Aksi demonstrasi Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) di Kantor Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Samarinda, Rabu (4/11/2026), berlangsung dengan cara yang tidak biasa. Massa melemparkan sayuran dan sejumlah bahan makanan busuk ke area kantor gubernur sebagai bentuk protes terhadap berbagai persoalan yang dinilai belum mendapatkan penyelesaian konkret dari pemerintah daerah.
Aksi tersebut merupakan lanjutan demonstrasi pada 21 Oktober 2026. Massa kembali mendatangi kantor gubernur untuk menagih realisasi tuntutan sebelumnya, terutama terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), serta pemadaman listrik yang masih berulang di sejumlah wilayah Kalimantan Timur.
Pelemparan sayuran busuk menjadi simbol kekecewaan terhadap kondisi masyarakat yang terdampak gangguan pasokan listrik. Pemadaman yang berlangsung berulang kali dinilai mengganggu aktivitas sehari-hari, termasuk kegiatan ekonomi masyarakat dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Salah seorang peserta aksi mengungkapkan bahwa gangguan listrik telah menimbulkan kerugian bagi masyarakat. Ia mengaku usaha peternakan miliknya ikut terdampak karena pemadaman listrik yang terjadi berulang kali. Kondisi tersebut dinilai semakin memprihatinkan mengingat Kalimantan Timur dikenal sebagai salah satu daerah penghasil batu bara.
Selain persoalan listrik, massa juga menyoroti dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap kesehatan masyarakat. Mereka meminta pemerintah memberikan perhatian lebih serius terhadap warga yang mengalami gangguan kesehatan, khususnya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat paparan asap karhutla.
Dalam demonstrasi kali ini, GERAM turut menyampaikan dua tuntutan tambahan. Pertama, pemberian kompensasi kepada masyarakat yang mengalami ISPA akibat karhutla. Kedua, pencopotan Sudarno dari tim ahli gubernur karena dinilai menimbulkan persoalan di tengah masyarakat.
Massa juga mempertanyakan ketidakhadiran Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur Seno Aji untuk menemui mereka secara langsung. Mereka menginginkan penjelasan mengenai perkembangan tuntutan yang sebelumnya telah disampaikan kepada pemerintah provinsi.
Sejumlah perwakilan pemerintah daerah disebut telah berupaya membuka ruang dialog dengan massa. Namun, demonstran tetap menginginkan pertemuan langsung dengan gubernur atau wakil gubernur. Perbedaan keinginan tersebut membuat upaya komunikasi belum menghasilkan kesepakatan.
Aksi pelemparan sayuran busuk akhirnya menjadi salah satu gambaran kekecewaan massa terhadap lambatnya penyelesaian persoalan yang mereka sampaikan. Demonstrasi berlangsung hingga sore dan malam hari sebelum massa membubarkan diri.
Peristiwa ini kembali memperlihatkan besarnya tuntutan masyarakat terhadap pemerintah daerah, terutama dalam persoalan pelayanan dasar seperti ketersediaan listrik, penanganan bencana lingkungan, dan perlindungan kesehatan warga.
GERAM menyatakan akan terus mengawal tuntutan tersebut sampai terdapat tindak lanjut yang dinilai nyata. Sementara itu, pemerintah provinsi diharapkan memberikan penjelasan terbuka mengenai langkah-langkah yang telah dilakukan agar aspirasi masyarakat tidak berhenti pada proses dialog dan janji penyelesaian.