
Perbandingan usia antara Universitas Oxford dan Kerajaan Majapahit kembali menjadi sorotan publik setelah fakta sejarah tersebut ramai dibagikan di media sosial Indonesia. Data historis menunjukkan bahwa Oxford telah memberikan pengajaran sejak 1096 M, jauh sebelum Majapahit berdiri pada 1293 M. Selisih waktu hampir dua abad ini menegaskan perbedaan lanskap perkembangan pendidikan Eropa dan dinamika kerajaan di Nusantara pada masa itu.
Pengajaran di Oxford Dimulai Abad ke-11
Universitas Oxford tercatat sebagai institusi pendidikan tertua berbahasa Inggris, dengan aktivitas pengajaran yang sudah berlangsung sejak sekitar 1096 M. Perkembangan signifikan terjadi pada 1167 M ketika Raja Henry II melarang pelajar Inggris belajar ke Paris, memaksa mereka kembali ke Oxford. Kondisi itu justru menjadikan Oxford berkembang pesat sebagai pusat studi teologi, logika, dan filsafat. Kolej-kolej awal mulai berdiri pada abad ke-13, dimulai dengan University College (1249), Balliol College (1263), dan Merton College (1264).
Majapahit Berdiri Tahun 1293 M
Sementara itu, Kerajaan Majapahit berdiri pada 10 November 1293 M setelah Raden Wijaya berhasil mengalahkan pasukan Mongol dan Jayakatwang. Ia kemudian dinobatkan sebagai Sri Kertarajasa Jayawardhana dan menjadikan wilayah Mojokerto sebagai pusat pemerintahan. Di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, Majapahit mencapai masa keemasan pada pertengahan abad ke-14 dan dikenal sebagai salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara.
Selisih Usia Hampir 200 Tahun
Jika dibandingkan, Oxford lebih tua sekitar 197 tahun dibanding Majapahit. Pengajaran di Oxford yang dimulai pada 1096 M mendahului pendirian kerajaan oleh Raden Wijaya yang baru berlangsung pada 1293 M. Perbandingan ini sering menjadi bahan diskusi publik karena menunjukkan bagaimana perkembangan pendidikan tinggi di Eropa terjadi jauh lebih awal dibanding berdirinya kerajaan-kerajaan besar di Asia Tenggara.
Fakta sejarah ini kembali populer setelah banyak dibagikan melalui artikel daring serta unggahan media sosial, memicu minat masyarakat untuk menelusuri kembali sejarah pendidikan dan kerajaan besar di masa lampau.
