Kisah tak biasa datang dari Uganda. Edward Rukidi Kijanangoma, seorang penyiar berita sekaligus editor di Uganda Broadcasting Corporation (UBC), terpilih menjadi raja baru Kerajaan Tooro setelah wafatnya Raja Oyo Nyimba Kabamba Iguru Rukidi IV.
Kijanangoma merupakan sepupu mendiang Raja Oyo. Pemilihannya diumumkan oleh klan kerajaan Babiito pada 9 September 2026 setelah sebuah komite beranggotakan 21 orang menjalankan proses seleksi dan penilaian terhadap sejumlah kandidat dari keluarga kerajaan.

Komite tersebut mengatakan pemilihan tidak dilakukan melalui pemungutan suara sederhana. Para kandidat dinilai berdasarkan sejumlah kriteria, termasuk kemampuan memimpin, pendidikan, pengalaman, serta pemahaman terhadap budaya, adat, ritual, dan tradisi Kerajaan Tooro.
Penunjukan Kijanangoma terjadi setelah Raja Oyo meninggal dunia pada 27 Agustus 2026 di Amerika Serikat pada usia 34 tahun setelah menjalani perawatan kanker. Oyo naik takhta pada 1995 ketika baru berusia tiga tahun dan kemudian dikenal sebagai salah satu raja termuda di dunia.

Namun, pergantian takhta tersebut tidak berjalan mulus. Keluarga dekat Raja Oyo menolak keputusan klan Babiito. Mereka menyatakan Oyo meninggalkan seorang anak laki-laki yang menurut keluarga disebut sebagai ahli waris takhta berdasarkan surat wasiat mendiang raja.
Persoalan tersebut menjadi kontroversi karena keberadaan putra Oyo sebelumnya tidak diketahui publik secara luas. Keluarga menyatakan bahwa anak tersebut seharusnya menjadi penerus, sementara proses pemilihan kerajaan justru memilih Kijanangoma. Identitas dan status anak yang disebut sebagai ahli waris tersebut masih menjadi bagian dari sengketa.
Raja Oyo sendiri belum menikah ketika meninggal dunia. Presiden Uganda Yoweri Museveni sebelumnya juga menyatakan bahwa Oyo meninggalkan seorang ahli waris laki-laki yang lahir di luar pernikahan. Namun, klaim tersebut kemudian menjadi bagian dari perdebatan mengenai siapa yang secara sah berhak meneruskan takhta.
Pada 12 September, Kijanangoma secara resmi diumumkan sebagai raja oleh kepala klan Babiito, Charles Kayondo Kamurasi, dalam rangkaian pemakaman Raja Oyo. Ia kemudian menggunakan nama kerajaan Edward Rukidi Nyabongo I.
Meski demikian, statusnya sebagai raja masih menghadapi persoalan hukum. Jaksa Agung Uganda Sam Mayanja pada 14 September mengatakan pemerintah belum akan memasukkan Kijanangoma ke dalam National Gazette sebagai Raja Tooro sampai sengketa mengenai ahli waris Oyo diselesaikan.
Kerajaan Tooro merupakan salah satu dari lima kerajaan tradisional yang diakui Uganda. Meski memiliki posisi penting secara budaya dan sosial, kerajaan tersebut tidak mempunyai kedaulatan atau kekuasaan politik formal dalam sistem pemerintahan Uganda.
Dengan demikian, cerita “penyiar berita menjadi raja” memang benar, tetapi proses pergantian takhta Tooro belum sepenuhnya selesai. Kijanangoma telah dipilih dan diumumkan oleh klan kerajaan, tetapi pemerintah Uganda masih menunggu penyelesaian sengketa suksesi sebelum memberikan pengakuan formal.