Minggu, 25 Oktober 2026
Masuk
Berita

Gagal Kuliah ke Luar Negeri, Dian Sastro Gunakan Tabungannya untuk Beasiswa Kuliah Perempuan Lain

Tabungan Dian Sastrowardoyo yang semula disiapkan untuk kuliah di luar negeri dialihkan menjadi beasiswa bagi perempuan dari keluarga kurang mampu.

Rencana Dian Sastrowardoyo untuk kuliah di luar negeri tidak terwujud. Tabungan yang telah ia siapkan untuk keperluan itu kemudian dialihkan menjadi beasiswa bagi perempuan lain.

Dian Sastrowardoyo lahir di Jakarta pada Maret 1982. Ayahnya, Ariawan Sastrowardoyo, adalah seniman, sedangkan ibunya, Dewi Parwati, seorang dosen. Sejak kelas 3 SD, ia lebih sering dibesarkan oleh ibunya.
Ibunya bekerja keras siang dan malam untuk memenuhi biaya sekolah Dian. Sejak kecil, ia dididik disiplin, dibiasakan membaca buku, dan menulis ulang isinya, yang kemudian menuntunnya ke karier.
Saat kelas 1 SMP, ibunya mendapat beasiswa kuliah S2 ke luar negeri. Hari Rabu ibunya berangkat, hari Minggu ayahnya meninggal dunia karena sakit liver. Dian sebut masa itu sangat berat dijalani.

Keputusan tersebut berangkat dari pengalaman pribadi Dian sejak remaja. Ia kehilangan ayahnya karena sakit liver ketika duduk di kelas 1 SMP, tidak lama setelah ibunya memperoleh beasiswa kuliah S2 ke luar negeri.

Tak berlarut sedih, di usia 13 ia mulai bekerja sebagai model dan menabung untuk mimpinya kuliah di luar negeri. Tahun 1996, di usia 14, ia jadi juara 1 Gadis Sampul, pintu pertamanya ke dunia hiburan.
Tahun 2000, ia mainkan film pertamanya, “Bintang Jatuh”. 2001 bintangi Pasir Berbisik. Dari situ, ia jadi Aktris Terbaik di Festival Film Internasional Singapura dan Deauville Asian Film Festival Prancis.

Sejak kecil, Dian dibiasakan membaca buku, menulis ulang isinya, dan menjalani pendidikan dengan disiplin. Pada usia 13 tahun ia mulai bekerja sebagai model sambil menabung untuk mengejar impian kuliah di luar negeri.

Pada 2002, ia bermain dalam film AADC yang menjadikannya ikon kebangkitan film nasional. Peran Cinta membawanya meraih Piala Citra Pemeran Utama Wanita Terbaik di Festival Film Indonesia 2004.

Pada 1996, saat berusia 14 tahun, Dian menjadi juara pertama Gadis Sampul. Pengalaman itu menjadi pintu masuk ke dunia hiburan. Ia kemudian memainkan film pertamanya, Bintang Jatuh, pada 2000 dan tampil dalam Pasir Berbisik setahun setelahnya.

Dian sempat kuliah hukum di Universitas Indonesia selama 2 semester, kemudian pindah ke Filsafat, lulus tahun 2007. Ia jadi pembawa obor di ajang Olimpiade Beijing 2008. Salah satu pencapaian menariknya.
Pada 2013, ia melanjutkan S2 di UI dan lulus cum laude. Ia juga mendirikan yayasan pemberdayaan perempuan yang sejak 2015 memberikan beasiswa kuliah bagi perempuan dari keluarga kurang mampu.

Namanya semakin dikenal setelah memerankan Cinta dalam Ada Apa dengan Cinta? pada 2002. Peran tersebut membawanya meraih Piala Citra Pemeran Utama Wanita Terbaik di Festival Film Indonesia 2004.

Hingga 2022, tercatat ada 17 penerima Beasiswa Dian dan 7 di antaranya sudah lulus. Dian menyebut tabungan yang dulu ia siapkan untuk kuliah di luar negeri, ia alihkan untuk beasiswa perempuan lainnya.
Pada 2023, ia memerankan Dasiyah dalam serial Netflix Gadis Kretek. Serial itu memenangkan Miniseri Terbaik di Seoul International Drama Awards 2024, sementara Dian menjadi salah satu nominasi Aktris Terbaik.

Di bidang pendidikan, Dian sempat menempuh kuliah hukum di Universitas Indonesia selama dua semester sebelum pindah ke filsafat dan lulus pada 2007. Ia kemudian melanjutkan studi S2 di UI pada 2013 dan lulus dengan predikat cum laude.

Pada akhir 2023, ia mendirikan rumah produksi Beacon Films dan mulai memproduseri berbagai proyek film, termasuk Esok Tanpa Ibu dan Monster Pabrik Rambut.
Pada 2026, kontribusinya dalam pendidikan berkembang. Bersama Jogja Film Academy, ia memberikan beasiswa D4 Produksi Film dan Televisi bagi perempuan dan berharap program itu membuka jalan ke industri film.

Dian juga mendirikan yayasan pemberdayaan perempuan yang sejak 2015 memberikan beasiswa kuliah bagi perempuan dari keluarga kurang mampu. Hingga 2022, tercatat 17 penerima Beasiswa Dian, dengan tujuh di antaranya telah lulus.

Walaupun kurang figur orang tua, tapi cinta ke ortunya sangat dalam. Ia bangun karir, gelar, dan yayasan. Mimpinya kuliah di luar negeri tak terwujud, tapi ia mewujudkan mimpi kuliah perempuan lain.

Perjalanan itu berlanjut ke bidang produksi film dan pendidikan. Pada akhir 2023, Dian mendirikan Beacon Films. Pada 2026, bersama Jogja Film Academy, ia turut menyediakan beasiswa D4 Produksi Film dan Televisi bagi perempuan, dengan harapan membuka akses lebih luas ke industri film.

Erniyati Khalida

Penulis

Erniyati Khalida

Penulis tetap di Pewarta Nusantara ( pewartanusantara.com ). Konten spesial Budaya Nusantara.