Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Sentuhan Hati di Pelosok Donggala: Perjuangan Polisi di Pelosok Donggala Mengajar Anak-Anak Suku Da’a

Di pelosok Donggala, Bripka Anas disebut tak hanya bertugas sebagai Bhabinkamtibmas, tetapi juga ikut mengajar anak-anak Suku Da’a. Ia disebut membantu menyediakan ruang belajar sederhana dan menjembatani komunikasi dengan warga menggunakan bahasa ibu. Kisahnya kembali viral di media sosial, meski beberapa detail mengenai penghargaan dan kegiatannya masih perlu dikonfirmasi.

Di tengah keterbatasan akses pendidikan di wilayah pedalaman Sulawesi Tengah, seorang anggota Bhabinkamtibmas disebut turut mengambil peran sebagai pengajar bagi anak-anak Suku Da’a di Kabupaten Donggala.

Polisi tersebut adalah Bripka Anas, Bhabinkamtibmas Banawa Selatan. Kisahnya kembali menjadi perhatian setelah diunggah akun Instagram mental_juara.id.

Bripka Annas adalah seorang Bhabinkamtibmas Polsek Banawa Selatan, Polres Donggala, Sulteng. Sejak Januari 2016 Bripka Annas bertugas di dua desa terpencil, Ongulara dan Malino, yang dihuni masyarakat adat Suku Da'a dengan akses pendidikan yang sangat terbatas

Dalam unggahan tersebut, Bripka Anas disebut rela jauh dari keluarga untuk menjalankan tugas di wilayah pedalaman sekaligus membantu anak-anak Suku Da’a yang memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan.

Januari 2016, Bripka Annas kemudian ditugaskan ke Desa Ongulara dan Malino, Banawa Selatan, wilayah terpencil yang dihuni Suku Da'a. Bripka Annas harus menyeberangi sungai dan medan berat hanya untuk menjangkau warga binaannya.

Selain mengajar, ia disebut membantu menyediakan ruang belajar sederhana serta menjembatani komunikasi dengan masyarakat menggunakan bahasa ibu warga setempat.

Peran tersebut menunjukkan bahwa tugas Bhabinkamtibmas di wilayah pedalaman tidak hanya berkaitan dengan keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga dapat bersinggungan dengan persoalan sosial yang dihadapi warga.

Bripka Annas melihat kenyataan pahit: banyak anak Suku Da'a belum bisa membaca dan menulis. Akses pendidikan nyaris tak ada. Dari sinilah niatnya tumbuh, bukan hanya menjaga keamanan, tapi juga membuka jalan ilmu bagi generasi muda pedalaman.

Suku Da’a sendiri merupakan salah satu komunitas masyarakat adat yang tinggal di wilayah Sulawesi Tengah. Sejumlah wilayah permukiman mereka berada di kawasan dengan akses yang relatif terbatas. Pemerintah sebelumnya juga pernah melakukan program pembinaan terhadap komunitas Suku Da’a, termasuk di wilayah Kabupaten Sigi.

Sekolah setempat mempercayakan Bripka Annas sebagai guru pengganti. Bripka Annas mengajar langsung di kelas, bahkan di ruang terbuka dekat pohon. Sorenya, Bripka Annas mendirikan pondok belajar sederhana untuk mengajarkan anak-anak membaca di luar jam sekolah.

Dalam unggahan yang beredar, dedikasi Bripka Anas disebut mendapat apresiasi melalui Hoegeng Awards 2025. Namun, detail mengenai kategori penghargaan dan dokumentasi resmi terkait Bripka Anas belum saya temukan dari sumber resmi yang dapat diverifikasi.

Kedekatannya diuji saat gejolak antar kampung pecah. Bripka Annas turun langsung menenangkan massa memakai bahasa Kaili Da'a, bahasa ibu yang dihormati warga. Konflik pun reda, bukan lewat kekuatan, tapi kepercayaan yang telah lama Bripka Annas bangun.

Karena itu, informasi mengenai aktivitasnya sebagai pengajar dalam tulisan ini merujuk pada unggahan media sosial yang beredar dan belum seluruh detailnya dapat dikonfirmasi secara independen.

Perjuangan sunyi itu berbuah manis, Bripka Annas meraih Hoegeng Awards 2025 kategori Polisi Tapal Batas dan Pedalaman. Harapannya sederhana, anak-anak Suku Da'a percaya bahwa mereka juga berhak dan mampu bermimpi besar.

Kisah tersebut kembali menyoroti bagaimana kehadiran aparat di wilayah terpencil dapat memiliki peran sosial yang lebih luas, terutama ketika masyarakat menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan dasar seperti pendidikan.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.