
Seorang pria paruh baya bernama Bardan Sahidi dari Tanah Gayo, Aceh, mengkritik Presiden Prabowo Subianto saat iring-iringan kunjungan ke Aceh Tengah dan Bener Meriah pasca-bencana banjir dan longsor.
Detail Kritik
Bardan menyoroti kunjungan Prabowo yang ramai dengan iring-iringan mobil mewah dan sambutan meriah sebagai aksi pencitraan semata, seperti selfie tanpa instruksi nyata untuk perbaikan jalan, jembatan rusak, atau bantuan makanan dan obat bagi warga terisolasi yang kelaparan. Ia menuntut rekonstruksi segera setelah tiga pekan bencana, bukan kunjungan simbolis.
Konteks Kunjungan
Kunjungan ketiga Prabowo ke Aceh pada 12 Desember 2025 fokus pada pemulihan bencana Sumatera, termasuk listrik yang baru pulih 36% dan janji bantuan maksimal. Kritik ini viral di media sosial, mencerminkan kekecewaan warga atas respons pemerintah yang dinilai lambat.
Respons dan Dampak
Prabowo meminta maaf atas keterlambatan seperti listrik dan menjanjikan solusi konkret, sementara tokoh masyarakat seperti Bardan menekankan prioritas rakyat daripada seremoni. Kasus ini memicu perdebatan publik soal efektivitas kunjungan presiden pasca-bencana.