Rabu, 28 Oktober 2026
Masuk
Berita

Tekanan Ekonomi Makin Terasa, Masyarakat Masuk Mode Bertahan dan Daya Beli Terancam

Tekanan ekonomi membuat masyarakat semakin selektif mengatur pengeluaran. Data Kemnaker mencatat 53.490 pekerja terdampak PHK sepanjang Januari–Agustus 2026. Di tengah kondisi tersebut, daya beli dan kepastian pekerjaan menjadi perhatian penting menjelang akhir tahun.

Keluhan mengenai kondisi ekonomi yang semakin berat ramai disuarakan masyarakat menjelang akhir 2026. Banyak pelaku usaha, pekerja lepas, karyawan, hingga investor mengaku harus lebih berhati-hati dalam mengatur keuangan. Situasi ini membuat sebagian masyarakat merasa sedang berada dalam “survival mode”, yakni memprioritaskan kebutuhan pokok dan menekan pengeluaran yang tidak mendesak.

Tekanan ekonomi bahkan dinilai sebagian orang lebih terasa dibandingkan masa pandemi Covid-19. Keluhan tersebut muncul di tengah kekhawatiran terhadap kondisi pekerjaan, pendapatan, harga kebutuhan, serta ketidakpastian usaha.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah pemutusan hubungan kerja (PHK). Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan yang dikutip dalam unggahan tersebut, sebanyak 43.805 pekerja tercatat mengalami PHK sepanjang Januari hingga Juli 2026. Angka itu menggambarkan adanya pekerja yang kehilangan pekerjaan, meskipun belum mencakup keseluruhan dampak PHK yang mungkin terjadi secara nasional.

Di sisi lain, persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi juga disebut kembali melemah pada September 2026. Ketika masyarakat merasa kondisi keuangan belum cukup aman, pengeluaran cenderung diprioritaskan untuk kebutuhan utama. Belanja sekunder dan konsumsi yang tidak mendesak pun berpotensi ditunda.

Kondisi tersebut dapat menjadi tantangan bagi pelaku usaha. Jika konsumen semakin selektif berbelanja, penjualan sejumlah sektor berpotensi tertekan. Pelaku usaha juga harus menyesuaikan strategi agar tetap bertahan di tengah perubahan daya beli masyarakat.

Meski demikian, gambaran ekonomi nasional tidak bisa disimpulkan hanya dari keluhan di media sosial. Data ketenagakerjaan, inflasi, pertumbuhan ekonomi, pendapatan rumah tangga, dan indikator kepercayaan konsumen perlu dibaca secara bersamaan untuk memahami kondisi secara lebih utuh.

Bagi masyarakat, situasi ini menjadi pengingat pentingnya mengelola pengeluaran, memprioritaskan kebutuhan pokok, serta menyiapkan dana darurat sesuai kemampuan. Sementara itu, perkembangan lapangan kerja dan daya beli akan menjadi faktor penting untuk melihat apakah tekanan ekonomi menjelang akhir tahun semakin berat atau mulai mereda.

Perlu dicatat, data terbaru menunjukkan angka PHK Januari–Agustus 2026 telah mencapai 53.490 orang, bukan hanya 43.805 orang pada periode Januari–Juli. Angka ini mengacu pada pekerja yang tercatat dalam sistem Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP).

Selain itu, survei Bank Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen September 2026 masih berada di zona optimistis, yaitu 118,1. Namun, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini turun dari 109,4 menjadi 107,5. Jadi, lebih akurat jika disebut ada pelemahan pada penilaian terhadap kondisi ekonomi saat ini, bukan bahwa keyakinan konsumen secara keseluruhan telah jatuh ke zona pesimistis.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.