Rumah ibadah umumnya dibangun di kawasan yang mudah dijangkau, tetapi sejumlah bangunan keagamaan berada di lokasi yang jauh lebih sulit. Ada yang menempel pada tebing, berdiri di pulau batu terpencil, hingga berada jauh di bawah permukaan tanah.


Keunikannya bukan hanya ditentukan oleh bentuk bangunan, melainkan juga oleh medan yang mengelilinginya. Tebing curam, pilar batu pasir, lereng Himalaya, dan kawasan tambang bawah tanah menjadi bagian dari lingkungan rumah-rumah ibadah tersebut.

Di Ethiopia, Gereja Abuna Yemata Guh berada sekitar 2.580 meter di atas permukaan laut. Bangunannya dipahat pada pilar batu pasir dan terletak di lokasi yang sangat sulit dijangkau.

Masjid Kuslat di Bosnia dan Herzegovina berdiri di atas tebing di kawasan Sungai Drinjača. Lokasinya yang terpencil membuat masjid tersebut tampak berdiri sendiri di atas jurang. Sementara itu, Paro Taktsang di Bhutan menempel pada tebing sekitar 900 meter di atas Lembah Paro, di lereng Pegunungan Himalaya dengan jurang curam di bawahnya.

Di Irlandia, kompleks biara Skellig Michael berada di pulau batu terpencil sekitar 12 kilometer dari daratan. Pulau itu menjulang lebih dari 200 meter langsung dari Samudra Atlantik, sehingga akses menuju kompleks harus mengikuti medan pulau yang terjal.

Xuankong Temple di China dibangun langsung pada dinding tebing Gunung Hengshan, sekitar 75 meter di atas permukaan tanah. Bangunan tersebut telah berdiri di lokasi itu selama lebih dari 1.500 tahun.

Dua contoh lain berada di Indonesia, tepatnya di kawasan DMLZ milik PT Freeport Indonesia. Gereja Oikumene Soteria dan Masjid Al Baabul Munawwar berada di area tambang bawah tanah sekitar 1.760 meter di bawah permukaan tanah. Keduanya memperlihatkan bagaimana ruang ibadah hadir di lingkungan yang sangat berbeda dari permukiman biasa.