Minggu, 25 Oktober 2026
Masuk
Berita

Dokter Sebut Kurang Tidur Bisa Lebih Mengkhawatirkan daripada Tak Makan Nasi, Ini Alasannya

Lebih takut kurang tidur daripada makan nasi? Dokter Yohana Onimerrynda menyoroti kebiasaan orang yang tidur hanya 4–5 jam setiap malam tetapi menganggapnya normal. Kurang tidur dapat memengaruhi konsentrasi, daya ingat, mood, metabolisme, bahkan pola makan. Orang dewasa umumnya membutuhkan sekitar 7–9 jam tidur per malam.

Pernyataan dokter Yohana Onimerrynda tentang kebiasaan tidur kembali ramai dibicarakan di media sosial. Ia mengaku lebih khawatir melihat orang yang terbiasa tidur hanya 4–5 jam setiap malam dibandingkan orang yang mengurangi konsumsi nasi.

Pernyataan tersebut bukan berarti nasi boleh dikonsumsi tanpa batas atau mengurangi nasi tidak penting. Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa masyarakat sering kali sangat memperhatikan makanan, tetapi justru menganggap kurang tidur sebagai kebiasaan yang wajar.

Menurut penjelasan Yohana, tidur 4–5 jam yang dilakukan terus-menerus dapat memengaruhi berbagai fungsi tubuh. Kurang tidur dapat membuat seseorang lebih sulit berkonsentrasi, mudah lupa, mengalami perubahan suasana hati, serta tetap merasa lelah setelah bangun.

Tidur juga berperan dalam menjaga fungsi otak, metabolisme, sistem kekebalan tubuh, dan proses pemulihan tubuh. Karena itu, kebutuhan tidur tidak seharusnya dianggap sekadar waktu untuk beristirahat dari aktivitas harian.

Bagi orang dewasa, kebutuhan tidur umumnya berada di kisaran 7–9 jam per malam. Artinya, kebiasaan tidur hanya 4–5 jam setiap malam berada jauh di bawah kisaran tersebut.

Yang menarik, kurang tidur ternyata juga dapat berkaitan dengan pola makan. Dalam penjelasannya, Yohana menyebut kurang tidur bisa membuat seseorang makan lebih banyak tanpa sadar. Dengan kata lain, kebiasaan begadang justru berpotensi mengganggu upaya seseorang menjaga pola makan.

Sejumlah penelitian memang menemukan hubungan antara kurang tidur kronis dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk obesitas, hipertensi, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular. Namun, hubungan tersebut tidak berarti setiap orang yang tidur kurang otomatis akan mengalami penyakit tersebut.

Karena itu, menjaga kesehatan tidak cukup hanya dengan memperhatikan makanan. Aktivitas fisik, pola makan seimbang, dan tidur yang cukup juga perlu menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.

Pernyataan dokter Yohana akhirnya memunculkan pengingat sederhana: jangan sampai seseorang sangat takut makan nasi, tetapi menganggap tidur hanya empat jam setiap malam sebagai sesuatu yang biasa.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.