Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Jejak Perjuangan Perempuan: Cikal Bakal Terbentuknya Hari Ibu

Hari Ibu 22 Desember: Jejak Perjuangan Perempuan di Balik Perayaan   Peringatan Hari Ibu setiap 22 Desember di Indonesia bukan sekadar momentum memberikan bunga atau ucapan kasih sayang dalam lingkup keluarga. Di balik perayaan…

Hari Ibu 22 Desember: Jejak Perjuangan Perempuan di Balik Perayaan

 

Peringatan Hari Ibu setiap 22 Desember di Indonesia bukan sekadar momentum memberikan bunga atau ucapan kasih sayang dalam lingkup keluarga. Di balik perayaan tersebut, tersimpan sejarah panjang perjuangan perempuan Indonesia dalam menuntut kesetaraan, keadilan, dan peran strategis dalam pembangunan bangsa.

 

Hari Ibu berakar dari semangat pergerakan perempuan pada masa awal kebangkitan nasional. Momentum ini lahir dari Kongres Perempuan Indonesia Pertama yang digelar di Yogyakarta pada 22–25 Desember 1928, hanya beberapa bulan setelah Sumpah Pemuda dikumandangkan.

 

Kongres tersebut dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari berbagai daerah, di antaranya Aisyiyah, Wanita Utomo, dan organisasi perempuan lainnya. Para peserta membahas isu-isu krusial pada masa itu, seperti akses pendidikan bagi perempuan, keadilan dalam perkawinan, perlindungan hak perempuan, serta keterlibatan perempuan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

 

Dari kongres tersebut lahir Perikatan Perempuan Indonesia (PPI), sebuah wadah persatuan organisasi perempuan yang menjadi tonggak penting gerakan perempuan nasional. Kehadiran PPI menandai kesadaran kolektif bahwa perempuan memiliki peran vital dalam kehidupan sosial, politik, dan kebangsaan.

 

Pengakuan negara terhadap perjuangan ini datang pada 1959. Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden Nomor 316 menetapkan 22 Desember sebagai Hari Ibu. Penetapan ini dimaksudkan untuk mengenang Kongres Perempuan Indonesia dan menegaskan peran perempuan sebagai bagian tak terpisahkan dari pembangunan nasional, bukan semata-mata dalam ranah domestik.

 

Seiring berjalannya waktu, makna Hari Ibu kerap bergeser menjadi perayaan peran ibu dalam keluarga. Namun, esensi historisnya tetap relevan hingga kini. Hari Ibu menjadi pengingat atas diskriminasi yang pernah dialami perempuan, terutama dalam akses pendidikan, ruang politik, dan kesempatan ekonomi.

 

Di era modern, semangat Hari Ibu juga mencerminkan perjuangan yang masih berlanjut, mulai dari upaya melawan kekerasan berbasis gender, memperjuangkan kesetaraan kesempatan kerja, hingga mendorong partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan di berbagai sektor.

 

Dengan demikian, Hari Ibu di Indonesia bukan hanya simbol kasih sayang, melainkan momentum refleksi atas perjuangan panjang perempuan dalam membangun bangsa—sebuah perjuangan yang dimulai hampir satu abad lalu dan terus berlanjut hingga hari ini.

Pole Vox

Penulis

Pole Vox

Penulis di Pewarta Nusantara.