Pewarta Nusantara
Add Post Menu

Monthly Archives: Maret 2018

Nurul Hidayat
3 tahun yang lalu 04/11/22
Achilles

Achilles "Sang Jihadis" Cinta

Headline

Sebut saja Achilles, Pejuang tangguh dalam mitologi Yunani yang tidak pernah terkalahkan dalam setiap pertarungan. Dia bukanlah Hamzah, Khalid bin walid atau Umar bin Khatab. Membunuh bukanlah sesuatu yang asing ditangan Achilles. 

Tak terkalahkan, ego yang tinggi, dingin dan tidak mengenal rasa takut akan kematian. Tangannya bak izrail yang dengan mudah mencabut nyawa seseorang yang diinginkannya. Ucapannya adalah fatwa kebenaran bagi pasukannya dan lagu kematian bagi lawannya.

Oke, saya tidak bercerita banyak tentang bagaimana sosok petarung brutal dalam legenda yunani tersebut, tapi  sosok Achilles yang dingin dan terkesan “slanker” tersebut luluh lantak oleh sesuatu yang dibenci para petarung, “Cinta”. Sebagai sosok petarung jalanan yang selalu mengirim lawannya diakhirat, wajar pula semua merinding mendengar nama Achilles dengan segala reputasinya. 

Tapi dihadapan Briseis, sosok angker Achilles tak ubahnya rumput yang mudah tercerabut oleh satu jari kelingking sekalipun. Lihat saja ketika briseis menaruh belati dileher Achilles ketika berbaring diranjang, dia hanya berkata “Just Kill Me”. Dasar briseis yang kesepian yang tengah jatuh cinta, niat membunuh Achilles justru “membunuh” kekerasan hati lawannya. Dan akhirnya, mereka terbuai dalam dekapan cinta yang “terlarang”.

Mengapa cinta mereka adalah cinta “terlarang”? Seperti kita ketahui, Achilles yang berhati keras, “sak penake udele dhewe” (seenaknya sendiri) dan tidak mengenal belas kasih terhadap lawannya, “dipaksa” rela dan ikhlas melepaskan semua reputasinya demi mendapatkan briseis yang sang pujaan. Sedangkan briseis yang mengimani dan mengabdi pada dewi Apollo, dengan ketegaran dan keberanian juga melepas segala atribut yang melekat pada dirinya sebagai pengabdi yang baik. 

Demi Achilles, dia menanggalkan serta meninggalkan janji untuk tidak akan pernah disentuh para pria. Keduanya meninggalkan suatu yang diyakini, janji dan kehormatan untuk sesuatu yang lebih abadi, yaitu cinta. Mereka meninggalkan kehidupan absurd untuk mendapatkan kebahagiaan hakiki yaitu cinta.

Kau bukanlah tawananku, tapi tamuku dan setelah malam ini, kamu bebas mau kemana kamu mau pergi”. Sepenggal ungkapan dari mulut Achilles membuat saya merinding disko. Betapa agungnya sang Achilles ketika mengucapkan kata-kata tersebut. 

Cinta bukanlah kata benda yang hanya bisa dibicarakan dan disebut. Cinta adalah kata sifat yang menerangkan suatu keadaan yang sangat besar dalam diri manusia. Cinta juga kata kerja yang menunjukkan seberapa besar perbuatan dan perjuangan secara tulus, gak butuh "mahar" pelicin bermilyar-milyar untuk mendapatkan pengakuan

Sejarah mencatat, Perjuangan mendapatkan cinta akan membawa manusia dalam suatu bentuk keagungan dan kebahagiaan yang nyata . Bagaimana kisah cinta Adam dengan Hawa yang membuat mereka “terbuang” disurga, dipisahkan didunia dan dipertemukan kembali. Ada juga kisah cinta terlarang penuh intrik dari Zulaikha terhadap Yusuf sang lelananging jagad, walaupun dalam ending storynya berakhir dengan pernikahan dan kebahagiaan bagi keduanya. 

Tidak kalah serunya, cerita rahasia cinta Sayyidina Ali dan Siti Fatimah yang tersembunyi, bahkan konon setanpun tidak tahu jika keduanya saling mencinta. Selain kisah cinta yang berakhir dengan happy ending, tapi banyak juga akhir kisah cinta yang tragis walaupun dibungkus dengan kisah yang terkadang romantis. Kita mendengar cerita keluarga nabi Nuh kehilangan putra yang dicintainya karena ditelan banjir.  

Tertulis juga, kisah nabi luth yang kehilangan keluarga tercinta dan tidak kalah hebohnya, kisah cinta romeo dan Juliet yang harus berakhir dengan bunuh diri “berjamaah” meminum racun.

Kisah cinta Achilles juga tidak kalah tragisnya.  Achilles mencintai briseis dengan penuh hormat dan penghargaan layaknya menjamu tamu yang baik. Cinta Achilles tidak menjadikan pasangan bersikap halnya tawanan perang tapi cinta yang membebaskan. Dan hal yang tidak diinginkan mereka berdua akhirnya terjadi, yaitu Briseis secara tidak langsung dijemput sang ayah “Priam” yang juga menjabat raja Troya. 

Setelah sempat bermesra-mesraan ditenda tempat mereka dimabuk asmara, mereka harus berpisah karena sesuatu hal yang tidak mereka inginkan. Achilles yang menganggap Briseis bukanlah tawanan tapi tamu dengan cepat memulihkan status kewarganegaraannya tanpa birokrasi yang rumit dan berbelit, agar kedepannya tidak timbul gonjang ganjing dwikenegaraan seperti negara tetangga. 

Achilles memberikan kebebasan sepenuhnya untuk Briseis kembali kekerajaan troya dan memberikan dispensasi tidak menyerang kerajaan troya kepada “Priam” sang raja selama 12 hari.

Akhirnya peperangan itu terjadi. Yunani menyerang troya dengan segala strategi “liciknya”. Achillespun ikut berperang karena hanya ingin menjemput briseis cintanya. Setelah berhasil menyelamatkan si jantung hati dari kejaran pasukan yunani, justru Achilles menerima hunjaman beberapa busur panah oleh Paris saudara sepupu briseis. 

Walaupun Briseis melarang Paris menghunjamkan panah, tapi paris sudah terlanjur dendam terhadap achiles, gara-gara sang kakak “hector” dibunuh oleh Achilles. Paris terus memberikan kado perpisahan “indah” dan menjadikan Achilles sebagai pahlawan yang ringkih karena cinta. Briseis menangis dan memeluk tubuh Achilles yang mulai tidak kuat menahan beban rindu. 

Keduanya saling memeluk dengan erat, seakan ini adalah pelukan terakhir para pemabuk cinta, dan Achilles mengucapkan “It’s Allright” kepada Briseis seolah-olah kematiannya tidak akan berpengaruh terhadap kehidupan briseis dikemudian hari. The show must go on, mungkin itu yang diinginkan Achilles terhadap sang pujaan hatinya dan berharap kelak bisa bertemu kembali, bersama dalam pernikahan sejati dikehidupan hakiki. 

Sungguh kematian Achilles "Sang Jihadis" cinta yang tragis dari sosok petarung legendaris dalam mitologi yunani seolah-olah menegaskan sabda Rumi, "Dengan hidup yang hanya sepanjang tarikan nafas, jangan tanam apa-apa kecuali cinta".

Saya melihat kisah cinta Achilles dan briseis seperti mengulang kisah cinta Jack dan Rose di film titanic. Betapa cinta itu menyenangkan juga menyakitkan. Cinta seperti ketika bermain judi, ada yang menang dan ada yang kalah, tertawa dan cemberut. Cinta itu ambigu dan paradok, malah ada yang bilang cinta itu absurd. Kehidupan cinta manusia terkadang juga tidak terlepas dengan sesuatu yang berulang- ulang, semacam dejavu. 

Entah sampai kapan, tapi saya merasakan hal yang sama. Bagaimana kita mencintai orang tua kita dan orang tua kitapun mengalami hal yang sama. Ketika kita mencintai seseorang yang kita cintai, seolah-olah juga merasakan perasaan yang sama ketika dengan mantan. Ketika merasa disakiti oleh yang kita cintai, sekan kita pernah mengalami ketika disakiti mantan. 

Cinta dan kehidupan seperti ketika membuka lembaran kertas kosong berwarna putih, selalu mendapatkan sesuatu yang sama dan seolah-olah berulang. Seperti Nietzsche bilang “Obat yang paling baik untuk menyembuhkan cinta adalah obat yang telah diketahui sepanjang zaman, membalas cinta”.

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Gunawan Prasetio
8 tahun yang lalu
kebaikan

Teruslah Berbuat Baik, Hingga Kebaikan Selalu Bersamamu

Ada seorang wanita yang membuat roti untuk makanan keluarganya setiap hari. Setiap harinya, wanita ini membuat roti ekstra untuk diberikannya pada orang lain yang kebetulan melewati rumahnya. Dia meletakkan roti itu pada jendela rumahnya untuk siapa saja yang ingin mengambil roti tersebut.

Setiap hari, ada orang yang sudah bungkuk datang dan mengambil roti itu. Tetapi, bukannya mengucapkan terima kasih dan menunjukkan keramahan, pria itu malah menggerutu sejumlah kata yang selalu dia ucapkan setiap hari. Beginilah kira-kira ucapannya: "Perbuatan burukmu akan tetap bersamamu, perbuatan baikmu akan kembali kepadamu."

Hal ini berlangsung secara terus-menerus, hari demi hari. Pria bungkuk itu selalu datang dan mengambil roti seraya mengatakan sesuatu dengan mengucapkan, "Perbuatan burukmu akan tetap bersamamu, perbuatan baikmu akan kembali kepadamu." Wanita itu merasa sebal dengannya,"Bukannya berterima kasih..," katanya dalam hati.

'Setiap hari pria itu mengatakan hal yang sama, apa maksudnya?' pikir wanita itu.Suatu hari, tiba-tiba dia memiliki keinginan untuk menyingkirkan pria bungkuk itu. Dia berniat membuat roti dengan racun di dalamnya. Tetapi, ketika akan meletakkannya pada jendela, dia gemetar dan tersadar. "Apa yang telah aku lakukan?" katanya. Roti itu akhirnya dibakarnya habis dan dia menggantinya dengan roti biasa. Seperti hari-hari sebelumnya, pria itu datang lagi dan tetap mengatakan hal yang sama, tidak menyadari peperangan batin dalam wanita itu.[quote]

Putra wanita itu pergi merantau jauh dari tempat tinggalnya. Dan sudah berbulan-bulan dirinya tak mendapatkan kabar tentang keberadaan putranya itu. Wanita ini terus berdoa agar putranya diberi keselamatan dan dapat kembali padanya.

Malam itu, pintu rumahnya diketuk dari luar, wanita itu pun membuka pintu rumahnya dan terkejut melihat sang anak berdiri dihadapannya. Anaknya itu terlihat sangat kurus dan lemah, rupanya dia kelaparan.

Sang anak menatap ibunya dan berkata,"Ibu, ini keajaiban. Ketika aku masih jauh dari sini, aku kelelahan dan pingsan. Aku mungkin akan mati kelaparan, tetapi pada saat itu ada orang bungkuk datang melintas dan memberiku sebuah roti," ungkap sang anak. Pria itu berkata," Ini yang aku makan setiap hari. Hari ini aku harus memberikannya padamu karena kamu lebih membutuhkannya daripada aku."

Kemudian seketika wajah ibunya memucat dan tersandar di tembok. Dia teringat akan roti beracun yang hampir saja dia berikan pada orang bungkuk itu pagi tadi. Andai saja dia memberikannya pada orang bungkuk itu, tentu anaknya lah yang akan dia racuni dengan tangannya sendiri. Akhirnya dia menyadari arti kata yang selalu diucapkan pria bungkuk itu,"Perbuatan burukmu akan tetap bersamamu, perbuatan baikmu akan kembali kepadamu."

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Nurul Hidayat
3 tahun yang lalu 04/11/22
ronggowarsito

Amanat Ronggowarsito untuk Abu Sawan

Headline

Abu Sawan? Jangan salah baca, ya. Abu Sawan. Bukan Abu Nawas. Benar. Kata Sawan ini merujuk pada istilah Jawa yang identik pada kejiwaan anak-anak bayi. Tiba-tiba saja tanpa diketahui penyebabnya, anak menangis histeris tanpa bisa dicegah.

Anak yang sedang mengalami sawan, rentang waktu kerewelannya bisa sangat lama redanya. Konon, anak yang sawanan akibat pengaruh makhluk halus yang sedang menyertainya, sehingga pengobatannya adalah dengan mendatangi orang pintar. Proses penyertaan makhluk halus tersebut biasa disebut dengan istilah kesambet.

Anak yang sawanan sebab kesambet tentu bukan lagi fenomena menarik, tetapi bagaimana  jika kondisi sawan menjangkiti orang dewasa? Barangkali, jika orang dewasa yang mengalaminya, bukan lagi sawan, tetapi kesurupan. Belakangan ini, orang yang kesambet lalu berakhir kesurupan sering-sering bisa berakibat massal. Berawal satu orang, tiba-tiba belasan buruh pabrik ikut-ikutan kesurupan.

Itu kesambet ala sisa-sisa zaman simbah. Di zaman canggih serba tekhnologi seperti saat ini, orang kesambet setan tidak melulu oleh sebab melewati tempat-tempat yang angker. Seseorang (atau bahkan saya juga), bisa kesambet saat ia mendatangi hutan-hutan di maya internet berupa hutan rimba bernama media sosial (medsos).

Sudah tidak terhitung orang yang selepas membuka-buka medsos, tiba-tiba mukanya memerah, otot-otot emosinya mengeras, jari-jemarinya bergerak-gerak, lalu bergemeretak liar di atas keyboard. Dari tuts yang diketuk, lantas berhamburanlah kalimat-kalimat aneh, mulai dari kalimat berisi makian, kutukan, cercaan dan cemooh, hingga saling ngeshare berita-berita yang isinya berjumpalitan kalimat adu-domba.  

Parahnya, karena kondisi jiwa yang sedang kesambet medsos ini, acapkali menular. Bahkan bisa mendorong banyak orang untuk berkerumun dalam satu barisan, lalu dengan amat kompak mengeluarkan ucapan-ucapan kotor tidak jelas. Jika tidak ada orang pintar yang membantunya agar segera pulih kesadarannya, bisa-bisa merusak apa saja yang ada di sekitarnya.

Waspada Abu Sawan

Nah. Kita kembali ke Abu Sawan. Sebagaimana namanya, Abu Sawan memang bukanlah Abu Nawas. Watak keduanya sudah pasti berkebalikan. Abu Nawas bisa membuat banyak orang mendadak tertawa bahagia, riang dan gembira. Orang yang sedang berduka gegara belum bayar hutang pun, mendadak cerah nan sumringah dibuatnya.

Pola Abu Sawan justru kebalikannya. Ia bisa membuat banyak orang mendadak susah bahagia. Susah tersenyum dan tertawa, meskipun sekedar untuk tersenyum ala kadarnya. Lha, jangankan yang lagi terharu dalam sedih, orang yang kedapatan bergembira pun tiba-tiba jadi ketakutan dan diliputi rasa cemas dan khawatir yang berlebihan. Saking berlebihannya itu sehingga mereka bisa mendadak sawanan.

Nah. Nama Abu Sawan ini saya gunakan untuk menggambarkan orang-orang yang gampang kesambet lalu jadilah sawanan. Gegara baca berita Gajah Mada ternyata muslim dan Candi Borobudur buatan Nabi Sulaiman, misalnya, langsung kesambet. Lantas menyebar beritanya ke sana-ke mari tanpa peduli ngecek kebenarannya. Sawanan, menuduh setiap orang yang meragukannya sebagai tidak Islami.

Saat tahu Jonru atau Felix itu ternyata mualaf. Lalu semua ucapan-ucapannya jadi viral. Tahu akhirnya Raisa menikah, kesambet. Lalu semua orang mengaku merasa pantas patah hati. Munculnya generasi Abu Sawan ini juga membuat banyak orang gampang sekali marah dan tersinggung. Kena ledek sedikit saja, main lapor aparat kepolisian.

Contoh paling heroik adalah moment Pemilihan presiden (Pilpres) 2014, yang telah berhasil membuat sawan banyak orang. Melihat ternyata Jokowi yang jadi presiden, kesambet patah hati sehingga susah sekali move on. Sawanan bareng-bareng. Pokok bukan Jokowi. Pokok bukan Prabowo.

Tiba-tiba saja tetangga sebelah memiliki cukup memiliki alasan untuk membenci setengah mati tetangga-tetangga lainnya. Saudara memusuhi saudaranya. Bahkan bisa membuat retak hubungan antara anak dan orang tuanya. Para sarjana hingga tukang becak mendadak semuanya punya alasan yang sangat memadai untuk saling membenci dan saling cakar satu sama lain.

Dari sawan berjamaah yang semula di level tetangga, hingga hubungan antara anak dan orang tua, kemudian mulai meluas pada hubungan sosial yang semula sebenarnya aman-aman saja. Orang-orang semakin mudah saja dibuat berkerumun dalam jumlah sangat besar. Berjamaah kompak saling teriak-teriak, sawan gegara berbeda etnis, beda agama, atau beda suku-bangsa.

Gerbang Zaman Edan

Munculnya fenomena orang kesambet lalu kesurupan atau sawan massal ini, mengingatkan saya pada ramalan tentang datangnya suatu zaman yang disebut dengan wolak-walik atau zaman edan, yang tertuang dalam kitab ramalan Jangka Jayabaya.

Menurut kitab yang konon karya adiluhung Raja Kediri, Prabu Jayabaya tersebut, jika zaman edan sudah tiba masanya, konon bukan hanya perilaku orang-orangnya yang edan, tetapi perilaku alam pun ikut-ikutan menjadi edan. Tiba-tiba alam bergolak, gunung-gunung meletus, terjadi banjir besar dan gempa bumi di banyak tempat.

Perilaku alam yang ikutan edan tersebut, dijelaskan oleh kitab Jangka Jayabaya, merupakan reaksi atas perilaku manusia yang semakin jauh dari nilai-nilai luhur, yang diungkapkan dengan kalimat, wong Jowo lali Jowone, orang Jawa mulai meninggalkan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh leluhur secara turun-temurun.

Ranggawarsito, dalam karyanya Serat Kalatidha, menyebutkan bahwa munculnya zaman edan tak bisa dielakkan, karena ia bagian dari siklus peradaban yang disebut dengan  siklus kalabendu. Datangnya siklus kalabendu, jelasnya, punya medan magnetik yang dapat mempengaruhi labilnya kondisi kesadaran. Orang-orang tiba-tiba sangat mudah sekali ditimpa kondisi psikologis yang gampang kagetangumunan lan dumeh.

Apa saja bisa memancing datangnya hawa amarah berkepanjangan. Lalu saling  mengutuk, dan saling lempar cercaan satu sama lain. Saling jegal dan saling khianat satu sama lain. Orang sabar, bijak, baik hati dan tidak sombong, malah dinyinyiri manusia yang sok suci melebihi kesucian para malaikat. Kondisi zaman di siklus kalabendu betul-betul penuh dengan sifat gampang gemerungsung.

Sifat-sifat gampang kagetan, gumunan lan dumeh, juga menjangkiti para pemangku kekuasaan. Kaget dan merasa gumun karena bisa menduduki kursi kejayaan, akhirnya mengalami sawan kekuasaan sehingga menimbulkan sikap aji mumpung dan sikap dumeh.

Maka, muncullah sikap yang mudah bertindak semau-maunya sendiri. Tidak peduli lagi soal benar-salah, baik atau buruk. Apa saja ditelan atau dimakan lahap, mulai dari gedung sekolah hingga aspalan jalan raya. Korupsi dan penyalagunaan kekuasan menjalar di mana-mana. Ancaman penjara mental bak angin lalu.

Nah, sebagaimana isyarat dalam kitab ramalan Jangka Jayabaya, sawan berjamaah ini bisa memancing alam ikut-ikutan tertular kondisi sawan.  Tampaknya,  dilihat dari ciri-cirinya, kita ini sepertinya sedang memasuki zaman yang disebut dengan zaman edan itu. Suatu zaman di mana baik-buruk, dan salah-benar mulai serba tidak jelas.

Semua orang mulai dihinggapi kondisi kejiwaan yang terlalu gampang kagetan, gumunan lan dumeh berjamaah.  Apalagi, jika melihat pertandanya sudah banyak bermunculan, seperti gempa besar di Jogja, tsunami di Aceh, dan bergolaknya sejumla gunung yang dianggap keramat oleh orang Jawa.

Malah, beberapa gunung juga masih terus berlanjut bergolak hingga saat ini, seolah-olah sengaja terus menggoda rasa takut, akan seberapa besar kengerian bencana yang ditimbulkan berikutnya. Lalu bagaimana caranya agar tetap selamat melewati zaman yang serba sawanan ini?  

Ranggawarsito menyarankan agar selalu mengasah kesadaran, yaitu eling lan waspodo. Daripada sibuk mendengarkan kabar-kabar angin yang tidak jelas, lebih baik menurutnya menghabiskan waktu dengan membaca cerita-cerita lama yang sarat makna dan spiritual.

Tentu pesan tersebut bukan hanya untuk pembaca tulisan ini, tetapi juga saya yang menulis. Sebab sesekali saya pun begitu. Sering kesambet berita. Lalu ikutan sawan. Menjelmalah jadi Abu Sawan. Barangkali tulisan ini pun lahir gegara saya sedang kesambet. Semoga saya dan Anda tidak kesambet saat membaca tuliusan ini yang dapat berakibat sawanan berjamaah.

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Djunawir Syafar
8 tahun yang lalu 27/03/18
Pesta dansa politik

Pesta, Dansa, dan Politik

Tahun yang sangat menggairahkan juga mencemaskan
Tahun penuh kejutan, fantasi, dan pengintaian

Tiba saatnya tahun politik
Semua harus ikut bertanggungjawab
Mengapa demikian?
Bukankah yang berpesta adalah mereka
Yang berdansa juga adalah mereka
Mengapa semua harus ikut bertanggungjawab?

Begitulah tahun pesta, dansa, dan politik
Yang berpesta atau tidak
Yang berpolitik atau tidak
Semuanya harus ikut berdansa, berpesta, dan bertanggungjawab

Jika demikian konsekuensinya
Maka biarlah pesta adalah hajat kita bersama
Biarlah dansa adalah energi kita bersama
dan biarlah politik adalah tanggung jawab kita bersama.

Tulisan ini sedikit diawali dengan “Metafor Puisi” yang sekaligus menggambarkan isi dan gagasannya. Mungkin ada yang bersepakat bahwa isu politik adalah tanggungjawab praktisi politik saja. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa diskursus mengenai politik adalah tanggungjawab semua masyarakat. Karena salah satu inti dari politik adalah meyangkut tatanan masyarakat yang sangat kompleks.

Menjelang momen politik baik dari tingkatan daerah hingga pusat, dari media massa hingga masyarakat luas, akan memberikan banyak energi dari mengikuti, memikirkan, hingga memberikan partisipasi baik secara langsung maupun tidak.

Inti dari tulisan singkat ini, terkait salah satu pertanyaan bagaimana sikap politik kita sebagai masyarakat umum jika diperhadapkan dengan pilihan politik yang semakin kompleks. Apakah kuasa partai atau organisasi, identitas agama, figur, visi dan misi adalah kata kunci dari pilihan politik?

Pertanyaan di atas sejalan dengan pandangan Michel Foucault, bahwa kekuasaan sama luasnya dengan lembaga sosial dan juga relasi kekuasaan yang saling terjalin dengan jenis-jenis relasi lainnya. Maka, pilihan politik adalah kompleksitas dari sebuah pilihan. Oleh karena itu, masyarakat harus terlibat aktif dari memikirkan hingga melakukan terkait bagian-bagian sosial yang ada disekeliling.

Karena konsekuensi dari pilihan politik hari ini, akan berdampak dan meluas pada lapisan dan tubuh sosial lainnya. Sehingga menjadi bagian dari masyarakat aktif yang ikut memikirkan dan terlibat, bisa menjadi alternatif membangun ruang publik yang sehat dan progresif.

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Erniyati Khalida
8 tahun yang lalu
Rumah Adat Kalimantan Tengah

Rumah Adat Kalimantan Tengah

PEWARTANUSANTARA.COM - Rumah Betang merupakan rumah adat yang berasal dari Kalimantan Timur. Rumah ini bukanlah rumah yang biasa, rumah yang mengambarkan bagaimana kehidupan dari masyarakat dayak (suku asli Kalimantan). Hidup secara komunal dan mementingkan rasa persaudaraan dan kekeluargaan di dalamnya.

Struktur bangunan dari rumah ini memang tidak jauh berbeda dengan provinsi lain di pulau Kalimantan. Di mana merupakan rumah panging dengan berbagai cirri khas tertentu. Justru yang membedakan Rumah Betang dengan rumah ada lainnya terdapat di sisi dalamnya. Rumah yang tidak hanya difungsikan sebagai tempat tinggal saja.

Rumah Betang di dalamnya terbagi menjadi beberapa ruangan, seluruhnya sangat penting. Bukan hanya untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga secara aturan adat Kalimantan Tengah. Ruangan yang dimaksud diantanyanya ialah ;

  • Ruang Pusat. Terletak pada bagian tengah dari Rumah Betang. Dengan ukuran yang lumayan luas, ruangan ini dipakai sebagai tempat untuk berkumpul. Berbagai kegiatan adat, social, masyarakat bahkan agama dilakukan di ruangan ini.
  • Ruang tidur. Rumah bentang penghuninya begitu banyak. Maka tidak heran kalau ada banyak sekali ruang tidur di dalamnya.
  • Ruangan tempat untuk memasak. Uniknya ruangan ini selalu dihadapkan pada aliran sungai, sebagai sebuah kepercayaan melancarkan rejeki.
  • Letaknya di bagian luar dan dipakai untuk menjemur padi. Jadi bahan lantai yang dipakai di ruangan ini adalah bamboo atau batang pinang.
  • Besebelahan dengan pante, akan tetapi dipakai sebagai tempat untuk bersantai seluruh anggota keluarga.
  • Secara umum bisa dibilang sebagai ruang tamu. Karena ini merupakan ruangan yang dipakai untuk kegiatan adat atau menerima tamu.
  • Ini adalah ruangan tambahan yang berada tepat di belakangnya bilik keluarga.

Dari beberapa ruangan yang telah dijelaskan tadi. Ternyata ada beberapa cirri khas yang membuat rumah Betang ini begitu berbeda dengan rumah adat lainnya. Mulai dari arah rumah yang selalu menghadap ke timur, tangga masuk yang selalu berjumlah ganjil. Sampai dengan pintu masuk yang didekatnya selalu ada patung atau rancak. Semuanya itu mengandung nilai filosofis dari masyarakat Dayak.

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Erniyati Khalida
2 tahun yang lalu 18/05/23
Rumah Adat Jawa Barat

4 Rumah Adat Jawa Barat

Culture

PEWARTANUSANTARA.COM - Rumah adat di Jawa Barat memiliki beragam jenis, dan setiap jenisnya memiliki nilai dan syarat khusus dengan makna yang mendalam.

Rumah adat ini menjadi pegangan dan menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Sunda, yang merupakan masyarakat asli Jawa Barat.

Desain dari Rumah Adat ini mencerminkan kearifan lokal dan kekayaan budaya masyarakat setempat.

Ada beberapa jenis rumah adat yang memiliki nama-nama yang berbeda di Jawa Barat.

Beberapa di antaranya adalah Jolopong, Badak Heuay, Jubleg Nangkub, Tagong Anjing, dan Perahu Kemureb. Setiap jenis rumah adat memiliki ciri khas dan karakteristik yang membedakannya.

Masing-masing rumah adat ini memiliki sejarah dan nilai-nilai budaya yang menjadi bagian penting dalam identitas masyarakat Jawa Barat.

Melalui pemahaman dan penjagaan terhadap rumah adat ini, kita dapat menghargai dan mempelajari kekayaan budaya serta kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Jawa Barat.

Rumah adat ini juga menjadi aset budaya yang berharga dan perlu dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya bangsa.

Imah Julang Ngapak - Rumah Togog Anjing - Rumah Badak Heuay - Rumah Jolopong

Rumah Adat Jawa Jarat - Ilustrasi

Imah Julang Ngapak

Sesuai dengan namanya, rumah ini mempunyai ciri khas dari atapnya. Kalau anda cermati dengan baik, bagian atap seperti kepakan sayap seekor burung. Dengan sisi yang lebar kalau dilihat melalui depan dan dilengkapi cagak gunting.

Rumah Togog Anjing

Desain dari rumah ini bentuknya menyerupai anjing yang sedang duduk. 2 bidang atap yang disatukan serupa dengan bentuk segitiga. Ditambah dengan atap penyambung, biasanya masyarakat Sunda menyebutnya dengan sorondoy.

Rumah Badak Heuay

Bentuknya hampir serupa dengan Tagog Anjing. Akan tetapi, perbedaan terletak pada bagian suhunan. Atapnya dibuat melebihi tepi dari pertemuan dan kalau diperhatikan serupa dengan Mulut Badak. Banyak ditemukan di wilayah Sukabumi.

Rumah Jolopong

Nah, selanjutnya ada rumah adat Jolopong dengan atapnya lurus. Terdapat 2 bagian pada atap bersatu dengan panjang yang serupa. Jadi kalau dilihat, secara garis imaginer dari ujung satu dengan lainnya akan membentuk segitiga dengan kaki yang sama.

Itulah tadi beberapa jenis dari rumah adat Jawa Berat. Dari beberapa rumah yang tadi telah diulas ada salah satu yang dikenal masyarakat Indonesia.

Rumah ini juga banyak dibuat oleh masyarakat sunda lantaran dari cara membuatnya sangat mudah. Bahan yang dipakai tidak terlalu memakan biaya yang mahal.

Kalau melihat, dari namanya, maka Jololong artinya terlukai. Di mana yang menjadi ciri khas terletak pada bagian atap. Seperti yang telah disebutkan tadi. Demikian penjelasan mengenai rumah adat dari Jawa Barat.

Baca Juga: Rumah AdatProvinsi  Maluku Utara (Sasadu)

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Luthfi Muhammad
8 tahun yang lalu 07/03/18
Skripsi dan cinta

Skripsi dan Cinta

Erniyati Khalida
8 tahun yang lalu
Rumah Baloy

Rumah Adat Kalimantan Utara

PEWARTANUSANTARA.COM - Suku dayak, ternyata mempunyai banyak sekali sub suku. Salah satunya Suku Tidung yang berada di wilayah Kalimantan Utara. Suku Tidung mempunyai rumah adat yang dikenal sengan sebutan Rumah Baloy. Sekilas diperhatikan, rumah adat dari Kalimantan Utara ini hampir menyerupai rumah adat dari Kalimantan Timur.

Desain dari Rumah Baloy adalah rumah panggung. Hampir seluruh bahan yang digunakan untuk membangun rumah ini berasal dari kayu ulin. Sebagian besar rumah adat di Kalimantan dibuat dari bahan ini. Sebab, kayu ini adalah kayu yang kuat dan tahan lama. Sesuai dengan struktur bangunannya, Rumah Baloy biasanya terletak di wilayah tepi pantai.

Ditinjau dari segi fungsi, Rumah Baloy ini ternyata bukan merupakan tempat tinggal. Fungsi utamanya yakni untuk balai atau tempat khusus kepala adat. Hal tersebut berpengaruh terhadap penataan ruang rumah Baloy. Ruangan ditata dan disesuaikan dengan menjunjung tinggi fungsi social. Ruang di dalam Rumah Baloy diantaranya ialah sebagai berikut ;

  • Ambir Kiri. Bagi masyarakat ruangan ini dikenal dengan sebutan Alad Kait. Digunakan sebagai tempat untuk menerima tamu yang berkaitan dengan keadaatan.
  • Amir Tenga/ Lamin Bantong. Tempat ini dipakai sebagai tempat bersidang bagi ketua adat.
  • Ambir Kanan/ Ulad Kemagot. Kalau ruangan ini merupakanruang istirahat susai melakukan siding atau musyawarah adat.
  • Di dalam rumah juga terdapat Lamin Dalom, yakni singgasana Kepala Adat Suku Tidung.
  • Di Bagian belakang ada kolam, dan ada bagunan yang disebut dengan Lubung Kilong. Sebuah panggung yang biasa digunakan sebagai tempat pagelaran adat suku Tidung. Tidak lupa pula ditambahkan bangunan untuk penontong (Lubung Intamu)

Setelah melihat dari segi tata ruang dari Rumah Baloy. Bisa dilihat bahwa selalu ada untur budaya dan seni, jika dilihat dari arsitekturnya. Dari situlah muncul sebuah ciri khas serta keunikan dari Rumah Baloy ini.  Selalu ada ukiran di setiap Rumah Balay. Ukiran kebanyakan menggambarkan tentang kehidupan masyarakat Tidung yakni nelayan dan pelaut. Itulah secara singkat gambaran mengenai rumah adat Kalimantan Utara.

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Gunawan Prasetio
8 tahun yang lalu 09/03/18
Koalisi PKS Gerindra

Pilpres 2019 PKS Berkoalisi Dengan Gerindra, Mardani: Siap Hadirkan Lawan Untuk Jokowi

PEWARTANUSANTARA.COM - Partai PKS dipastikan berkoalisi dengan Gerindra untuk maju di Pilpres 2019 mendatang. Mardani Ali Sera, Ketua DPP PKS menyatakan siap mendukung ketua umum Partai Gerindra Prabowo Subianto maju sebagai capres.

"Feeling saya, Prabowo akan deklarasi capres dari Gerindra. PKS siap dukung," tegas Mardani, Jumat (9/3/2018).

Menurut Mardani, kalau pihak Gerindra yang mengajukan sebagai capres tentu menjadi hal yang wajar. Karena, jumlah kursi Gerindra dan PKS di DPR mempunyai perbedaan yang cukup jauh.

"Kita harus bersama-sama. Kalau formasinya dua partai, Gerindra-PKS, sangat wajar kalau capresnya dari Gerindra. Karena Gerindra kursinya 73, kita 40, itu sudah cukup (mengusung capres/cawapres)," ujarnya.

Kalau keduanya maju, PKS akan mengajukan 9 nama capres/cawapres untuk dibahas bersama Gerindra. Harapannya capres/cawapres yang diusung berasal dari internal kedua partai tersebut.

"Gerindra kita minta Prabowo boleh, monggo putuskan siapa capresnya. Nanti ajuan Gerindra siapa, ajuan PKS siapa, kita bahas bersama. Ini kalau formasinya dua partai," ujar Mardani.

Walaupun secara matematis keduanya bisa saja bergabung mengusung capres-cawapres, dan boleh jadi masih membuka peluang koalisi dengan parpol lainnya. Misalnya PAN, yang diakui tengah intens berkomunikasi dengan PKS.

"Semua sekarang masih cair, bisa internal bisa eksternal. Tetapi kan pemutusnya itu adalah partai yang punya tiket. Dalam hal ini, kalau PKS ya Presiden PKS atau Ketua Majelis Syuro. Kalau Gerindra ya Pak Prabowo. Kalau PAN bergabung, ya PAN berhak untuk bersuara," kata Mardani.

Sementara itu, lanjutnya, PKS tetap yakin tak akan merapat ke koalisi Joko Widodo, bahkan partainya siap menghadirkan lawan untuknya. Sebab, jika PKS merapat bersama Jokowi, ada potensi pada pilpres 2019 akan diikuti calon tunggal saja.

Ia juga berharap, pada pilpres mendatang benar-benar menjadi pesta demokrasi dengan memberikan kepada rakyat pilihan pilihan calon pemimpin yang tepat.

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Erniyati Khalida
8 tahun yang lalu
Rumah Adat Kalimantan Selatan Bubungan tinggi

Rumah Adat Kalimantan Selatan

PEWARTANUSANTARA.COM - Bubungan Tinggi adalah rumah adat dari masyarakat Banjar, suku asli dari Kalimantan Timur. Bila dilihat, arsitektur dari rumah adat ini terbilang begitu unik. Seklilas seperti rumah Bapang dari Betawi. Namun sebenarnya berbeda jauh, karena rumah ini merupakan rumah panggung. Dengan tiang tegak yang berdiri dan tangga di depan rumah.

Dahulu, rumah Bubungan Tinggi ini merupakan sebuah pusat pemerintahan. Rumah yang menjadi kediaman para raja atau kepala adat tertua. Makanya, ruang yang terdapat di dalamnya ditata dengan baik. Ada 3 jenis ruangan di rumah adat ini, yakni ruang terbuka, setengah terbuka serta ruang dalam.

Setiap jenis ruangan dibagi menjadi bagian-bagian. untuk lebih ringkasnya berikut adalah beberapa ruangan di rumah Bubungan Tinggi, Kalimantan Selatan ;

  • Serambi. Terletak di bagian depan, ada tempat air yang dipakai guna membasuh kaki orang yang hendak masuk rumah.
  • Panurunan (Panampik Kecil), ruangan untuk menyimpan peralatan perkakas. Umumnya yang berada di ruangan ini ialah tombak, dayung, terompah dan masih banyak lainnya.
  • Paluaran (Penampik Besar), ruangan yang cukup besar. Sesuai dengan fungsinya sebagai tempat untuk menggelar berbagai acara adat.
  • Palidangan. Ruangan selanjutnya ini terbagi menjadi 3 bagian dengan fungsi yang berbeda-beda. Palingan Dalam ruangan khusus untuk wanita ketika kegiatan adat. Anjungan Kanan difungsikan untuk tempat ibadah dan istirahat. Anjungan Kiwa, tempat untuk persalinan atau merawat jenazah.
  • Pamedangan. Ruangan ini memiliki lantai yang tinggi dibandingkan dengan ruang lainnya. Di tempat ini terdapat dua kursi yang panjang.
  • Padu, Sedangkan ruangan terakhir bisa dikatakan sebagai dapur. Tempat di mana untuk menyimpan makanan dan memasak.

Bila dilihat dari arsitekturnya, gaya dari rumah bubungan tinggi ini begitu unik. Itulah yang menjadi sebuah ciri khasnya. Rumah adat Kalimantan Selatan ini memilik atap yang lancip dan tinggi. Atap tersebut biasa disebut dengan Sindang Langit. Keunikannya lainnya terletak pada tanggu yang jumlahnya selalu ganjil. Di bagian ruang pamedangan dikelilingi oleh pagar berukiran Kandang Rasi. Semuanya itu hanya terdapat di rumah adat Kalimantan Selatan.

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap