Rudal Iran

Iran memang meluncurkan lebih dari 100 rudal balistik dan drone ke Israel serta pangkalan militer AS di Teluk pada 28 Februari 2026, sebagai balasan atas serangan AS-Israel yang menghantam Teheran pagi hari itu.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengonfirmasi "gelombang pertama serangan besar-besaran" dengan rudal balistik yang menargetkan wilayah pendudukan Israel, basis AS seperti Al Udeid di Qatar, Armada Kelima di Bahrain, serta sekutu Teluk (Kuwait, UEA, Arab Saudi, Yordania). Pejabat Iran menyebut "tidak ada garis merah" setelah agresi gabungan AS-Israel, dengan ledakan terdengar di Haifa dan Holon Israel.
Serangan ini memicu sirene darurat yang bergema di seluruh Israel—utara, tengah, Tel Aviv, Yerusalem—memaksa warga berlarian ke bunker; IDF mengklaim sebagian besar dicegat Iron Dome, tapi bisa jatuh karena kerusakan minor tanpa korban jiwa dilaporkan awal.
Israel tetapkan status darurat nasional penuh: tutup sekolah, kantor, larang kepadatan >30 orang, wilayah udara tutup total. IDF mengaktifkan Angkatan Udara intersep dan siaga serang balik; Menteri Pertahanan Katz menyebut ini validasi serangan pre-emptive pagi tadi. AS konfirmasi basisnya di Teluk jadi target, tapi sistem Patriot di Qatar dan UEA sukses intersep banyak rudal; Trump tegaskan operasi lebih lanjut menghancurkan stok Rudal Iran, dengan dua kelompok kapal induk tambahan di kawasan.
Sirene darurat tidak hanya terjadi di Israel, tetapi juga Bahrain, Qatar, UEA, Kuwait akibat lintasan rudal; maskapai global alihkan rute, bandara Dubai batalkan penerbangan Timur Tengah. Korban awal: puing rudal Iran membunuh 1 warga UEA dan 4 di Suriah, tanpa luka berat di Israel/AS dilaporkan saat ini.
Situasi eskalasi tinggi dengan potensi gelombang kedua Iran dan respon lanjutan AS-Israel, di tengah penutupan udara regional luas.

Iran membalas serangan Israel-AS dengan meluncurkan rentetan rudal balistik dan drone ke Israel serta sekutu regionalnya pada 28 Februari 2026. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyebut ini sebagai "gelombang pertama serangan besar-besaran" sebagai respons atas agresi AS-Israel yang menargetkan Teheran dan fasilitas militer Iran.
IRGC mengkonfirmasi peluncuran rudal balistik dan drone ke wilayah Israel, dengan drone memerlukan waktu berjam-jam untuk mencapai target. Serangan ini juga menyasar basis militer AS di Timur Tengah seperti Al Udeid di Qatar (dicegat Patriot), basis di Kuwait (rusak tapi personel aman), Bahrain, Yordania, Suriah, Arab Saudi, serta UEA yang intersep rudal kedua. Houthi Yaman umumkan melanjutkan serangan Laut Merah sebagai dukungan.
Sirene darurat berbunyi di Israel saat drone dan rudal mendekat, dengan intersepsi siaga IDF seperti operasi sebelumnya di mana sebagian besar pesawat tempur dicegat. Iran menyebut sasarannya "semua kepentingan rezim Zionis" termasuk pangkalan udara dan pusat militer.
Israel umumkan keadaan darurat nasional, penutupan sekolah dan tempat kerja, serta batasi kegagalan karena ancaman. Menteri Pertahanan Israel Katz menyebut serangan balasan ini bukti kebutuhan operasi pre-emptive sebelumnya. Presiden Trump tegaskan operasi AS lebih lanjut untuk menghancurkan kemampuan rudal dan nuklir Iran, memanggil IRGC serah diri.
Sistem pertahanan seperti Patriot di Qatar dan UEA sukses intersep banyak rudal, meski puing menyebabkan korban sipil di Suriah (4 tewas) dan UEA (1 tewas).
Serangan picu eskalasi luas: Kuwait laporkan Rudal Iran hantam basis militer Italia (rusak tapi aman), sementara Oman, Spanyol, dan kecam Lebanon. Oposisi Iran rayakan serangan AS-Israel sebagai peluang menggulingkan rezim, dengan potensi protes baru. Situasinya dinamis dengan potensi gelombang kedua dari Iran dan respons lanjutan AS-Israel.

Iran baru-baru ini memamerkan jaringan terowongan rudal bawah laut milik Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Selat Hormuz sebagai respons terhadap ketegangan dengan AS.
Komandan Alireza Tangsiri menunjukkan deretan rudal jelajah siap tembak dalam rekaman TV pemerintah, yang menyimpan ratusan rudal dengan jangkauan lebih dari 1.000 km seperti Qader 380 L berpanduan cerdas untuk target kapal perang AS di Teluk Persia dan Laut Oman. Terowongan ini dirancang rahasia untuk dominasi bawah air di wilayah strategis yang dilalui 20% minyak dunia.
Pengungkapan pada akhir Januari 2026 bertepatan dengan ancaman Iran mengganggu lalu lintas Selat Hormuz dan kapal induk AS mendekat, dengan klaim intelijen real-time dari udara hingga bawah laut. Iran menegaskan kesiapan menghadapi agresi apa pun.