Lima belas tahun setelah tsunami dahsyat melanda Jepang pada 11 Maret 2011, Yasuo Takamatsu masih melakukan pencarian terhadap istrinya, Yuko, yang hilang dalam bencana tersebut. Ia bahkan belajar menyelam agar dapat ikut mencari jejak sang istri di laut.
Takamatsu dan Yuko tinggal di Onagawa, Prefektur Miyagi. Saat gempa dan tsunami terjadi, Yuko sedang bekerja di kantor cabang 77 Bank di kawasan pesisir Onagawa. Ia kemudian tersapu tsunami dan sampai sekarang belum ditemukan.

Ada satu pesan yang sangat membekas bagi Takamatsu. Menjelang hilang, Yuko mengirim pesan yang pada intinya menanyakan keadaan suaminya dan mengatakan bahwa dirinya ingin pulang. Pesan tersebut menjadi salah satu kenangan terakhir yang dimiliki keluarganya.
Alih-alih hanya menunggu hasil pencarian resmi, Takamatsu memilih turun langsung ke laut. Sekitar dua tahun setelah tsunami, ia mulai belajar menyelam agar dapat membantu mencari istrinya di perairan sekitar Onagawa. Pada usia 57 tahun, ia bahkan memperoleh kualifikasi penyelam untuk mendukung pencariannya.

Sejak itu, ia berulang kali menyusuri dasar laut. Dalam laporan televisi Jepang pada 2026, Takamatsu yang kini berusia 69 tahun disebut masih menyelam di perairan sekitar Onagawa, termasuk pada kedalaman sekitar 35 meter dengan jarak pandang yang terbatas.
Jumlah penyelamannya juga terus bertambah. Laporan L’Équipe pada Maret 2026 menyebut Takamatsu memperkirakan telah melakukan lebih dari 650 kali penyelaman. Sementara laporan terbaru yang terbit September 2026 menyebut jumlah tersebut telah mencapai 763 kali pada Maret 2026.

Pencarian itu tidak selalu menghasilkan petunjuk. Ia pernah menemukan berbagai benda di dasar laut, tetapi belum menemukan sesuatu yang dapat dipastikan sebagai milik Yuko. Endapan dan material yang terbawa arus juga membuat kondisi dasar laut semakin sulit untuk ditelusuri.
Tsunami 2011 sendiri menyebabkan kerusakan sangat besar di Onagawa. Catatan mengenai bencana tersebut menunjukkan ratusan korban tewas dan masih ada warga yang belum ditemukan bertahun-tahun setelah kejadian.
Bagi Takamatsu, penyelaman bukan sekadar aktivitas untuk menemukan jasad istrinya. Ia ingin membawa Yuko kembali pulang apabila suatu hari menemukan jejaknya. Setelah bertahun-tahun berlalu, ia tetap mempertahankan harapan tersebut.
Kisah Takamatsu menjadi salah satu gambaran bagaimana bencana besar dapat meninggalkan duka yang berlangsung jauh lebih lama daripada proses pembangunan kembali sebuah kota. Sementara Onagawa terus dibangun, pencarian terhadap orang-orang yang masih hilang tetap menjadi bagian dari kehidupan sejumlah keluarga.