Seorang mahasiswa SBM ITB berusia 20 tahun mengaku telah mencoba 11 ide bisnis selama dua tahun kuliah. Dari seluruh percobaan itu, belum ada satu pun yang benar-benar menghasilkan uang.




Pengalamannya memperlihatkan persoalan yang kerap muncul dalam tahap awal membangun usaha: apakah pelaku bisnis perlu terus berpindah ke ide baru, atau bertahan lebih lama untuk mengevaluasi kegagalan dan memperbaiki strategi?


Beberapa usaha yang dicoba antara lain penjualan paket sahur, jasa sumur bor, aplikasi pencatatan keuangan di iOS, aplikasi pelacak ibadah, jasa landing page untuk klinik gigi, serta layanan AI agent. Hasilnya beragam, mulai dari hanya satu pembeli hingga tidak ada penjualan sama sekali.


Pada usaha sumur bor, ia mengeluarkan lebih dari Rp800 ribu untuk iklan Google. Lebih dari 20 orang menghubungi, tetapi tidak ada transaksi setelah calon pelanggan mengetahui harganya. Aplikasi pencatatan keuangan sempat lolos App Store, namun hanya diunduh oleh beberapa orang.



Percobaan lain berhenti karena berbagai alasan. Promosi aplikasi pelacak ibadah tidak mendapat minat dari akun yang dituju. Jasa landing page kepada 45 klinik gigi tidak mendapat respons. Dalam usaha AI agent, ia memperoleh 32 nomor WhatsApp dari survei terhadap 50 pemilik usaha, tetapi membatalkan tindak lanjut karena belum jelas produk apa yang hendak dijual.


Ia juga mencoba menjual madu milik saudaranya, tetapi hanya dua teman lama yang membeli dan sekitar 600 botol masih tersimpan di gudang. Rencana memasok bahan baku ke bakery dibatalkan setelah perhitungan ulang menunjukkan margin tipis dan beban kerja besar. Usaha sabun organik mundur karena persoalan izin penjualan dan kapasitas produksi.


Dua percobaan terakhir adalah warung protein yang baru berhenti pada rancangan 10 menu, serta rencana mengolah maggot menjadi pakan ayam dan menjual telurnya yang terkendala sumber daya manusia. Ia kemudian menyimpulkan bahwa pola kegagalannya berkaitan dengan terlalu sering memulai ide baru, sekitar setiap dua minggu.


Sejumlah tanggapan menekankan pentingnya validasi pasar, fokus, dan konsistensi. Seorang pengusaha burger mengaku membutuhkan tujuh tahun pengembangan, ratusan eksperimen resep, dan modal lebih dari Rp10 juta. Warganet lain menceritakan ayahnya yang tetap mengembangkan bisnis konstruksi setelah bangkrut dua kali dengan cara mengevaluasi masalah, bukan langsung berganti bidang. Saran yang muncul bukan semata-mata berhenti mencoba, melainkan memastikan setiap percobaan menghasilkan pembelajaran dan memberi waktu bagi produk atau jasa untuk menemukan pasar.