Ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) tingkat Sekolah Dasar (SD) di Kota Sibolga, Sumatera Utara, menjadi perbincangan setelah muncul kontroversi terkait penilaian jawaban peserta. Peristiwa yang berlangsung pada Rabu (28/10/2026) tersebut memicu perdebatan antara peserta, pendamping, dan pihak juri.
Kontroversi bermula ketika salah satu peserta memberikan jawaban sebelum soal matematika selesai dibacakan oleh juri. Jawaban yang disampaikan peserta tersebut adalah angka “254”. Namun, persoalan muncul karena jawaban itu kemudian dinilai benar dan disahkan oleh dewan juri.
Padahal, menurut informasi dalam unggahan yang beredar, soal tersebut masih dalam proses pembacaan. Dua orang juri disebut belum menyelesaikan pembacaan seluruh pertanyaan ketika peserta menyampaikan jawabannya.
Keputusan juri yang mengesahkan jawaban tersebut langsung memicu reaksi dari sejumlah pihak yang hadir di ruangan. Peserta maupun pendamping mempertanyakan dasar penilaian yang diberikan karena dianggap tidak sesuai dengan proses pembacaan soal yang sedang berlangsung.
Suasana perlombaan pun dikabarkan sempat memanas. Sejumlah audiens menyampaikan protes secara langsung kepada dewan juri. Perdebatan terjadi karena keputusan tersebut dinilai dapat memengaruhi hasil perlombaan dan berpotensi merugikan peserta lain yang mengikuti aturan dengan menunggu soal selesai dibacakan.
Menghadapi situasi tersebut, pihak juri disebut beberapa kali mencoba menenangkan audiens dan menjelaskan keputusan yang telah diambil. Namun, ketegangan tetap menjadi perhatian hingga muncul desakan agar pihak yang merasa keberatan menyampaikan protes melalui mekanisme resmi setelah perlombaan selesai.
Persoalan ini kemudian menjadi sorotan karena lomba cerdas cermat seharusnya berlangsung berdasarkan aturan yang jelas, termasuk mengenai kapan peserta diperbolehkan menjawab pertanyaan. Konsistensi penerapan aturan menjadi hal penting agar seluruh peserta memperoleh kesempatan yang sama.
Dalam kompetisi semacam ini, keputusan juri memiliki pengaruh besar terhadap perolehan nilai dan hasil akhir perlombaan. Karena itu, setiap keputusan perlu didasarkan pada ketentuan yang telah disepakati sejak awal, sehingga tidak menimbulkan keraguan maupun perbedaan penafsiran di antara peserta.
Peristiwa di Sibolga tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai mekanisme penanganan keberatan ketika terjadi perbedaan penilaian selama perlombaan berlangsung. Transparansi dalam menjelaskan keputusan juri dinilai penting untuk menjaga kepercayaan peserta, pendamping, dan masyarakat terhadap penyelenggaraan kompetisi.
Meski video dan narasi kejadian telah beredar luas, penjelasan lengkap mengenai aturan teknis lomba, alasan juri mengesahkan jawaban tersebut, serta hasil keberatan dari pihak peserta masih perlu dikonfirmasi kepada penyelenggara. Dengan demikian, persoalan ini dapat dinilai berdasarkan kronologi dan ketentuan perlombaan yang sebenarnya.