
Fenomena hunian super-kecil seperti coffin homes di Hong Kong memang telah ada sejak beberapa dekade, dengan puncaknya setelah krisis properti akhir 1990-an. Lonjakan harga properti yang jauh melebihi kenaikan upah memaksa warga miskin hidup di ruang sempit ekstrem.
Sejarah Perkembangan
Praktik subdivided units dan bed-space apartments meluas pasca-krisis 1997-1998, di mana harga rumah meroket hingga 187% antara 2010-2019. Hal ini disebabkan keterbatasan lahan di kota terpadat dunia, dengan 75% wilayah Hong Kong berupa pegunungan dan taman lindung.
Dampak Ekonomi
Upah minimum sekitar US$4,82 per jam kontras dengan harga apartemen rata-rata US$1,3 juta pada 2021, memaksa pekerja butuh 21 tahun gaji untuk beli unit 60 m². Akibatnya, sekitar 200.000 orang, termasuk 40.000 anak, tinggal di coffin cubicles berukuran 2-4,6 m² dengan sewa Rp3,3 juta/bulan.
Kondisi Hidup
Penghuni micro apartemen (15-27 m²) hidup minimalis, dengan ventilasi buruk dan minim sinar matahari, berpotensi ganggu kesehatan mental. Pada 2019, ada 8.500 unit semacam ini, mewakili 7% konstruksi baru.
Video: detik.com