Minggu, 25 Oktober 2026
Masuk
Berita

10 Hari Pencarian Berakhir Duka, SAR Resmi Tutup Operasi Korban Jurnalis di Selat Sunda

10 hari dicari, operasi SAR 5 jurnalis dan 3 awak KM Arupadatu I yang hilang di Selat Sunda resmi dihentikan. 523 personel telah menyisir darat, laut, dan udara hingga 8.509 NM persegi, tetapi belum ditemukan tanda keberadaan mereka. Pencarian dapat dibuka kembali jika ada petunjuk baru. Hingga kini, status 8 orang tersebut masih belum diketahui.

Operasi pencarian lima jurnalis dan tiga awak KM Arupadatu I yang hilang kontak di perairan Selat Sunda resmi dihentikan setelah berlangsung selama 10 hari.

Keputusan tersebut diumumkan pada Kamis, 17 September 2026 oleh Gubernur Banten Andra Soni di Posko Utama SAR Gabungan, Dermaga Marina Carita, Pandeglang. Penghentian dilakukan karena pencarian dinilai sudah tidak efektif setelah belum menemukan tanda keberadaan rombongan maupun kapal.

Delapan orang tersebut hilang kontak saat melakukan perjalanan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk meliput aktivitas vulkanik pada Senin, 7 September 2026. Mereka menggunakan kapal cepat KM Arupadatu I yang berangkat dari kawasan Carita.

Keputusan berat ini diambil karena seluruh sektor pencarian telah disisir secara luas, namun belum membuahkan hasil serta dinyatakan sudah tidak lagi efektif secara operasional. Meski operasi resmi dihentikan, pemerintah memastikan pendampingan bagi keluarga korban terus berjalan.

Lima jurnalis yang berada dalam rombongan tersebut adalah M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency, dan Donal Husni yang merupakan jurnalis lepas. Tiga awak kapal adalah Warta Surahman, Sukarman, dan Heriyanto.

Selama operasi berlangsung, tim SAR gabungan mengerahkan 523 personel untuk melakukan penyisiran melalui jalur darat, laut, dan udara. Area pencarian diperluas hingga sekitar 8.509 nautical mile persegi.

Tim SAR sempat menemukan 13 objek terapung selama operasi. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan, objek-objek tersebut tidak dapat dikaitkan dengan kapal atau perlengkapan milik rombongan yang hilang.

Sebelum operasi dihentikan, keluarga korban dan masyarakat menggelar doa bersama di Posko Utama SAR Carita. Kegiatan tersebut menjadi bentuk dukungan sekaligus harapan agar keberadaan delapan orang yang hilang dapat diketahui.

Pemerintah Provinsi Banten menyatakan pendampingan terhadap keluarga delapan korban akan tetap dilakukan meskipun operasi pencarian aktif telah dihentikan.

Penghentian operasi juga tidak berarti pencarian tertutup selamanya. Pemerintah daerah dan Basarnas menyatakan operasi dapat dibuka kembali apabila muncul petunjuk baru atau laporan masyarakat yang terkonfirmasi.

Hingga saat ini, status kelima jurnalis dan tiga awak KM Arupadatu I masih belum diketahui. Karena itu, mereka belum dapat dinyatakan meninggal hanya berdasarkan penghentian operasi SAR.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.