Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Saking Tertibnya, Budaya Jepang ini Bikin Warga Negara Lain Melongo

Sejumlah kebiasaan di ruang publik Jepang dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap kenyamanan bersama, mulai dari tidak menelepon di kereta hingga menunggu di zebra cross.

Narasi tentang Jepang sebagai negara yang serba “nggak” merujuk pada sejumlah kebiasaan di ruang publik yang membatasi tindakan tertentu. Larangan menelepon di kereta, makan sambil berjalan, dan menyeberang sembarangan disebut sebagai bagian dari tata krama sehari-hari.

NGGAK ADA TIP.
Ngasih tip bukan hal yang umum di sini. Pelayanan bagus itu udah kewajiban. Bukan buat dihargai.
NGGAK BOLEH TELPON DI KERETA.
Nelpon di transportasi umum? Jangan banget. Diam itu bentuk hormat.
NGGAK BOLEH MAKAN SAMBIL JALAN.
Makan sambil jalan itu dianggap berantakan. Berhenti. Duduk. Makan yang bener.

Aturan tersebut tidak selalu berbentuk larangan hukum. Sebagian lebih tepat dipahami sebagai norma sosial yang mengatur cara seseorang menggunakan ruang bersama. Tujuannya, menurut narasi yang beredar, adalah menjaga ketenangan, kebersihan, dan kenyamanan orang lain.

NGGAK BANYAK TEMPAT SAMPAH.
Tapi sampah nggak ada di mana-mana. Justru salah satu negara paling bersih di dunia.
NGGAK BOLEH PACARAN DI DEPAN UMUM.
Ciuman. Pelukan. Suara keras. Semua dianggap nggak sopan di ruang publik.

Contoh yang disebut antara lain kebiasaan menjaga keheningan di transportasi umum, tidak makan sambil berjalan, serta menunggu di zebra cross meski jalan sedang kosong. Di rumah, kuil, dan penginapan, sepatu juga dilepas sebelum memasuki ruangan.

NGGAK BOLEH NYEBRANG SEMBARANGAN.
Orang-orang nunggu di zebra cross. Walaupun jalannya lagi kosong.
NGGAK BOLEH PAKAI SEPATU DI DALAM RUANGAN.
Di rumah, kuil, dan penginapan, sepatu dilepas di pintu masuk.

Ada pula kebiasaan lain yang digambarkan sebagai bagian dari etika publik, seperti tidak berbicara di lift, tidak melakukan kemesraan secara berlebihan di ruang umum, dan tidak mengandalkan tip sebagai bentuk penghargaan atas pelayanan. Gambaran ini menekankan bahwa disiplin dipahami sebagai cara menghormati batas orang lain.

NGGAK BOLEH NGOMONG DI LIFT.
Bahkan teman pun diem aja. Diam itu hal yang biasa.

Namun, penerapan kebiasaan tersebut dapat berbeda menurut tempat, situasi, dan jenis ruang publiknya. Karena itu, daftar “yang tidak boleh dilakukan” lebih tepat dibaca sebagai gambaran norma sosial Jepang, bukan sebagai satu aturan nasional yang berlaku seragam untuk setiap keadaan.

Sumber: Instagram
Erniyati Khalida

Penulis

Erniyati Khalida

Penulis tetap di Pewarta Nusantara ( pewartanusantara.com ). Konten spesial Budaya Nusantara.