Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Ayah Wafat Saat SMA, Gagal Dapat KIP Kuliah Tak Bikin Pemuda Riau Menyerah: Jadi Ojol demi Sarjana

Ali Wafa tetap berjuang melanjutkan kuliah setelah ayahnya wafat saat ia masih SMA dan dirinya tidak berhasil memperoleh KIP Kuliah. Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, ia bekerja sebagai pengemudi ojek online sekaligus menjadi relawan kemanusiaan. Dalam perjalanannya, ia mendapat dukungan bantuan UKT dan Rumah Zakat Riau.

Perjuangan seorang mahasiswa asal Riau bernama Ali Wafa menjadi perhatian setelah kisahnya dibagikan melalui akun Instagram Mental Juara. Meski kehilangan ayah ketika masih duduk di bangku SMA dan tidak berhasil mendapatkan bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, ia tetap berusaha melanjutkan pendidikan tinggi dengan bekerja sebagai pengemudi ojek online (ojol).

Muhammad Ali Wafa adalah anak pertama dari dua bersaudara. Ayahnya meninggal dunia saat ia kelas 1 SMA. Sejak itu, sang ibu tulang punggung keluarga, terima pesanan katering & jahit. Dari orang tuanya, ia belajar menjaga akhlak dan berani hadapi masalah.

Berdasarkan informasi dalam unggahan tersebut, kepergian sang ayah menjadi salah satu tantangan besar yang harus dihadapi Ali dalam perjalanan pendidikannya. Kondisi tersebut membuatnya harus berjuang memenuhi kebutuhan kuliah sekaligus mencari cara agar tetap dapat melanjutkan pendidikan.

Ali tempuh pendidikan di SDN 011 Tambusai Utara, lalu lanjut SMP dan SMA di Pondok Pesantren Darussalam Kabun, Rokan Hulu. la pernah meraih juara tahfidz 3 juz dan juara 3 Syahril Quran tingkat kabupaten.

Ali tidak menjadikan kegagalannya memperoleh KIP Kuliah sebagai alasan untuk berhenti mengejar cita-cita. Ia memilih bekerja sebagai pengemudi ojek online untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya kuliahnya. Pekerjaan tersebut dijalani di sela-sela aktivitas akademik agar ia tetap bisa mengikuti perkuliahan.

Setelah lulus MA, Ali kuliah di UIN Sultan Syarif Kasim Riau, program studi Hukum Keluarga Islam. Namun, ia harus mikir cara membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT). Harapannya dapat bantuan KIP Kuliah pun tak terwujud.

Menjalani peran sebagai mahasiswa sekaligus pekerja tentu membutuhkan pengaturan waktu dan tenaga. Ali harus membagi waktunya antara mencari penghasilan, menyelesaikan tugas akademik, dan mengikuti kegiatan perkuliahan. Di tengah kesibukan itu, ia juga terus berupaya mencari peluang bantuan pendidikan yang dapat mendukung keberlanjutan studinya.

Ali tak menyerah. la mulai kerja sebagai driver ojol dan antar makanan untuk memenuhi kebutuhan kuliah. Sambil bekerja dan mengikuti perkuliahan, ia terus mencari peluang beasiswa agar bisa melanjutkan pendidikan.

Selain bekerja sebagai pengemudi ojol, Ali disebut tetap meluangkan waktu untuk menjadi relawan dalam kegiatan kemanusiaan. Keterlibatannya dalam aktivitas sosial tersebut menunjukkan bahwa kesibukannya mencari nafkah tidak sepenuhnya menghentikan partisipasinya dalam kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Ali datangi berbagai lembaga untuk cari bantuan pendidikan. Namun, sejumlah pengajuan, termasuk lembaga zakat, belum berhasil. Meski berulang kali menghadapi penolakan, ia tetap berusaha mencari jalan agar bisa bertahan kuliah.

Perjalanan Ali kemudian mendapat dukungan melalui bantuan dari UKT dan Rumah Zakat Riau. Bantuan tersebut disebut hadir ketika ia masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan pendidikannya. Dukungan ini menjadi bagian penting dalam perjalanan yang dijalaninya untuk mempertahankan keberlangsungan kuliah.

Masuk semester 2, Ali memilih jalan pengabdian sebagai relawan Rumah Zakat Riau dan relawan Go Green. la turun langsung salurkan bantuan ke berbagai wilayah, wujud nyata tekadnya untuk terus memberi manfaat bagi sesama.

Kisah Ali memperlihatkan tantangan yang dapat dihadapi mahasiswa ketika kondisi keluarga dan keterbatasan ekonomi memengaruhi akses terhadap pendidikan tinggi. Biaya kuliah, kebutuhan sehari-hari, transportasi, serta perlengkapan akademik dapat menjadi beban tambahan bagi mahasiswa yang harus membiayai pendidikannya secara mandiri.

Di tengah kesibukannya, Ali sempat merasa pasrah dengan perjuangan beasiswanya. Namun, di akhir semester 2, Rumah Zakat Riau memberinya bantuan UKT. Kini, Ali aktif bagikan informasi beasiswa untuk teman teman yang belum dapat beasiswa.

Program bantuan pendidikan seperti KIP Kuliah dirancang untuk membantu mahasiswa yang memenuhi persyaratan agar dapat mengakses pendidikan tinggi. Namun, tidak semua mahasiswa yang menghadapi kesulitan ekonomi berhasil memperoleh bantuan tersebut. Karena itu, informasi mengenai beasiswa, bantuan biaya pendidikan, dukungan kampus, dan program sosial lainnya dapat menjadi sumber alternatif bagi mahasiswa yang membutuhkan.

Ali terus kuliah, kerja, & mengabdi kepada sesama. Perjalanannya ajarkan bahwa perjuangan tak selalu langsung berhasil, tapi ketulusan tetap bisa membawa manfaat. "Ketika segala sesuatu kita lakukan dengan ikhlas, maka sesuatu tersebut akan berikan dampak dan manfaat yang besar bagi diri kita."

Pengalaman Ali juga menyoroti pentingnya dukungan dari berbagai pihak, termasuk lembaga sosial, perguruan tinggi, komunitas, dan masyarakat. Bantuan yang sesuai dengan kebutuhan dapat membantu mahasiswa menghadapi kendala finansial sekaligus memberi kesempatan untuk lebih fokus menyelesaikan pendidikan.

Meski demikian, informasi yang tersedia dalam unggahan tersebut belum merinci nama perguruan tinggi tempat Ali menempuh pendidikan, program studi yang diambil, besaran bantuan yang diterima, maupun kondisi terkininya. Oleh karena itu, detail perjalanan akademik dan perkembangan bantuan yang diperolehnya masih perlu merujuk pada keterangan lebih lanjut dari sumber terkait.

Kisah Ali Wafa menjadi gambaran tentang upaya seorang mahasiswa dalam mempertahankan pendidikan di tengah kehilangan anggota keluarga dan keterbatasan ekonomi. Dengan bekerja sebagai pengemudi ojek online, mencari bantuan, serta tetap terlibat dalam kegiatan kemanusiaan, ia berusaha menjalani berbagai tanggung jawab secara bersamaan.

Perjalanan tersebut juga menjadi pengingat bahwa akses terhadap pendidikan tinggi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi turut dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan dukungan lingkungan. Kisah seperti ini membuka ruang bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan kebutuhan mahasiswa yang berjuang membiayai pendidikannya sendiri.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.