Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Mushaf Raksasa Wonosobo: Zikir dalam Goresan Pena

Tradisi penulisan Mushaf Alquran raksasa secara tangan di Wonosobo, Jawa Tengah, memang terus hidup sebagai bentuk pengabdian spiritual yang penuh ketekunan, meski dilakukan dalam kesunyian jauh dari hiruk-pikuk modernitas. ​ Tradisi ini bermula pada…

Tradisi penulisan Mushaf Alquran raksasa secara tangan di Wonosobo, Jawa Tengah, memang terus hidup sebagai bentuk pengabdian spiritual yang penuh ketekunan, meski dilakukan dalam kesunyian jauh dari hiruk-pikuk modernitas.

​

Tradisi ini bermula pada 1991 atas arahan KH Muntaha al-Hafidz, pendiri Universitas Sains Alquran (UNSIQ) di Kalibeber, Wonosobo, ketika santri H. Hayatuddin ditugaskan menulis mushaf pertama berukuran 150×200 cm per halaman (2×3 m jika dibuka). Sejak itu, Hayatuddin—alumni UNSIQ—telah menghasilkan hingga 13 mushaf raksasa tanpa alat cetak, menggunakan kertas manila tebal dari Kudus (255-300 kg per mushaf), tinta khusus dari Banjarnegara, dan pena kaligrafi, dengan proses sketsa pensil diikuti goresan tinta hitam khat naskhi yang dihiasi iluminasi sederhana. Satu mushaf rampung membutuhkan 1-3 tahun (rata-rata 17-30 bulan), berat 165-300 kg, dan sampul kayu jati berpenguat besi tahan karat, sehingga butuh 6-8 orang untuk mengangkatnya.

 

Hayatuddin bekerja minimal 6 jam sehari di lantai atas gedung pascasarjana UNSIQ, mengukir 605 halaman 30 juz dengan teliti, lalu ditashih (dicek) ulang oleh para hafidz untuk akurasi bacaan dan tajwid sebelum diwakafkan. Biaya produksi per mushaf mencapai Rp300 juta, tapi mushaf tidak dijual—sebagian besar diwakafkan gratis ke masjid besar atau dikirim ke luar negeri sebagai hadiah kenegaraan. Proses ini menjaga warisan tradisional di era percetakan digital, di mana setiap goresan pena menjadi ibadah zikir dan pengorbanan, sering diselingi puasa Senin-Kamis untuk menjaga kekuatan spiritual.

​

Mushaf-mushaf ini tersebar luas: yang pertama ke Presiden Soeharto (kini di Bina Graha), lalu ke TMII Jakarta, Islamic Center Jakarta, Masjid Agung Semarang, Makassar, Bahrain, Singapura, dan Brunei Darussalam (hadiah ulang tahun Sultan Hassanal Bolkiah 2006, selesai 8 bulan). Koleksi ini tak hanya jadi pusaka masjid, tapi juga daya tarik wisata religi, mengundang kekaguman mancanegara atas keteladanan Wonosobo dalam melestarikan seni kaligrafi manual. Tradisi ini mengajarkan nilai ketabahan: di tengah dataran tinggi yang sepi, pengabdian sunyi ini terus menyala, membuktikan Alquran tetap hidup lewat tangan manusia yang ikhlas.

Seka one

Penulis

Seka one

Penulis di Pewarta Nusantara.