Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Jan Koum: Dari Lantai Toko ke Kursi Direksi Facebook

Jan Koum, pendiri WhatsApp, pernah ditolak saat melamar kerja di Facebook bersama rekannya Brian Acton, namun akhirnya Facebook membeli WhatsApp-nya seharga US$19 miliar pada 2014. Kisahnya menjadi inspirasi soal ketekunan dari nol hingga miliarder.​…

Jan Koum, pendiri WhatsApp, pernah ditolak saat melamar kerja di Facebook bersama rekannya Brian Acton, namun akhirnya Facebook membeli WhatsApp-nya seharga US$19 miliar pada 2014. Kisahnya menjadi inspirasi soal ketekunan dari nol hingga miliarder.​

Jan Koum lahir di Ukraina pada 1976 dari keluarga sederhana yang menghadapi kesulitan ekonomi dan anti-Semitisme, lalu pindah ke AS pada 1992 saat usia 16 tahun. Ibunya bekerja sebagai pengasuh anak sementara Koum membersihkan lantai toko grosir untuk bertahan hidup, sambil belajar programming secara otomatis.​

Pada 2009, Koum dan Brian Acton (mantan rekan di Yahoo) mengajukan lamaran ke Facebook untuk posisi engineer, tapi ditolak karena dianggap kurang potensial. Ironisnya, saat itu Koum sudah mulai mengembangkan WhatsApp setelah membeli iPhone dan melihat peluang App Store.​

Koum mendirikan WhatsApp Inc. pada ulang tahunnya 24 Februari 2009 dengan prinsip anti-iklan, privasi tinggi, dan antarmuka sederhana. Aplikasi ini meledak setelah Apple tambah push notification, capai jutaan pengguna global sebagai pengganti SMS, dan Acton bergabung sebagai co-founder setelah dapat dana seed US$250 ribu.​

 

Jan Koum in 2014 with a microphone attached to his cheek.

Mark Zuckerberg dekati Koum sejak 2012, tapi kesepakatan final terjadi Februari 2014: Facebook beli WhatsApp US$19 miliar (campuran saham dan tunai), Koum dapat kursi dewan direksi. Ini balas dendam manis atas penolakan sebelumnya, dengan Koum jadi miliarder (kekayaan picu US$7,5 miliar saat itu).​ Foto Jan Koum tahun 2014 menunjukkan sosok sederhana yang kini jadi simbol sukses imigran tech. Koum keluar dari WhatsApp pada 2018 karena beda visi soal privasi, tapi ceritanya ingatkan bahwa penolakan bisa jadi titik balik.

Seka one

Penulis

Seka one

Penulis di Pewarta Nusantara.