Jumat, 30 Oktober 2026
Masuk
Berita

Bertahun-tahun Mengabdi, Guru Honorer di Pandeglang Hanya Digaji Rp12 Ribu Sehari

Dedi Mulyadi, guru honorer di Pandeglang, Banten, menjadi sorotan setelah kisah pengabdiannya sejak 2007 terungkap. Ia dikabarkan hanya menerima honor sekitar Rp12.000–Rp12.500 per hari, dengan pembayaran yang bergantung pada pencairan dana BOS.

Kisah seorang guru honorer bernama Dedi Mulyadi di Kabupaten Pandeglang, Banten, menjadi perhatian publik setelah perjalanan pengabdiannya di dunia pendidikan dibagikan melalui media sosial. Selama bertahun-tahun, ia tetap menjalankan tugas mengajar meskipun harus menerima upah yang sangat terbatas.

Berdasarkan informasi yang dibagikan akun Instagram @vocazine, Dedi mulai mengajar sejak 2007 di sebuah sekolah dasar yang berada di pelosok desa. Sekolah tempatnya mengabdi disebut memiliki fasilitas yang terbatas. Meski menghadapi berbagai keterbatasan, ia tetap datang untuk menjalankan tanggung jawabnya sebagai tenaga pendidik.

Kisah Dedi Mulyadi, seorang guru honorer di pelosok Pandeglang, Banten, menjadi perhatian publik. Sejak 2007, ia tetap mengabdikan diri mengajar anak-anak di sebuah sekolah dasar meski harus menerima upah sekitar Rp12.000–Rp12.500 per hari atau sekitar Rp300.000 per bulan, bergantung pada kehadiran.

Hal yang paling menyita perhatian adalah besaran upah yang diterimanya. Dedi dikabarkan hanya memperoleh sekitar Rp12.000 hingga Rp12.500 per hari. Jika dihitung berdasarkan jumlah kehadiran, penghasilannya berkisar Rp300.000 per bulan.

Penghasilan Dedi tidak selalu diterima tepat waktu karena bergantung pada pencairan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Meski menghadapi keterbatasan ekonomi, ia tetap menjalankan tugasnya mendidik anak-anak di daerah tersebut. Kisah ini kembali menyoroti persoalan kesejahteraan guru honorer, terutama mereka yang mengajar di wilayah pelosok.

Nominal tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Terlebih, pekerjaan sebagai guru tidak hanya berkaitan dengan kegiatan mengajar di dalam kelas. Ada pula tanggung jawab lain yang harus dijalankan, mulai dari mempersiapkan materi pembelajaran, membimbing siswa, hingga membantu perkembangan pendidikan anak-anak di lingkungan sekolah.

Persoalan semakin terasa ketika pembayaran upah tidak selalu diterima tepat waktu. Dalam unggahan tersebut dijelaskan bahwa pencairan honor Dedi bergantung pada ketersediaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Kondisi ini membuat penerimaan penghasilannya terkadang mengalami keterlambatan.

Meskipun demikian, Dedi disebut tetap menjalankan tugasnya sebagai guru. Ia terus mendampingi para siswa yang belajar di sekolah tersebut, meski harus menghadapi kondisi kesejahteraan yang jauh dari ideal.

Kisah ini kemudian mendapat perhatian warganet karena menggambarkan tantangan yang masih dihadapi sebagian tenaga pendidik honorer, khususnya mereka yang mengajar di wilayah dengan keterbatasan fasilitas pendidikan. Pengabdian yang berlangsung selama bertahun-tahun tidak selalu diikuti dengan penghasilan dan kepastian kesejahteraan yang memadai.

Persoalan guru honorer sendiri bukan hanya berkaitan dengan besaran honor. Kepastian pembayaran, status kepegawaian, kesempatan memperoleh pengembangan kompetensi, serta perlindungan kesejahteraan juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.

Di sisi lain, keberadaan guru di wilayah pelosok memiliki peran besar dalam menjaga akses pendidikan bagi anak-anak. Tanpa kehadiran tenaga pendidik, proses belajar mengajar di sejumlah daerah dengan keterbatasan sumber daya dapat semakin sulit berjalan.

Cerita Dedi Mulyadi menjadi pengingat bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum, gedung sekolah, maupun fasilitas pembelajaran. Peran guru sebagai pihak yang mendampingi dan membimbing siswa juga sangat penting.

Kisah pengabdiannya pun memunculkan kembali harapan agar kesejahteraan tenaga pendidik honorer mendapat perhatian lebih serius. Mereka yang telah bertahun-tahun menjalankan tugas mengajar membutuhkan penghargaan yang layak, termasuk kepastian penghasilan agar dapat menjalankan profesinya dengan lebih baik.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.