Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Harga Tiket Pesawat di Bandara Rembele Melonjak Drastis Imbas Bencana, Tembus Rp 8.000.000

Harga tiket pesawat di Bandara Rembele, Kabupaten Bener Meriah, melonjak tajam sejak awal Desember 2025. Lonjakan terjadi pada rute Bener Meriah–Kualanamu, Sumatera Utara, serta Bener Meriah–Banda Aceh, seiring terputusnya akses darat akibat banjir dan…

Harga tiket pesawat di Bandara Rembele, Kabupaten Bener Meriah, melonjak tajam sejak awal Desember 2025. Lonjakan terjadi pada rute Bener Meriah–Kualanamu, Sumatera Utara, serta Bener Meriah–Banda Aceh, seiring terputusnya akses darat akibat banjir dan longsor yang melanda wilayah tersebut.

Pada Senin (1/12/2025), tiket Wings Air untuk rute Rembele–Kualanamu terpantau dijual hingga Rp 3.500.000 per orang. Angka itu melesat jauh dari harga normal Rp 501.500 yang biasanya diberlakukan maskapai perintis Susi Air. Informasi dari warga menyebutkan tarif bisa kembali melonjak hingga Rp 5.000.000 per orang dalam beberapa hari ke depan.

Untuk rute Bener Meriah–Banda Aceh, harga tiket pesawat Susi Air yang beroperasi dengan sistem carter mencapai Rp 8.000.000 per orang. Keterbatasan jumlah pesawat dan tingginya kebutuhan mobilitas membuat tarif penerbangan tidak terkendali.

Nurhayati, warga Tanjungpura, Sumatera Utara, mengaku terpaksa membeli tiket mahal demi bisa pulang ke kampung halaman.

“Kami beli tiket Wings Air Rp 3.500.000 per orang. Katanya besok bisa naik sampai Rp 5 juta,” ujarnya saat ditemui di Bandara Rembele. Meski keberatan, ia menyebut banyak warga memilih tetap terbang. “Yang penting bisa pulang jumpa keluarga.”

Situasi darurat di Bener Meriah membuat transportasi udara menjadi satu-satunya jalur keluar masuk daerah. Sejak bencana melanda, sejumlah ruas jalan masih tertutup material longsor, jaringan listrik belum pulih, dan telekomunikasi kerap terputus. Kondisi itu menyebabkan ratusan warga memadati Bandara Rembele setiap hari.

Lonjakan harga tiket mendapatkan perhatian Pemerintah Aceh. Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal, menyatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan untuk menelusuri penyebab dan mencari solusi agar masyarakat terdampak tidak semakin terbebani.

“Kami mendesak pemerintah pusat agar menangani serius persoalan ini.”

Hingga kini, Bandara Rembele hanya melayani dua rute aktif: Bener Meriah–Kualanamu dan Bener Meriah–Banda Aceh. Di tengah permintaan yang melonjak, jumlah pesawat yang tersedia sangat terbatas sehingga penumpukan penumpang terus terjadi.

Pemerintah daerah berharap penambahan armada atau regulasi harga darurat dapat diterapkan untuk mencegah warga semakin terjebak dalam situasi sulit di tengah bencana.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.