Caesar Archangels Hendrik Meo Tnunay, atau akrab disapa Nono, pernah menjadi sorotan setelah meraih juara pertama dalam International Abacus World Competition 2022. Saat itu, Nono masih duduk di kelas 2 SD Inpres Buraen II, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia berhasil mengungguli sekitar 7.000 peserta dari berbagai negara.
Prestasi tersebut diraih melalui kompetisi Abacus Brain Gym yang berlangsung secara daring. Nono menjadi peserta asal Indonesia yang meraih peringkat pertama. Dalam kompetisi tersebut, peringkat kedua diraih peserta asal Qatar, sedangkan peringkat ketiga berasal dari Amerika Serikat.

Menariknya, setelah prestasinya diketahui publik, Nono mendapat sejumlah tawaran hadiah. Salah satunya datang dari Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi saat itu, Nadiem Makarim, yang menawarkan laptop. Namun, Nono memilih tidak mengambil laptop tersebut dan menyampaikan keinginannya untuk mendapatkan beasiswa.

Pilihan tersebut kemudian banyak dibicarakan karena menunjukkan bahwa hadiah yang diinginkan Nono berkaitan dengan keberlanjutan pendidikannya. Selain tawaran tersebut, Nono juga menerima berbagai bentuk apresiasi dari sejumlah pihak setelah memenangkan kompetisi internasional.

Pada Januari 2023, Nono menerima piala, sertifikat, serta uang tunai sebesar US$200 dari penyelenggara Abacus Brain Gym. Penghargaan tersebut diserahkan oleh Founder Abacus Brain Gym USA Juli Agustar Djonli dan disaksikan Gubernur NTT saat itu, Viktor Bungtilu Laiskodat.
Nono diketahui berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya, Raflim Meo Tnunay, pernah bekerja sebagai buruh bangunan, sedangkan ibunya, Nuryati Seran, merupakan guru kontrak. Meski demikian, Nono mendapat pendampingan pendidikan dan pelatihan matematika sejak usia dini.
Setelah meraih juara dunia, Nono juga dipersiapkan mengikuti program pelatihan matematika dan sains selama sekitar 10 bulan bersama sejumlah siswa dari berbagai provinsi. Pemerintah Provinsi NTT mencatat Nono menjadi salah satu dari delapan siswa yang dipersiapkan untuk mengikuti ajang olimpiade berikutnya.
Kisah Nono kembali menarik perhatian karena pilihan hadiahnya. Namun, perlu dibedakan bahwa Nono tidak menolak seluruh hadiah setelah menjadi juara. Ia menolak tawaran laptop dan memilih beasiswa, sementara dari penyelenggara kompetisi ia tetap menerima piala, sertifikat, dan uang tunai US$200.