Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Anak Kiai Dipukul, Sang Guru Ditegur Lewat Mimpi hingga Mbah Hamid Menangis

Kisah Gus Nu’man, putra Kiai Hamid Pasuruan, berawal dari kenakalan di Pesantren Darul Hadis Malang hingga ia dihukum sang pengasuh, Habib Abdullah Bilfaqih. Teguran melalui mimpi dari ayahnya membuat sang Habib merasa bersalah dan datang meminta maaf. Kiai Hamid justru menyambutnya dengan hormat, sementara tangisnya di hadapan jamaah disebut lahir dari rasa malu atas karomah yang terbuka.

Kisah tentang Gus Nu’man, putra Kiai Hamid Pasuruan, bermula ketika ia menempuh pendidikan di Pesantren Darul Hadis Malang. Di pesantren tersebut, ia diasuh Prof. Dr. al-Habib Abdullah Bilfaqih, ulama yang dikenal sebagai pakar hadis.

Pernah dengar kisah seorang ulama besar ditegur lewat mimpi karena memukul seorang santri? Lebih mengejutkan lagi, santri itu adalah putra seorang wali abdal, dan peristiwa ini membuat sang wali menangis di hadapan puluhan ribu jamaah.
Suatu ketika, Mbah Hamid memondokkan putranya, Gus Nu'man, di Pesantren Darul Hadis Malang, diasuh oleh ulama besar pakar hadis, Prof. Dr. al-Habib Abdullah Bilfaqih. Namanya juga anak muda, Gus Nu'man pun tak lepas dari kenakalan khas santri.
Kenakalan itu sampai ke telinga sang pengasuh. Gus Nu'man dipanggil, dinasihati dengan lembut, bahkan berkali-kali. Namun perubahan belum tampak. Hingga akhirnya, pada panggilan ketiga, sang Habib menjatuhkan hukuman, dipukul dengan penjalin, bambu kuning yang masih muda

Menurut kisah yang disampaikan, Gus Nu’man beberapa kali melakukan kenakalan khas santri. Sang pengasuh telah memanggil dan menasihatinya dengan lembut, bahkan berulang kali. Namun, perubahan yang diharapkan belum terlihat.

Malam harinya, sang Habib bermimpi ditegur ayahandanya, Al-Qutb al-Habib Abdul Qodir Bilfaqih: "Nak, kamu tidak tahu anak siapa yang kamu pukuli itu? Itu putra Kiai Hamid, wali abdal. Apa kamu tidak takut kualat?" Teguran itu mengguncang batinnya.

Pada panggilan ketiga, sang Habib menjatuhkan hukuman dengan memukul Gus Nu’man menggunakan penjalin, bambu kuning yang masih muda. Malam harinya, ia bermimpi didatangi ayahnya, Al-Qutb al-Habib Abdul Qodir Bilfaqih.

Selama beberapa hari, sang Habib bermimpi melihat Kiai Hamid menuju pintu surga sementara dirinya tak pernah berhasil menyusul. Mimpi itu membuatnya yakin telah melakukan kesalahan besar.
Dengan sopan, sang Habib mendatangi kediaman Kiai Hamid untuk meminta maaf saat pengajian Ahad yang dihadiri puluhan ribu jamaah. Kiai Hamid menyambutnya dan mempersilakannya memimpin pengajian.

Dalam mimpi itu, ia ditegur karena tidak mengetahui bahwa santri yang dipukul merupakan putra Kiai Hamid, yang disebut sebagai wali abdal. Teguran tersebut terus membekas. Beberapa hari berturut-turut, sang Habib bermimpi melihat Kiai Hamid berjalan menuju pintu surga, sementara dirinya berusaha menyusul tetapi tidak pernah sampai. Ia kemudian merasa telah melakukan kesalahan besar.

Dalam pengajian, sang Habib justru menceritakan kesalahannya dan mimpi-mimpinya di hadapan jamaah. Mendengarnya, Mbah Hamid menangis deras, bukan karena marah, tapi malu jika karomahnya diumbar ke publik. Inilah akhlak wali: semakin tinggi derajatnya, semakin ia menyembunyikan kelebihannya.

Sang Habib akhirnya mendatangi kediaman Kiai Hamid untuk meminta maaf. Pertemuan itu berlangsung bertepatan dengan pengajian Ahad yang dihadiri puluhan ribu jamaah. Kiai Hamid tidak menegur atau mempermalukannya, melainkan menyambut dan mempersilakannya memimpin pengajian. Di hadapan jamaah, sang Habib menceritakan kesalahan serta mimpinya. Kiai Hamid menangis deras bukan karena marah, melainkan karena merasa malu jika karomahnya diketahui publik. Kisah ini menempatkan kerendahan hati dan penjagaan adab sebagai inti keteladanan yang dikenang dari sosok tersebut.

Sumber: dawuhguru
Erniyati Khalida

Penulis

Erniyati Khalida

Penulis tetap di Pewarta Nusantara ( pewartanusantara.com ). Konten spesial Budaya Nusantara.