Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Terkena PHK Saat Pandemi, Perempuan Yogyakarta Ini Bangun Usaha dan Berdayakan 150 Karyawan

Dyah Laily Fardisa membangun Bolosego setelah terkena PHK pada 2020. Usaha kuliner dari Sleman itu kemudian berkembang dan melibatkan sekitar 150 pekerja, dengan banyak di antaranya perempuan.

Kehilangan pekerjaan pada 2020 tidak menghentikan Dyah Laily Fardisa untuk mencari cara bertahan. Bersama suaminya, Dyah terkena pemutusan hubungan kerja saat pandemi, lalu berusaha tetap produktif dengan membangun usaha dari rumah.

Dyah Laily Fardisa mendirikan usaha kuliner Bolosego di Sleman, Yogyakarta. Ia merupakan alumnus FISIP UGM dengan pengalaman sekitar lima tahun di bidang digital marketing.
Pada 2020, Dyah dan suaminya terkena PHK. Ia mencari cara untuk tetap produktif dan bertahan, lalu bertemu ibu penjual oseng mercon yang turut terdampak pandemi.

Langkah itu mempertemukannya dengan seorang ibu penjual oseng mercon yang juga terdampak pandemi. Keduanya kemudian bekerja sama: sang ibu memasak oseng mercon, sementara Dyah memanfaatkan pengalaman sekitar lima tahun di bidang digital marketing untuk memasarkan produk secara daring.

Ibu tersebut kemudian diajak bekerja sama. Sang ibu memasak oseng mercon, sementara Dyah memanfaatkan pengalaman digital marketing untuk memasarkan produk secara online.

Usaha tersebut berkembang menjadi Bolosego, bisnis kuliner asal Sleman, Yogyakarta. Produk andalannya adalah oseng mercon iga sapi dengan cita rasa khas Yogyakarta. Dyah sebelumnya merupakan alumnus FISIP UGM.

Tanpa pengalaman memasak, Dyah membangun Bolosego dari rumah dengan mengandalkan pemasaran digital. Produk utamanya ialah oseng mercon iga sapi bercita rasa khas Yogyakarta.
Bolosego melibatkan ibu rumah tangga, ibu sepuh, dan perempuan usia produktif di Desa Bangunrejo. Jumlah pekerjanya bertambah dari 8 menjadi sekitar 150 orang, dengan separuhnya perempuan.

Bolosego kemudian melibatkan ibu rumah tangga, ibu sepuh, dan perempuan usia produktif di Desa Bangunrejo. Jumlah pekerjanya disebut bertambah dari delapan orang menjadi sekitar 150 orang, dengan sekitar separuhnya perempuan.

Sekitar 70% pendapatan online Bolosego disebut berasal dari TikTok Shop by Tokopedia. Bisnis ini menjalankan hingga 16 sesi live streaming setiap hari dan berkembang menjadi ruang bagi puluhan perempuan untuk berkarya serta memperoleh penghasilan.

Penjualan daring menjadi salah satu penopang pertumbuhan usaha itu. Sekitar 70 persen pendapatan online Bolosego disebut berasal dari TikTok Shop by Tokopedia. Bisnis tersebut juga menjalankan hingga 16 sesi live streaming setiap hari.

Kisah Bolosego Kembali Disorot setelah Dyah Mengungkap Dugaan Pungli di Alkid Jogja
Baru sehari berjualan, ia mengaku diminta membayar parkir Rp2,5 juta per hari, yang kemudian dinegosiasikan menjadi Rp1 juta.

Perjalanan Bolosego kembali menjadi sorotan ketika Dyah mengungkap dugaan pungutan saat food truck miliknya berjualan di Alun-Alun Yogyakarta. Ia mengaku diminta membayar parkir Rp2,5 juta per hari, yang kemudian dinegosiasikan menjadi Rp1 juta.

Dyah menghentikan operasional food truck dan mengungkapkan pengalamannya kepada publik. Kisah itu menyoroti keberanian pelaku UMKM menghadapi dugaan pungutan di luar ketentuan.

Setelah itu, Dyah menghentikan operasional food truck dan menyampaikan pengalamannya kepada publik. Peristiwa tersebut menempatkan kisah Bolosego bukan hanya sebagai cerita tentang usaha yang tumbuh setelah PHK, tetapi juga tentang keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi serta keberanian pelaku UMKM mengungkap dugaan pungutan di luar ketentuan.

Sumber: Instagram
Erniyati Khalida

Penulis

Erniyati Khalida

Penulis tetap di Pewarta Nusantara ( pewartanusantara.com ). Konten spesial Budaya Nusantara.