Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Kepala Desa Wonomarto Gandeng Universitas, Buka Jalan Warga Raih Gelar Sarjana

Desa Wonomarto, Lampung Utara, punya program Beasiswa Sarjana Desa. Bekerja sama dengan Universitas Bandar Lampung, program ini telah meluluskan 8 sarjana dan masih membiayai 10 mahasiswa berdasarkan data desa 2024. Pemerintah desa juga memberikan bantuan biaya kos Rp2,4 juta per mahasiswa per tahun. Tujuannya bukan hanya kuliah, tetapi agar lulusan nantinya bisa kembali dan ikut membangun desa.

Pendidikan tinggi tidak hanya menjadi urusan keluarga. Di Desa Wonomarto, Kecamatan Kotabumi Utara, Kabupaten Lampung Utara, pemerintah desa menjalankan program beasiswa sarjana bagi warga desa melalui kerja sama dengan Universitas Bandar Lampung (UBL).

Sumber Foto: Website Resmi Desa Wonomarto Waskito Yusika memimpin Desa Wonomarto, Kecamatan Kotabumi Utara, Lampung Utara. Di bawah kepemimpinannya, pendidikan menjadi salah satu bagian dari upaya membangun sumber daya manusia desa.

Program tersebut digagas saat Waskito Yusika menjabat sebagai Kepala Desa Wonomarto. Pemerintah desa menyebut program ini sebagai salah satu upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan.

Salah satu programnya adalah beasiswa desa yang bekerja sama dengan Universitas Bandar Lampung. Program ini membantu warga Wonomarto melanjutkan pendidikan hingga jenjang sarjana tanpa harus meninggalkan desa begitu saja.

Program beasiswa tersebut telah berjalan sejak sekitar 2017–2018. Berdasarkan data yang dipublikasikan Pemerintah Desa Wonomarto pada 2024, sebanyak delapan mahasiswa telah menyelesaikan pendidikan dan memperoleh gelar sarjana, sementara 10 mahasiswa lainnya masih menjalani studi di UBL.

Hingga 2024, program tersebut telah mengantarkan 8 warga meraih gelar sarjana, sementara 10 mahasiswa masih menjalani kuliah di Universitas Bandar Lampung.

Menariknya, skema bantuan tidak hanya mengandalkan satu sumber pembiayaan. Biaya kuliah disebut diberikan secara gratis melalui kerja sama dengan UBL, sementara sebagian mahasiswa memperoleh dukungan uang saku melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP).

Pemerintah desa juga memberikan bantuan biaya tempat tinggal bagi mahasiswa penerima program. Pada 2024, anggaran desa yang digunakan mencapai Rp24 juta per tahun untuk membantu biaya kos mahasiswa.

Pemerintah Desa Wonomarto juga memberikan bantuan untuk biaya tempat tinggal atau kos. Pada 2024, desa mengalokasikan Rp24 juta untuk bantuan tersebut, dengan nilai Rp2,4 juta per mahasiswa per tahun bagi 10 penerima.

Dengan demikian, program tersebut tidak sekadar memberikan akses kuliah, tetapi juga mencoba mengurangi salah satu beban mahasiswa yang harus menempuh pendidikan di luar desa, yakni biaya tempat tinggal.

Perhatian Waskito terhadap pendidikan tidak berhenti di perguruan tinggi. TK Cahaya Hati di Dusun Karangsari didirikan di atas tanah desa yang kemudian dihibahkan untuk sekolah tersebut.

Dalam pelaksanaannya, pemerintah desa juga mengumpulkan orang tua mahasiswa untuk berkomunikasi mengenai perkembangan pendidikan anak-anak mereka. Pemerintah desa berharap para penerima beasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan nantinya dapat kembali dan ikut berkontribusi dalam pembangunan desa.

Bagi Waskito, program pendidikan itu diarahkan agar warga yang telah menyelesaikar kuliah bisa kembali dan ikut membangun desa. Pendidikan pun tidak hanya menjadi urusan pribadi, tetapi bagian dari pembangunan Wonomarto.

Program pendidikan ini menjadi bagian dari sejumlah program pembangunan yang pernah dijalankan Wonomarto. Pemerintah desa sebelumnya juga mengembangkan BUMDes, usaha ekonomi masyarakat, wisata desa, serta program pengelolaan sampah sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat.

Kisah Wonomarto menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak hanya berkaitan dengan pembangunan jalan atau fasilitas fisik. Investasi pada pendidikan warga juga dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Dengan delapan lulusan dan 10 mahasiswa yang masih menjalani studi berdasarkan data 2024, program tersebut telah memberikan akses pendidikan tinggi kepada sejumlah warga desa. Tantangan berikutnya adalah memastikan keberlanjutan program dan bagaimana para lulusan nantinya dapat berkontribusi kembali bagi masyarakat Wonomarto.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.