Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Daerah

Dilantik Wabup Mamuju Tengah, HIPMA-MATENG Yogyakarta Desak Beasiswa dan Pelestarian Budaya

Pelantikan Pengurus Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Mamuju Tengah (Hipma-Mateng) Yogyakarta menjadi momentum penting bagi mahasiswa asal Mamuju Tengah untuk menyampaikan aspirasi langsung kepada pemerintah daerah. Dua isu utama mengemuka dalam pertemuan tersebut, yakni kebutuhan…

Pelantikan Pengurus Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Mamuju Tengah (Hipma-Mateng) Yogyakarta menjadi momentum penting bagi mahasiswa asal Mamuju Tengah untuk menyampaikan aspirasi langsung kepada pemerintah daerah. Dua isu utama mengemuka dalam pertemuan tersebut, yakni kebutuhan beasiswa bagi mahasiswa dan dukungan fasilitas untuk memperkenalkan budaya Mamuju Tengah di Yogyakarta.

Pengurus baru Hipma-Mateng Yogyakarta dilantik langsung oleh Wakil Bupati Mamuju Tengah, Dr. H. Askary Anwar, S.Sos., M.Si., dalam kegiatan yang berlangsung di Yogyakarta, Sabtu (29/8/2026).

Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Kesbangpol Kota Yogyakarta, Catur Setyo Ari Nugroho, S.Psi., Ketua Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Sulawesi Barat (IKAMA SULBAR) Yogyakarta, Misbahuddin Yamin, S.T., S.H., serta mahasiswa dan pelajar asal Mamuju Tengah di Yogyakarta.

Mahasiswa Minta Pemerintah Perkuat Fasilitas Budaya

Ketua Hipma-Mateng Yogyakarta, Darman Asmali, mengatakan pelantikan pengurus kali ini memiliki arti lebih dari sekadar pergantian kepengurusan. Menurutnya, kehadiran Wakil Bupati Mamuju Tengah menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menyampaikan kebutuhan mereka secara langsung.

“Kami sangat mengapresiasi atas kehadiran Bapak Wakil Bupati malam ini, jauh-jauh dari Sulbar hadir untuk menemui kita semua di Yogyakarta. Kami harap ini menjadi kesempatan yang sangat berharga untuk kami menyampaikan beberapa aspirasi kami sebagai mahasiswa Mamuju Tengah di Yogyakarta,” kata Darman.

Salah satu aspirasi yang disampaikan adalah dukungan pengadaan fasilitas kebudayaan, khususnya pakaian adat.

Darman menjelaskan, mahasiswa Mamuju Tengah di Yogyakarta kerap mengikuti berbagai kegiatan seni dan budaya yang melibatkan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang untuk memperkenalkan budaya Mamuju Tengah dan Sulawesi Barat kepada masyarakat luas.

“Kami sangat berharap kepada Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah untuk memberikan dukungan fasilitas kebudayaan, terutama pakaian adat. Guna kami pakai saat pertunjukan di Jogja sebagai bentuk pengenalan pakaian budaya daerah kita,” ujarnya.

Selain fasilitas budaya, mahasiswa juga menyampaikan aspirasi di bidang pendidikan.

Hipma-Mateng berharap Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah dapat menghadirkan program beasiswa bagi mahasiswa jenjang S1, termasuk mahasiswa asal Mamuju Tengah yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta.

“Kami berharap kepada pemerintah untuk menyediakan beasiswa di tingkat S1, termasuk untuk kami mahasiswa yang ada di Jogja, untuk mendukung semangat kami menuntut ilmu di Yogyakarta,” lanjut Darman.

IKAMA Sulbar Soroti Minimnya Inventaris Pakaian Adat

Ketua IKAMA SULBAR Yogyakarta, Misbahuddin Yamin, turut memberikan perhatian terhadap persoalan fasilitas kebudayaan.

Ia menilai mahasiswa Sulawesi Barat di Yogyakarta memiliki semangat besar untuk memperkenalkan identitas daerah. Namun, keterbatasan inventaris pakaian adat masih menjadi salah satu kendala.

Menurutnya, berbagai agenda kebudayaan di Yogyakarta menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan budaya Sulawesi Barat.

“Yogyakarta setiap tahun melakukan kegiatan kebudayaan Selendang Sutra dan acara itu dihadiri semua mahasiswa se-Indonesia yang ada di Yogyakarta. Selama ini kami hanya selalu meminjam pakaian adat untuk kami pakai tampil di acara tersebut,” katanya.

Misbahuddin berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan konkret melalui pengadaan inventaris kebudayaan.

“Kami sangat bersemangat untuk memperkenalkan budaya Sulbar, terutama dalam memperkenalkan pakaian adat kita. Maka untuk itu kami sangat berharap kepada pemerintah untuk segera mendukung kami dalam pengadaan inventaris kebudayaan,” tegasnya.

Selain persoalan kebudayaan, Misbahuddin juga berpesan kepada pengurus Hipma-Mateng agar tidak meninggalkan tradisi intelektual mahasiswa.

“Terus menghidupkan ruang-ruang diskusi. Bagaimanapun, diskusi adalah identitas kita sebagai mahasiswa,” ujarnya.

Kesbangpol Yogyakarta Tawarkan Ruang Kolaborasi

Sementara itu, perwakilan Kesbangpol Kota Yogyakarta, Catur Setyo Ari Nugroho, mengapresiasi keberadaan organisasi mahasiswa daerah di Yogyakarta.

Menurut Catur, aktivitas organisasi dapat menjadi sarana bagi generasi muda untuk mengembangkan kapasitas dan kepemimpinan di luar lingkungan akademik.

“Kami sangat mengapresiasi semangat anak muda dalam membangun kualitas diri, tidak hanya di dalam kampus tapi juga dalam bentuk kerja-kerja organisasi,” kata Catur.

Ia juga membuka peluang komunikasi dan kolaborasi antara mahasiswa Sulawesi Barat dengan Pemerintah Kota Yogyakarta.

“Kami sangat terbuka jika memang mahasiswa Sulawesi Barat ingin membangun komunikasi dengan pemerintah di Yogyakarta, atau bisa juga kita kolaborasi dalam kegiatan-kegiatan nantinya,” ujarnya

.

Wabup Askary: Proposal Segera Diajukan

Menanggapi aspirasi mahasiswa, Wakil Bupati Mamuju Tengah, Askary Anwar, menegaskan bahwa pemerintah daerah terbuka terhadap kritik, saran, dan masukan dari mahasiswa.

Ia juga memberikan respons konkret terhadap aspirasi terkait fasilitas kebudayaan.

“Saya sangat bangga dan mengapresiasi atas semangat adik-adik mahasiswa malam ini. Saya bangga karena kalian ingin menggunakan pakaian adat kita dan memperkenalkannya kepada semua yang hadir malam ini, termasuk dari Kesbangpol Kota Jogja,” kata Askary.

Terkait pengadaan fasilitas kebudayaan, Askary meminta pengurus Hipma-Mateng segera menyiapkan proposal.

“Menjawab atas aspirasi yang disampaikan oleh adinda Darman, saya perintahkan untuk segera membuat proposal dan dimasukkan tahun ini, dan kita akan anggarkan di tahun depan,” tegasnya.

Komitmen tersebut membuka peluang bagi mahasiswa Mamuju Tengah di Yogyakarta untuk memiliki fasilitas kebudayaan yang dapat digunakan dalam berbagai kegiatan promosi budaya.

Askary juga menyatakan pemerintah daerah akan terus memberikan dukungan kepada mahasiswa Mamuju Tengah yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta.

“Insyaallah kami selalu akan mendukung adik-adik mahasiswa di Yogyakarta, dan kalian harus pulang dan menjadi pelaku di daerah kita sendiri,” ujarnya.

Mahasiswa Diminta Tak Hanya Mengkritik

Dalam kesempatan tersebut, Askary juga mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya mengambil posisi sebagai pihak yang mengkritik kebijakan pemerintah.

Menurutnya, kritik tetap diperlukan sebagai bagian dari kontrol sosial, tetapi mahasiswa juga harus memiliki keberanian untuk terlibat langsung dalam pembangunan daerah.

“Jangan hanya menjadi mahasiswa yang pandai mengkritik, tapi juga mari kita terjun sama-sama untuk membangun daerah kita. Kita tidak melarang kritik karena itu dijamin Undang-Undang, tapi akan lebih baik jika kalian menjadi pelaku untuk kemajuan daerah kita,” pungkasnya.

Pelantikan Hipma-Mateng Yogyakarta akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda organisasi. Pertemuan tersebut memperlihatkan adanya ruang komunikasi antara mahasiswa, organisasi daerah, pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah, dan Pemerintah Kota Yogyakarta.

Dengan kepengurusan baru, Hipma-Mateng Yogyakarta diharapkan mampu menjadi wadah konsolidasi mahasiswa, memperkuat budaya diskusi, menjaga identitas daerah, memperkenalkan kebudayaan Mamuju Tengah di tingkat nasional, serta menyiapkan generasi muda yang nantinya dapat kembali dan berkontribusi bagi pembangunan daerah asal.

K. Herman Setiawan

Pewarta

K. Herman Setiawan

Penulis di Pewarta Nusantara.