Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Guru Bertahan Mengajar 46 Siswa di Pulau Kukusan, Sekolah Pernah Pakai Ruang Terbuka

Di Pulau Kukusan, Manggarai Barat, NTT, 4 guru bertahan mengajar 46 siswa di MI Al-Hidayah. Sebelum direnovasi, sebagian siswa harus belajar di bawah pohon karena sekolah hanya memiliki dua ruang yang bisa digunakan. Kini empat ruang sudah dapat dipakai setelah mendapat bantuan revitalisasi. Kisah para guru yang tetap bertahan demi pendidikan anak-anak di pulau terpencil.

Kisah perjuangan guru dan siswa di MI Al-Hidayah, Pulau Kukusan, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi perhatian. Sekolah yang menjadi satu-satunya lembaga pendidikan di pulau tersebut harus menghadapi keterbatasan fasilitas dan tenaga pendidik.

Salah satu guru yang disorot adalah Sakinah. Bersama guru lainnya, ia memilih tetap bertahan mengajar anak-anak di Pulau Kukusan meski kondisi sekolah sebelumnya jauh dari ideal.

Tidak terdapat fasilitas toilet, perpustakaan, maupun komputer, serta buku pelajaran yang masih sangat terbatas.

MI Al-Hidayah berdiri sejak 2001 dan saat ini memiliki 46 siswa yang tersebar dari kelas I hingga kelas VI. Mereka dibimbing oleh 3 orang tenaga pengajar.

Siswa harus belajar sambil duduk di lantai karena ketiadaan kursi.

Sebelum mendapatkan bantuan renovasi, sekolah hanya memiliki dua ruang yang dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Kondisi tersebut membuat sebagian siswa harus belajar di luar ruangan, bahkan di bawah pohon. Aktivitas belajar juga kerap terganggu oleh hewan ternak yang berkeliaran di sekitar sekolah.

Saat musim hujan, atap yang bocor membuat kegiatan belajar terkadang harus dipindahkan ke bawah pohon atau terganggu oleh hewan seperti kambing yang masuk ke dalam kelas.

Kondisi sekolah mulai berubah pada Juni 2026. Direktorat Polairud Polda NTT membantu melakukan revitalisasi terhadap dua ruang kelas sehingga kini kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung di empat ruangan.

Pada Juni 2026, dua ruang kelas mulai direnovasi dan meja serta kursi baru disumbangkan oleh Polda NTT.

Bantuan tersebut tidak hanya berupa renovasi bangunan. Sekolah juga mendapatkan fasilitas berupa meja dan kursi belajar, meja serta kursi guru, tas sekolah dan perlengkapan alat tulis. Renovasi dilakukan secara gotong royong oleh personel kepolisian bersama masyarakat Pulau Kukusan.

Bantuan perlengkapan sekolah dan bahan bangunan juga disalurkan dari donasi pembaca Kompas.com melalui Jernih Berbagi dan Jagat Literasi.

Kepala MI Al-Hidayah, Husen, mengatakan keterbatasan fasilitas tidak membuat para guru menyerah. Bahkan, ia mengakui bahwa masih terdapat persoalan lain terkait kualifikasi tenaga pendidik di sekolah tersebut.

“Kalau tidak kami yang berjuang sebagai pendidik di sini, siapa lagi?” menjadi gambaran semangat para guru untuk tetap memberikan pendidikan kepada anak-anak di pulau tersebut.

Pada 1 September 2026, Kapolda NTT Irjen Rudi Darmoko meresmikan hasil revitalisasi tersebut sekaligus menyalurkan bantuan kepada warga dan tenaga pendidik. Anak-anak juga mendapatkan kegiatan trauma healing setelah wilayah tersebut terdampak gempa Flores.

Perjuangan para guru dan siswa di Pulau Kukusan menegaskan bahwa literasi bukanlah sebuah privasi, melainkan hak bagi setiap anak Indonesia.

Pulau Kukusan sendiri berada di Desa Pasir Panjang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Data pendidikan pemerintah mencatat MI Al-Hidayah Pulau Kukusan sebagai satuan pendidikan swasta yang berada di wilayah tersebut.

Kisah para guru di Pulau Kukusan menjadi gambaran bahwa akses pendidikan di wilayah kepulauan masih menghadapi tantangan besar. Di tengah keterbatasan, para guru tetap memilih bertahan agar anak-anak di pulau tersebut tidak kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.