya perubahan struktur konsumsi kelas menengah. Krungsri Research mencatat bahwa jumlah penduduk kelas menengah Indonesia turun dari 59,5 juta pada 2018 menjadi 47,9 juta pada 2024. Analisis tersebut juga menyebut adanya perubahan komposisi pengeluaran, dengan sebagian konsumsi barang dan jasa bernilai tinggi bergeser menuju kebutuhan pokok dan produk berbiaya lebih rendah.

Di sisi lain, penelitian Katadata Insight Center menunjukkan bahwa pertimbangan konsumen tidak hanya berkaitan dengan harga murah. Survei KIC pada kuartal IV 2025 hingga kuartal I 2026 menunjukkan kualitas produk juga menjadi salah satu pertimbangan utama kelas menengah ketika berbelanja. Artinya, konsumen dapat memilih produk yang lebih murah, tetapi tetap mempertimbangkan kualitas dan manfaat yang diperoleh.

Istilah downtrade yang muncul di media sosial kemudian menjadi cara populer untuk menggambarkan perubahan tersebut. Dari pilihan kendaraan, merek kebutuhan sehari-hari, tempat makan, hingga barang elektronik, konsumen memperlihatkan cara berbeda dalam menyesuaikan pengeluaran dengan kondisi keuangan masing-masing.

Perubahan pola konsumsi itu berjalan bersamaan dengan tetap tumbuhnya aktivitas perdagangan dan belanja masyarakat. Data Bank Indonesia menunjukkan penjualan ritel masih mencatat pertumbuhan tahunan pada pertengahan 2026, sementara pola belanja konsumen mengalami penyesuaian berdasarkan kebutuhan, harga, dan kemampuan pengeluaran.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.