Banyak orang Indonesia yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an mungkin masih mengingat kalimat sederhana, “Ini Budi, Ini Ibu Budi.” Rangkaian kata tersebut pernah menjadi bagian penting dalam proses belajar membaca di sekolah dasar. Di sisi lain, bagi umat Islam, buku Iqro juga menjadi salah satu media pembelajaran membaca Al-Qur’an yang digunakan secara luas hingga saat ini.
Di balik dua metode pembelajaran tersebut, terdapat sosok yang memiliki kontribusi besar dalam dunia pendidikan Indonesia, yakni Siti Rahmani Rauf dan KH As’ad Humam. Karya keduanya telah menemani perjalanan belajar banyak anak dari generasi ke generasi.
Siti Rahmani Rauf dikenal sebagai tokoh pendidikan yang memperkenalkan metode membaca melalui pendekatan Struktur Analitik Sintetik (SAS). Metode ini membantu anak mengenali kalimat secara utuh, kemudian menguraikannya menjadi kata, suku kata, hingga huruf. Setelah itu, unsur-unsur tersebut disusun kembali menjadi kata dan kalimat.

Pendekatan tersebut membuat proses belajar membaca lebih terstruktur. Salah satu materi yang melekat dalam ingatan banyak orang adalah pengenalan tokoh Budi dan keluarganya melalui kalimat sederhana seperti “Ini Budi” dan “Ini Ibu Budi”.
Metode SAS menjadi bagian dari sejarah pembelajaran membaca di Indonesia, terutama ketika buku-buku pelajaran dasar masih banyak menggunakan ilustrasi dan kalimat sederhana untuk memperkenalkan kemampuan literasi kepada anak-anak.
Sementara itu, KH As’ad Humam dikenal luas melalui metode Iqro, sebuah pendekatan pembelajaran membaca Al-Qur’an yang disusun secara bertahap. Metode ini membantu peserta didik mengenali huruf hijaiyah, memahami tanda baca, hingga membaca rangkaian ayat Al-Qur’an secara lebih lancar.

Buku Iqro disusun dalam enam jilid dengan tingkat kesulitan yang meningkat secara bertahap. Pendekatan tersebut memungkinkan anak-anak maupun orang dewasa mempelajari bacaan Al-Qur’an mulai dari tahap dasar tanpa harus langsung menguasai seluruh kaidah bacaan.
Metode Iqro kemudian berkembang luas dan digunakan di berbagai taman pendidikan Al-Qur’an (TPQ), masjid, serta lembaga pendidikan keagamaan di Indonesia. Kesederhanaan penyajian dan tahapan pembelajarannya membuat buku tersebut menjadi salah satu bahan ajar yang sangat dikenal masyarakat.
Meskipun bergerak dalam bidang pembelajaran yang berbeda, Siti Rahmani Rauf dan KH As’ad Humam memiliki kesamaan dalam kontribusinya terhadap pendidikan. Keduanya menghadirkan metode belajar yang membantu masyarakat memperoleh kemampuan dasar, mulai dari membaca bahasa Indonesia hingga membaca Al-Qur’an.
Karya mereka juga menunjukkan bahwa sebuah metode pembelajaran dapat memberikan pengaruh panjang apabila disusun dengan pendekatan yang mudah dipahami dan dapat diterapkan secara luas.
Hingga kini, kalimat “Ini Budi” dan buku Iqro masih menjadi bagian dari ingatan banyak masyarakat Indonesia. Keduanya bukan sekadar materi belajar, tetapi juga pengingat terhadap peran para pendidik yang ikut membentuk kemampuan dasar generasi demi generasi.