Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Warga Aceh Memanfaatkan Kayu Gelondongan Jadi Perahu

Kisah Salihin dan warga Toweren Owaq ini memperlihatkan bagaimana orang dipaksa beradaptasi di tengah bencana dan kebijakan yang berubah-ubah. Di balik kreativitas memanfaatkan kayu banjir, ada cerita kerentanan sosial-ekonomi yang cukup dalam.[1][2]   ##…

Kisah Salihin dan warga Toweren Owaq ini memperlihatkan bagaimana orang dipaksa beradaptasi di tengah bencana dan kebijakan yang berubah-ubah. Di balik kreativitas memanfaatkan kayu banjir, ada cerita kerentanan sosial-ekonomi yang cukup dalam.[1][2]

 

## Konteks bencana dan larangan

 

Banjir bandang di sekitar Danau Lut Tawar merusak lahan pertanian dan infrastruktur, membuat banyak warga kehilangan sumber nafkah utama mereka. Pemerintah daerah awalnya melarang warga mengambil kayu gelondongan bekas banjir dengan alasan kepentingan penyelidikan dan penertiban, sehingga akses warga terhadap sumber daya baru ini sempat terhambat.[7][1]

 

## Pemanfaatan kayu untuk bertahan hidup

 

Di situasi tersebut, warga kemudian memanfaatkan kayu-kayu gelondongan yang terseret banjir sebagai bahan bangunan dan alat produksi, termasuk untuk membuat perahu. Salihin, misalnya, menyusun kayu-kayu itu menjadi perahu agar bisa kembali mencari ikan di Danau Lut Tawar karena sawah dan sumber penghasilannya yang lain sudah rusak.[2][1]

 

## Perubahan kebijakan pemerintah

 

Setelah sempat dilarang, kayu-kayu bekas banjir sekarang diperbolehkan dimanfaatkan, terutama untuk keperluan rehabilitasi dan kebutuhan darurat di lapangan. Namun pemanfaatannya tetap dibatasi, antara lain tidak boleh dibawa keluar Aceh tanpa izin, sehingga secara resmi diarahkan untuk membantu pemulihan warga terdampak dan infrastruktur lokal.[3][9][1]

 

## Makna sosial dan struktural

 

Cerita ini menonjolkan bagaimana warga mengandalkan kreativitas dan solidaritas lokal ketika sistem perlindungan dan pemulihan negara belum sepenuhnya menjangkau mereka. Di sisi lain, perubahan sikap pemerintah dari melarang menjadi membolehkan menunjukkan tarik-menarik antara kepentingan penegakan hukum/penyelidikan dengan kebutuhan mendesak warga untuk bertahan hidup.[9][1][2][7]

 

Kalau ingin, teks ini bisa dikembangkan jadi naskah berita feature, esai opini, atau caption media sosial yang menonjolkan aspek ketahanan warga dan kritik halus terhadap respons kebijakan.

 

[1](https://www.bbc.com/indonesia/articles/cgmnmkdgy9no)

[2](https://www.tiktok.com/@bbcnewsindonesia/video/7589316066740817159)

[3](https://www.instagram.com/reel/DS3k4-kkedW/)

[4](https://www.instagram.com/reel/DSqu2stE-td/)

[5](https://www.facebook.com/BBCNewsIndonesia/videos/warga-di-toweren-owaq-aceh-tengah-memanfaatkan-kayu-gelondongan-yang-terbawa-ban/1134316838780171/)

[6](https://www.youtube.com/shorts/YsXVs8qy41Q)

[7](https://www.youtube.com/watch?v=E7f-GuGLlrY)

[8](https://x.com/BoilsUp)

[9](https://www.antaranews.com/berita/5301190/pemprov-kayu-bekas-banjir-bandang-tak-boleh-dibawa-keluar-aceh)

[10](https://www.instagram.com/reel/DS3pZ7EiH_x/)

 

Video: BBCINDONESIA

Tag:
Pole Vox

Penulis

Pole Vox

Penulis di Pewarta Nusantara.