Kehilangan pekerjaan pada 2020 tidak menghentikan Dyah Laily Fardisa untuk mencari cara bertahan. Bersama suaminya, Dyah terkena pemutusan hubungan kerja saat pandemi, lalu berusaha tetap produktif dengan membangun usaha dari rumah.


Langkah itu mempertemukannya dengan seorang ibu penjual oseng mercon yang juga terdampak pandemi. Keduanya kemudian bekerja sama: sang ibu memasak oseng mercon, sementara Dyah memanfaatkan pengalaman sekitar lima tahun di bidang digital marketing untuk memasarkan produk secara daring.

Usaha tersebut berkembang menjadi Bolosego, bisnis kuliner asal Sleman, Yogyakarta. Produk andalannya adalah oseng mercon iga sapi dengan cita rasa khas Yogyakarta. Dyah sebelumnya merupakan alumnus FISIP UGM.


Bolosego kemudian melibatkan ibu rumah tangga, ibu sepuh, dan perempuan usia produktif di Desa Bangunrejo. Jumlah pekerjanya disebut bertambah dari delapan orang menjadi sekitar 150 orang, dengan sekitar separuhnya perempuan.

Penjualan daring menjadi salah satu penopang pertumbuhan usaha itu. Sekitar 70 persen pendapatan online Bolosego disebut berasal dari TikTok Shop by Tokopedia. Bisnis tersebut juga menjalankan hingga 16 sesi live streaming setiap hari.

Perjalanan Bolosego kembali menjadi sorotan ketika Dyah mengungkap dugaan pungutan saat food truck miliknya berjualan di Alun-Alun Yogyakarta. Ia mengaku diminta membayar parkir Rp2,5 juta per hari, yang kemudian dinegosiasikan menjadi Rp1 juta.

Setelah itu, Dyah menghentikan operasional food truck dan menyampaikan pengalamannya kepada publik. Peristiwa tersebut menempatkan kisah Bolosego bukan hanya sebagai cerita tentang usaha yang tumbuh setelah PHK, tetapi juga tentang keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi serta keberanian pelaku UMKM mengungkap dugaan pungutan di luar ketentuan.
