Sonette Ehlers, penemu asal Afrika Selatan, pernah memperkenalkan sebuah perangkat bernama Rapex atau Rape-aXe pada 2005. Alat tersebut dirancang sebagai perangkat perlindungan yang dipakai di dalam vagina dan memiliki kait kecil yang dapat menempel pada penis pelaku ketika terjadi penetrasi paksa.
Ehlers mengatakan gagasan tersebut muncul dari keinginannya membantu perempuan menghadapi risiko kekerasan seksual. Ia berharap perangkat itu dapat memberikan waktu bagi korban untuk melarikan diri sekaligus membuat pelaku harus mencari pertolongan medis, sehingga identitasnya berpotensi diketahui.

Cara kerja perangkat tersebut menjadi alasan mengapa Rapex mendapat julukan kontroversial seperti “kondom bergigi”. Kait yang mengarah ke dalam dirancang agar menempel ketika pelaku berusaha menarik diri. Menurut penjelasan Ehlers saat itu, alat tersebut harus dilepas oleh tenaga medis.
Namun, sejak diperkenalkan, Rapex menuai kritik dari kelompok yang bergerak dalam isu kekerasan terhadap perempuan. Salah satu kekhawatiran utama adalah kemungkinan perangkat tersebut justru membuat pelaku semakin agresif dan meningkatkan risiko korban mengalami kekerasan yang lebih parah.
Kritik lainnya menyebut pendekatan tersebut berpotensi mengalihkan tanggung jawab pencegahan kekerasan seksual kepada perempuan. Organisasi Rape Crisis Cape Town pada 2005 mempertanyakan apakah perangkat semacam itu benar-benar dapat menjadi solusi terhadap persoalan pemerkosaan yang lebih luas.
Perangkat tersebut juga tidak pernah menjadi produk massal seperti yang sering digambarkan dalam unggahan media sosial. AFP Fact Check melaporkan pada 2020 bahwa prototipe Rape-aXe memang pernah dibuat dan sejumlah sampel didistribusikan, tetapi perangkat tersebut belum diproduksi massal atau tersedia untuk dibeli masyarakat.

Africa Check juga menemukan bahwa klaim mengenai Rape-aXe yang disebut sudah dijual bebas di apotek tidak benar. Pengembang memang membuat prototipe dan melakukan pengembangan, tetapi produk tersebut masih berada dalam tahap pengembangan dan pengujian.
Karena itu, unggahan yang menggambarkan Rapex sebagai alat antipemerkosaan yang sudah tersedia luas perlu diberi konteks. Penemuan tersebut merupakan proyek lama dari 2005 dan hingga laporan pemeriksaan fakta pada 2020 belum menjadi produk yang dipasarkan secara luas.
Kontroversi Rapex pada akhirnya memperlihatkan perdebatan yang lebih luas: apakah perangkat perlindungan individual dapat menjadi bagian dari upaya menghadapi kekerasan seksual, atau justru berisiko menempatkan beban pencegahan pada korban. Kritik dan dukungan terhadap perangkat tersebut sudah muncul sejak pertama kali diperkenalkan.
Jadi, klaim bahwa seorang wanita Afrika Selatan menciptakan alat untuk membantu mencegah pemerkosaan memang memiliki dasar sejarah. Namun, menyebutnya sebagai produk yang sudah tersedia luas saat ini tidak sesuai dengan hasil pemeriksaan fakta yang tersedia.