
Tragedi mengerikan terjadi di Kelapa Gading Timur, Jakarta Utara, pada Selasa petang, 24 Februari 2026, di mana seorang adik berinisial MAH (15-16 tahun, pelajar SMP) menganiaya kakak kandungnya, MAR (21-22 tahun), hingga tewas menggunakan palu yang menghantam kepala korban berulang kali.
Insiden bermula sekitar pukul 17.20-17.30 WIB di rumah mereka di Jalan Puskesmas RT 05/06, ketika korban sedang memberi makan hewan peliharaan. Pelaku tiba-tiba mengambil palu dan memukul kepala kakaknya sekitar lima kali hingga korban roboh bersimbah darah di ruang tamu. Teriakan histeris ibu korban memicu warga tetangga berbondong-bondong datang; korban sempat dibawa ke RS Gading Pluit tapi dinyatakan meninggal pukul 18.00 WIB. Polisi langsung mengamankan pelaku yang pasrah tanpa melawan, dan jasad korban kini diotopsi di RS Polri Cramat untuk konfirmasi penyebab kematian.
Menurut Kasat PPA Polres Metro Jakarta Utara, Kompol Ni Luh Sri Arsini, motif utama diduga rasa iri dan cemburu pelaku karena merasa ibunya lebih perhatian pada kakak sebagai anak tertua—setiap permintaan korban selalu dipenuhi, termasuk biaya perbaikan mobil pasca-kecelakaan, sementara pelaku prihatin dengan kondisi ekonomi keluarga yang sedang susah. Ayah mereka tinggal terpisah, ibu berjualan di luar, dan konflik ini sudah dipendam berbulan-bulan karena pelaku merasa tidak didengar saat curhat. Saat emosi memuncak, aksi spontan itu terjadi sebagai ledakan ketidakadilan yang dirasakan pelaku.
Kasus diklasifikasikan sebagai kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) berdasarkan Pasal 44 ayat 3 UU PKDRT tentang kekerasan fisik berakibat kematian, dengan ancaman hukuman hingga 15 tahun penjara meski pelaku di bawah umur. Statusnya naik dari penyelidikan ke penyidikan; pelaku akan dijadikan Anak Berkonflik Hukum (ABH) dengan pendekatan restoratif khusus anak, termasuk pemeriksaan saksi keluarga, tetangga, dan saksi medis. Polisi juga amankan barang bukti palu dan telusuri riwayat keluarga untuk cegah kasus serupa, menyoroti pentingnya komunikasi orang tua dengan anak di tengah tekanan ekonomi.