Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Berbusana Adat di Tengah Hutan Terbakar, Karya Seni Seniman Jambi Jadi Kritik Keras Karhutla

Karya visual Ichalago Chaniago menampilkan perempuan berbusana adat Jambi dan bermasker di tengah hutan bekas terbakar sebagai kritik terhadap karhutla. Karya tersebut muncul saat kabut asap mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah Sumatra.

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah Sumatra mendorong seniman menyampaikan kritik melalui karya visual. Salah satunya adalah Ichalago Chaniago, seniman asal Jambi yang mengunggah foto sekelompok perempuan mengenakan pakaian adat berwarna merah dan hitam, lengkap dengan masker, di tengah hamparan hutan yang hangus terbakar.

Dalam karya tersebut, para perempuan tampak berdiri berbaris di antara pepohonan yang menghitam dan tanah yang dipenuhi sisa kebakaran. Kontras antara pakaian adat yang mencolok dan lanskap hutan yang rusak menghadirkan gambaran tentang dampak karhutla terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Karya yang dibagikan melalui akun Instagram @ichalago itu mendapat perhatian luas di media sosial. Visual tersebut tidak hanya menampilkan keindahan pakaian tradisional, tetapi juga menyampaikan pesan mengenai keresahan warga yang harus menghadapi kabut asap berulang kali.

Dalam keterangannya, Ichalago menggambarkan dampak asap terhadap kehidupan sehari-hari. Mata terasa perih, tenggorokan sakit, sementara anak-anak dapat mengalami kesulitan bernapas. Aktivitas sekolah dan pekerjaan pun ikut terganggu ketika kualitas udara memburuk.

Pesan yang disampaikan melalui karya tersebut menekankan bahwa masyarakat berhak mendapatkan udara bersih. Karhutla bukan sekadar persoalan pohon dan lahan yang terbakar, melainkan juga menyangkut kesehatan warga, keberlangsungan pendidikan, dan kegiatan ekonomi.

Ichalago juga mendorong penanganan karhutla yang lebih serius, termasuk penghentian praktik pembakaran lahan, penegakan hukum, serta pemulihan lahan gambut. Ia berharap masyarakat dapat kembali beraktivitas tanpa harus terus-menerus mengenakan masker untuk melindungi diri dari asap.

Karya tersebut muncul ketika kondisi kabut asap di sejumlah wilayah memang memburuk. ANTARA melaporkan bahwa pada Sabtu, 10 Oktober 2026, kualitas udara di Kota Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, dan Kabupaten Tebo masuk kategori berbahaya berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup.

Kritik terhadap karhutla juga disuarakan seniman asal Palembang, Pebri Yansyah. Ia memasang lukisan berjudul Presiden 2045 di sejumlah ruang publik di Kota Palembang. Karya tersebut menampilkan sosok menyerupai presiden dengan jas dan masker, sebagai simbol kritik terhadap kebijakan publik dan ancaman kerusakan ekologis.

Kehadiran karya-karya tersebut menunjukkan bahwa seni dapat menjadi medium untuk menyampaikan persoalan lingkungan kepada masyarakat luas. Di tengah kabut asap yang mengganggu aktivitas warga, pesan yang disuarakan para seniman mengingatkan bahwa udara bersih merupakan kebutuhan mendasar, bukan kemewahan.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.