
Banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada akhir 2025 tidak hanya merusak rumah dan infrastruktur, tetapi juga memutus akses warga terhadap layanan kesehatan vital. Kondisi ini dirasakan langsung oleh Dharma Tafsia, warga Kecamatan Babo, yang kini harus bertahan tanpa obat jantung yang rutin ia konsumsi setiap bulan. Dharma diketahui menderita penyakit jantung bengkak yang memerlukan obat khusus secara berkala. Namun, pasca-banjir bandang, persediaan obat di rumah sakit dan apotek setempat habis tersapu banjir. Dalam keterbatasan, ia terpaksa mengandalkan pengobatan tradisional seperti jambu bol sembari bertahan di tenda pengungsian bersama keluarganya. Bencana banjir bandang tersebut menyebabkan kerusakan parah di sejumlah wilayah Aceh Tamiang, termasuk permukiman dan fasilitas kesehatan. Banyak warga kehilangan tempat tinggal dan hingga kini masih menetap di tenda-tenda darurat. Pemerintah daerah pun memperpanjang masa tanggap darurat hingga 6 Januari 2026 guna mempercepat proses pemulihan dan penanganan korban terdampak. Kondisi di lapangan masih memprihatinkan, terutama di Dusun Al-Ihsan yang berbatasan langsung dengan Sungai Tamiang. Saat bencana terjadi, ketinggian air dilaporkan mencapai hingga delapan meter. Dharma berharap situasi segera pulih agar ia dapat kembali menjalani kehidupan normal bersama cucu, anak, dan menantunya, sekaligus memperoleh kembali akses pengobatan yang layak. Di sisi lain, upaya pemulihan terus dilakukan. Pemerintah bersama BUMN telah membangun 204 unit hunian sementara (huntara) yang siap dihuni per 1 Januari 2026. Secara keseluruhan, sebanyak 600 unit huntara direncanakan untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak. Meski demikian, persoalan kesehatan masih menjadi tantangan serius. Sejumlah warga, termasuk Rukiyah, mengaku kondisi kesehatannya memburuk meski telah menerima bantuan obat dari relawan. Situasi ini menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya menyangkut tempat tinggal, tetapi juga memastikan keberlangsungan layanan kesehatan bagi warga terdampak, terutama mereka yang bergantung pada pengobatan rutin untuk bertahan hidup.
Video: Kumparan