Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

7 Rumah Ibadah Paling Ekstrem di Dunia yang Tidak Masuk Akal

Tujuh rumah ibadah ini berada di lokasi yang tidak biasa, mulai dari pilar batu pasir dan tebing curam hingga pulau terpencil serta tambang bawah tanah. Abuna Yemata Guh berada sekitar 2.580 meter di atas permukaan laut, Paro Taktsang sekitar 900 meter di atas Lembah Paro, sementara Skellig Michael menjulang di Atlantik. Di Indonesia, dua rumah ibadah berada sekitar 1.760 meter di bawah tanah di kawasan DMLZ.

Rumah ibadah umumnya dibangun di kawasan yang mudah dijangkau, tetapi sejumlah bangunan keagamaan berada di lokasi yang jauh lebih sulit. Ada yang menempel pada tebing, berdiri di pulau batu terpencil, hingga berada jauh di bawah permukaan tanah.

Abuna Yemata Guh
ETHIOPIA Gereja ini berada sekitar 2.580 meter di atas permukaan laut. Bangunannya dipahat di pilar batu pasir dan berada di lokasi yang sangat sulit dijangkau.
Masjid Kuslat
Masjid Kuslat di Bosnia dan Herzegovina berdiri di atas tebing yang menjulang di kawasan Sungai Drinjača. Lokasinya terpencil dan tampak seperti berdiri sendirian di atas jurang.

Keunikannya bukan hanya ditentukan oleh bentuk bangunan, melainkan juga oleh medan yang mengelilinginya. Tebing curam, pilar batu pasir, lereng Himalaya, dan kawasan tambang bawah tanah menjadi bagian dari lingkungan rumah-rumah ibadah tersebut.

Paro Taktsang
BHUTAN Kompleks biara ini menempel di tebing sekitar 900 meter di atas Lembah Paro. Bangunannya berada di lereng pegunungan Himalaya dengan jurang curam di bawahnya.

Di Ethiopia, Gereja Abuna Yemata Guh berada sekitar 2.580 meter di atas permukaan laut. Bangunannya dipahat pada pilar batu pasir dan terletak di lokasi yang sangat sulit dijangkau.

Skellig Michael
Kompleks biara Skellig Michael berada di pulau batu terpencil sekitar 12 kilometer dari daratan Irlandia. Pulau itu menjulang lebih dari 200 meter langsung dari Samudra Atlantik.

Masjid Kuslat di Bosnia dan Herzegovina berdiri di atas tebing di kawasan Sungai Drinjača. Lokasinya yang terpencil membuat masjid tersebut tampak berdiri sendiri di atas jurang. Sementara itu, Paro Taktsang di Bhutan menempel pada tebing sekitar 900 meter di atas Lembah Paro, di lereng Pegunungan Himalaya dengan jurang curam di bawahnya.

Xuankong Temple
CHINA Kuil ini dibangun langsung pada dinding tebing Gunung Hengshan sekitar 75 meter di atas permukaan tanah. Bangunannya telah berdiri di lokasi tersebut selama lebih dari 1.500 tahun.

Di Irlandia, kompleks biara Skellig Michael berada di pulau batu terpencil sekitar 12 kilometer dari daratan. Pulau itu menjulang lebih dari 200 meter langsung dari Samudra Atlantik, sehingga akses menuju kompleks harus mengikuti medan pulau yang terjal.

Gereja Oikumene Soteria
Gereja Oikumene Soteria berada di area tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia, di kawasan DMLZ sekitar 1.760 meter di bawah permukaan tanah.

Xuankong Temple di China dibangun langsung pada dinding tebing Gunung Hengshan, sekitar 75 meter di atas permukaan tanah. Bangunan tersebut telah berdiri di lokasi itu selama lebih dari 1.500 tahun.

Masjid Al Baabul Munawwar
Masjid Al Baabul Munawwar berada di area tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia, di kawasan DMLZ sekitar 1.760 meter di bawah permukaan tanah.

Dua contoh lain berada di Indonesia, tepatnya di kawasan DMLZ milik PT Freeport Indonesia. Gereja Oikumene Soteria dan Masjid Al Baabul Munawwar berada di area tambang bawah tanah sekitar 1.760 meter di bawah permukaan tanah. Keduanya memperlihatkan bagaimana ruang ibadah hadir di lingkungan yang sangat berbeda dari permukiman biasa.

Erniyati Khalida

Penulis

Erniyati Khalida

Penulis tetap di Pewarta Nusantara ( pewartanusantara.com ). Konten spesial Budaya Nusantara.