Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Brand Besar Nike Kembali PHK Hampir 1.000 Karyawan

Perusahaan apparel dan perlengkapan olahraga asal Amerika Serikat, Nike, kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap hampir 1.000 karyawannya. Kebijakan ini menjadi gelombang PHK kedua dalam kurun waktu satu tahun terakhir, sebagai bagian dari…

Perusahaan apparel dan perlengkapan olahraga asal Amerika Serikat, Nike, kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap hampir 1.000 karyawannya. Kebijakan ini menjadi gelombang PHK kedua dalam kurun waktu satu tahun terakhir, sebagai bagian dari langkah rekonstruksi dan efisiensi bisnis di tengah tekanan pasar global.

Sebelumnya, pada Februari 2025, Nike telah memangkas sekitar 1.600 karyawan atau setara 2 persen dari total tenaga kerjanya. Langkah tersebut diambil untuk menekan biaya operasional setelah perusahaan menghadapi penurunan permintaan dan perlambatan penjualan di sejumlah pasar utama.

Dalam pernyataan resmi perusahaan yang dikutip media internasional Nation Thailand, Nike menjelaskan bahwa restrukturisasi organisasi dilakukan untuk membentuk struktur baru yang lebih ramping dan fokus. Nike menegaskan ingin menempatkan “olahraga dan budaya olahraga” sebagai inti utama bisnisnya.

Melalui perubahan ini, Nike berupaya lebih dekat dengan atlet dan konsumen, serta merespons dinamika pasar yang terus berubah. Perusahaan menilai pendekatan tersebut penting untuk menjaga relevansi merek di tengah persaingan ketat industri perlengkapan olahraga global.

Gelombang PHK ini juga mencerminkan tekanan yang lebih luas pada industri fashion dan ritel olahraga. Inflasi global, perubahan pola belanja konsumen, serta meningkatnya minat terhadap produk lokal dan berkelanjutan dinilai turut memengaruhi kinerja perusahaan-perusahaan besar di sektor ini.

Di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, kebijakan Nike berpotensi berdampak pada rantai pasok regional. Indonesia selama ini menjadi salah satu pasar penting sekaligus basis produksi Nike, dengan sejumlah pabrik mitra yang beroperasi di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Meski belum ada pernyataan resmi terkait dampak langsung terhadap operasional di Indonesia, dinamika global tersebut dinilai dapat memengaruhi strategi bisnis jangka menengah perusahaan.

Bagi pasar domestik, situasi ini juga membuka peluang bagi merek lokal. Konsumen Indonesia yang semakin sensitif terhadap isu etika bisnis, keberlanjutan, dan dukungan terhadap industri dalam negeri, berpotensi melirik merek olahraga lokal seperti Specs atau League yang dinilai lebih adaptif dengan selera pasar nasional.

Langkah Nike sejalan dengan tren yang juga terjadi di perusahaan apparel global lainnya. Sepanjang 2025, sejumlah merek besar seperti Adidas dan Puma dilaporkan melakukan restrukturisasi dan efisiensi serupa. Kondisi ini menandai fase penyesuaian industri apparel pascapandemi, di tengah ketidakpastian ekonomi global dan perubahan preferensi konsumen.

Restrukturisasi Nike menunjukkan bahwa bahkan merek global dengan dominasi pasar kuat pun tidak luput dari tekanan ekonomi, sekaligus menjadi sinyal tantangan berkelanjutan bagi industri fashion dan ritel olahraga di tingkat global maupun regional.

Pole Vox

Penulis

Pole Vox

Penulis di Pewarta Nusantara.