Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Menurut Studi: Membuat Resolusi di Akhir Tahun Selalu Kandas di Awal Tahun

Banyak Resolusi Tahun Baru Kandas Sejak Januari, Studi Ungkap Tantangannya   JAKARTA — Resolusi Tahun Baru kerap menjadi tradisi tahunan yang dinanti, namun kenyataannya banyak rencana tersebut gagal diwujudkan. Sejumlah studi menunjukkan sebagian besar…

Banyak Resolusi Tahun Baru Kandas Sejak Januari, Studi Ungkap Tantangannya

 

JAKARTA — Resolusi Tahun Baru kerap menjadi tradisi tahunan yang dinanti, namun kenyataannya banyak rencana tersebut gagal diwujudkan. Sejumlah studi menunjukkan sebagian besar resolusi hanya bertahan dalam hitungan minggu, bahkan hari, sebelum akhirnya ditinggalkan.

 

Riset yang dilakukan Drive Research mencatat, sekitar 23 persen orang dewasa menyerah pada resolusi mereka di hari yang dikenal sebagai Quitter’s Day, yakni Jumat kedua di bulan Januari. Angka kegagalan itu meningkat menjadi 43 persen pada akhir Januari, dan mencapai 92 persen hingga penghujung tahun. Data tersebut menegaskan betapa sulitnya mempertahankan komitmen jangka panjang di tengah rutinitas dan distraksi kehidupan sehari-hari.

 

Penyebab Resolusi Mudah Gagal

 

Sejumlah penelitian psikologi, termasuk dari University of Scranton, mengidentifikasi beberapa faktor utama yang membuat resolusi Tahun Baru mudah kandas.

 

Salah satunya adalah penetapan target yang terlalu ambisius. Banyak orang menetapkan tujuan besar, seperti menurunkan berat badan dalam jumlah signifikan dalam waktu singkat, tanpa disertai rencana bertahap yang realistis. Kondisi ini kerap memicu frustrasi dan kelelahan mental.

 

Faktor lain adalah resolusi yang tidak spesifik. Target umum seperti “ingin lebih sehat” atau “lebih sering olahraga” cenderung sulit diukur dan dievaluasi dibandingkan resolusi yang jelas dan terukur. Selain itu, ketiadaan sistem akuntabilitas—baik melalui teman, komunitas, maupun aplikasi pelacak kebiasaan—membuat motivasi cepat menurun.

 

Fenomena yang dikenal sebagai efek “yo-yo” juga berperan. Semangat tinggi di awal Januari sering kali meredup ketika memasuki Februari, dipengaruhi tekanan pekerjaan, cuaca, atau kembalinya rutinitas lama.

 

Strategi Agar Resolusi Lebih Bertahan

 

Para ahli menyarankan pendekatan yang lebih realistis agar resolusi dapat bertahan lebih lama. Salah satunya adalah metode SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound), yang menekankan kejelasan dan keterukuran tujuan.

 

Penulis buku Atomic Habits, James Clear, menekankan pentingnya memulai dari kebiasaan kecil. Alih-alih menetapkan target besar seperti berolahraga setiap hari di pusat kebugaran, kebiasaan mikro seperti melakukan beberapa menit latihan ringan dinilai lebih efektif dalam membangun konsistensi.

 

Pelacakan progres juga dianggap krusial. Visualisasi pencapaian melalui aplikasi atau catatan sederhana dapat meningkatkan motivasi. Selain itu, mengaitkan resolusi dengan rutinitas yang sudah ada serta menyiapkan rencana cadangan saat hambatan muncul dapat membantu menjaga keberlanjutan komitmen.

 

Evaluasi rutin, misalnya mingguan, juga dianjurkan agar resolusi dapat disesuaikan dengan kondisi nyata dan tidak berhenti di tengah jalan.

 

Peluang Keberhasilan Lebih Besar

 

Pendekatan yang lebih terstruktur dan realistis disebut mampu meningkatkan peluang keberhasilan resolusi hingga 40–50 persen, berdasarkan sejumlah studi perilaku. Resolusi yang dikaitkan dengan minat personal, seperti olahraga atau kepedulian lingkungan, juga dinilai lebih mudah dipertahankan karena memiliki makna yang lebih dalam bagi pelakunya.

 

Dengan strategi yang tepat, resolusi Tahun Baru tidak sekadar menjadi ritual awal tahun, tetapi dapat berkembang menjadi kebiasaan berkelanjutan sepanjang 2026.

 

 

Pole Vox

Penulis

Pole Vox

Penulis di Pewarta Nusantara.