Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Mengajar di Tengah Keterbatasan, Guru di Manggarai Barat Tetap Mendampingi Murid

Keterbatasan ruang belajar masih menjadi tantangan pendidikan di sejumlah wilayah NTT, termasuk Manggarai Barat. Pemerintah menjalankan program revitalisasi sekolah untuk menambah ruang kelas dan memperbaiki fasilitas pendidikan.

Kondisi sarana pendidikan di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur masih menjadi perhatian, termasuk di Kabupaten Manggarai Barat. Keterbatasan ruang belajar menjadi salah satu persoalan yang harus dihadapi sekolah, sementara kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung.

Salah satu gambaran mengenai kondisi tersebut kembali muncul melalui unggahan di media sosial yang menampilkan suasana belajar di sebuah ruang kelas sederhana. Unggahan itu menyebut sosok guru bernama Monika yang tetap mengajar di tengah keterbatasan fasilitas sekolah.

Saat kemarau panjang, lantai tanah mengering hingga retak terbelah. Mereka harus berjalan sangat hati-hati di dalam kelas agar kakinya tidak terperosok ke dalam lubang tanah.

Di balik cerita tersebut, persoalan keterbatasan ruang kelas memang tercatat dalam data dan kebijakan pemerintah di Manggarai Barat. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pada April 2026 menetapkan SD Negeri Tando, Kabupaten Manggarai Barat, sebagai salah satu sekolah yang mendapat prioritas Program Revitalisasi Satuan Pendidikan untuk mengatasi kekurangan ruang kelas.

Hingga Suatu Hari, Kelas Itu Berubah. SDN Wongkol Torok kini memiliki ruang belajar yang jauh lebih layak dan nyaman. Bu Guru Monika dan murid-murid dapat belajar di gedung yang kokoh, rapi, dan nyaman, melalui program revitalisasi sekolah.

Revitalisasi di SD Negeri Tando mencakup pembangunan empat ruang kelas baru beserta peralatannya. Selain itu, pemerintah merencanakan pembangunan ruang UKS, perpustakaan, ruang administrasi, serta satu unit toilet lengkap dengan fasilitas sanitasi. Pekerjaan fisik ditargetkan mulai pada Mei 2026 setelah proses verifikasi, penandatanganan kerja sama, dan penyaluran bantuan dilakukan.

Selama bertahun-tahun, Bu Monika mengaja mengajar di SD Negeri Wongkol Torok, NTT, di dalam d kelas berbilik bambu kelas berbi dan berlantai tanah. Saat hujan, air langsung masuk. Bu Monika dan murid-murid terpaksa lepas alas kaki agar tetap bisa belajar.

Kepala SD Negeri Tando, Fransiskus Jenala, sebelumnya menjelaskan bahwa sekolah masih menghadapi keterbatasan ruang belajar dan sarana pendukung. Sekolah berharap tambahan ruang kelas serta fasilitas lainnya dapat membuat kegiatan pendidikan berlangsung lebih baik.

Persoalan fasilitas pendidikan di Manggarai Barat juga berlangsung dalam konteks yang lebih luas. Pada Agustus 2026, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 di Laut Flores berdampak pada sarana pendidikan di sejumlah wilayah Flores, termasuk Manggarai Barat. Kemendikdasmen mencatat sebanyak 253 satuan pendidikan di tujuh kabupaten terdampak berdasarkan pendataan per 16 Agustus 2026.

Kini Bu Monika dan guru-guru bisa mengajar dengan tenang. Murid-murid pun makin antusias belajar tanpa takut atap bocor atau kaki kotor karena lumpu. Sebab ada banyak harapan, mimpi dan cita-cita anak-anak di Indonesia yang perlu diperjuangkan.

Pemerintah kemudian menyiapkan sejumlah langkah pemulihan, termasuk ruang kelas darurat bagi sekolah yang mengalami kerusakan berat. Bantuan yang disalurkan juga mencakup perlengkapan sekolah, mebel, papan tulis, dan buku untuk mendukung kembali kegiatan pembelajaran.

Program revitalisasi sekolah juga terus berjalan di NTT. Kemendikdasmen menyebut sebanyak 1.487 satuan pendidikan di provinsi tersebut masuk dalam program revitalisasi pada 2026. Pemerintah menempatkan NTT sebagai salah satu wilayah prioritas karena masih terdapat sekolah yang berada di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar serta menghadapi kebutuhan sarana pendidikan yang berbeda-beda.

Di tengah proses perbaikan tersebut, kegiatan belajar tetap menjadi bagian utama yang harus dipertahankan. Pemerintah menyatakan bahwa pelaksanaan revitalisasi perlu diatur secara adaptif agar proses pembelajaran tetap dapat berlangsung selama pekerjaan pembangunan maupun perbaikan fasilitas sekolah berjalan.

Kisah guru yang tetap menjalankan kegiatan belajar di tengah keterbatasan ruang kelas pun menjadi gambaran mengenai kondisi pendidikan di sejumlah wilayah yang masih membutuhkan pembenahan sarana dan prasarana.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.