Pewarta Nusantara
Add Post Menu

Monthly Archives: Maret 2021

pewarta
3 tahun yang lalu 02/11/22
W.V.O Quine

Biografi W.V.O Quine, Salah Satu Filsuf Besar dari Amerika

Headline

Pewartanusantara.com - M.V.O Quine terkenal sebagai salah seorang filsuf yang berasal dari Amerika. Ia punya kiprah yang cukup penting dalam dunia keilmuan. Nah, bagi Anda yang sedang mencari-cari tentang biografi W.V.O Quine, penjelasan tentangnya akan dibahas lebih lanjut di bawah ini.

Riwayat Hidup

Williard Van Orman Quine lahir di Akkron Ohio pada tanggal 25 Juni 1908. Quine terkenal sebagai salah seorang filsuf Amerika dan ahli logika dalam bidang tradisi analitik. Ayahnya bernama Cloyd Robert Quine. Beliau bekerja di perusahan Akron Equipment Company. Sedangkan ibunya bernama Harriet Van Orman yang bekerja sebagai guru.

Pada waktu sekolah, ia tertarik pada bidang sains dan setelah lulus sekolah, dia disarankan membaca Bertrand Russel dan Whitehead. Kemudian, dia meyakinkan diri untuk melanjutkan studinya di bidang matematika dan filsafat.

Pada tahun 1930, ia mendapatkan gelar B.A di bidang matematika dan filsafat di Oberlin College. Dia menyelesaikan kuliahnya dengan bimbingan Whitehead. Pada tahun 1932, ia mendapat gelar Ph.D dari Harvard di bidang yang sama.

Kemudian ia berkeliling Eropa dan bertemu dengan Logikawan Polish serta anggota lingkaran Wina. Ketika perang dunia kedua, Quine mengajar logika di Brazil dan bekerja sebagai intelejen militer US Navy. Quine meninggal pada tanggal 25 Desember 2000 di Boston, Massachusetts.

Karya-Karya

Pada rentetan biografi M.V.O Quine, tercatat bahwa ia telah melahirkan banyak karya. Bahan, ia mempunyai karya yang orisinil dan sangat penting di beberapa bidang filsafat, termasuk logika, ontologi, epistemologi, dan juga filsafat bahasa.

Karya terbesarnya yang berhasil membuatnya menjadi salah satu filsuf besar Amerika pertama yang berdasarkan pada Positivisme logis ialah A System of Logistic (1934) dan Mathematical Logis (1940). Meski demikian, setelahnya ia ragu pada positivisme logis.

Hal ini diungkapkannya dalam Two Dagmas of Empiricism, sebuah essay dalam buku From a Logical Point of View (1953). Selain karya-karyanya tersebut, ia juga memiliki karya yang lain, seperti Ontological Relativity (1969), The Roots of Reference (1974), dan The Pursuit of Truth (1989).

Pemikiran W.V.O Quine

M.V.O.Quine telah mengembangkan pandangan tentang dunia filosofis yang komprehensif dan sistematis yang naturalistik, empiris, dan behavioris pada tahun 1950-an. Ia menolak fondasionalisme epistemologi yang merupakan upaya untuk membumikan pengetahuan tentang dunia luar dalam pengalaman yang dianggap transenden dan membuktikan kebenaran diri.

Tugas yang tepat bagi epistemologi yang dinaturalisasi ialah semata-mata untuk memberikan penjelasan pikologis tentang bagaimana pengetahuan ilmiah yang sebenarnya didapatkan. Dalam hal ini, Quine banyak dipengaruhi oleh Logiti Positivisme dan dia juga anggota dari Lingkaran Wina. Meski demikian, Quine menolak salah satu doktrin kardinal kelompok tersebut.

Menurut Quine, tidak ada definisi analitik yang koheren yang pernah diusulkan. Sejalan dengan empirisme, Quine berpendapat bahwa yang pertama dan yang terakhir dapat diketahui melalui pengalaman.

Dalam biografi M.V.O. Quine, di bidang filsafat bahasa, ia dikenal karena catatan tentang pembelajaran bahasa. Dalam tesisnya, ia berpandangan bahwa selalu ada banyak kemungkinan sebuah terjemahan tidak terbatas dari satu bahasa ke bahasa yang lain. Masing-masing sama-sama memiliki kompatibel dengan totalitas bukti empiris yang tersedia untuk peneliti linguistik.

Dengan demikian, bagi Quine tidak ada fakta tentang terjemahan suatu bahasa itu benar. Sebuah ketidakpastian pada terjemahan merupakan contoh dari pandangan yang lebih umum. Quine menyebutnya sebagai “relativitas ontologis”.

“A curious thing about the ontological problem is its simplicity. It can be put into three Anglo-Saxon monosyllables: 'What is there?' It can be answered, moreover, in a word--'Everything'--and everyone will accept this answer as true.”

Istilah tersebut mengklaim bahwa untuk setiap teori ilmiah tertentu selalu ada banyak alternatif yang memerlukan ontologis yang berbeda, namun mempertimbangkan semua bukti yang tersedia. Dengan demikian, sangat tidak masuk akal untuk mengatakan bahwa satu teori memberikan deskripsi yang benar tentang dunia.

Baca juga: Biografi Paul Karl Feyerabend dan Pemikiran Anarkisme Epistemologisnya

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
pewarta
3 tahun yang lalu 02/11/22
Paul Karl Feyerabend

Biografi Paul Karl Feyerabend dan Pemikiran Anarkisme Epistemologisnya

Headline

Pewartanusantara.com - Sebagai salah satu tokoh penting, tentu saja biografi Paul Karl Feyerabend selalu banyak dicari. Ia sendiri seorang filsuf sains yang berasal dari Austria. Bagi Anda yang berkecimpung dalam bidang filsafat, tentunya tokoh yang satu ini sudah tidak asing lagi bukan? Nah, untuk mengenal lebih jauh tentangnya, simak ulasan selengkapnya di bawah ini.

Riwayat Hidup

Paul Karl Feyerabend lahir di Wina, Austria pada tahun 1924. Keluarganya termasuk golongan menengah. Ayahnya bekerja sebagai pegawai negeri, sedangkan ibunya adalah seorang penjahit.

Ia begitu tertarik terhadap seni dan teater. Hal tersebut tampak pada karya-karyanya yang ia masuki contoh-contoh dari dunia seni untuk membantu menjelaskan pemikiran ilmiahnya.

Pada tahun 1942, Feyerabend ditugaskan di Arbeitsdienst oleh Jerman. Kemudian pada tahun 1943, ia menjadi petugas di bagian utara Front timur. Di sana ia menjadi letnan.

Feyerabend kemudian mengajar filsafat ilmu di Universitas Bristol di Inggris pada tahun 1955. Pemikirannya mengenai filsafat ilmu menjadi kritis setelah ia mengajar di banyak tempat, seperti Berlin, Berkeley, London, dll.

Selanjutnya, ia bertemu dengan Lakatos. Pertemuan keduanya membuat Feyerabend berencana membuat suatu kolaborasi. Dalam kolaborasi tersebut, Lakatos akan mempertahankan pandangan rasionalis dan Feyerabend akan menyerangnya.

Namun, apa yang direncanakan Feyerabend tidak pernah terjadi karena Lakatos meninggal. Setelahnya, pada tanggal 11 Februari 1994, Feyeraben meninggal dunia di Genolier Clinic.

Karya-Karya

Dalam biografi Paul Karl Feyerabend, tercatat bahwa ada banyak karya yang ia terbitkan. Karya terbesar Feyerabend ialah buku yang berjudul Againts Method. Buku tersebut ditulis pada tahun 1975 dan berisi tentang kritikan Feyerabend terhadap metodologi. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa tidak ada satu metode rasional yang dapat diklaim sebagai metode ilmiah yang sempurna.

Latar Belakang Pemikiran

Anarkisme Ilmu Pengetahuan merupakan pemikiran Feyerabend yang dilatarbelakangi oleh dominasi paradigma pemikiran positivistic yang telah ada pada abad ke-19.  Paradigma tersebut dicetuskan oleh August Conte dan dipengaruhi oleh Descartes.

Disini, ia menyatakan bahwa ada ilmu yang mendasari segala macam ilmu. Ilmu dasar tersebut adalah matematika, astronomika, kimia, fisika, biologi dan puncaknya adalah sosiologi. Conte mengatakan bahwa setelah manusia mencapai penyelidikan ilmiah, manusia baru akan mendapatkan temuan-temuan yang bermanfaat.

Ilmu-ilmu pengetahuan non-alam akan mengalami kesulitan mendapat legitimasi karena akan berhadapan dengan suatu problem. Problem tersebut berkaitan dengan tafsiran-tafsiran yang tidak eksak, sehingga kurang bermanfaat bagi manusia.

Pemikiran Anarkisme sebagai Kritik Ilmu Pengetahuan

Pembahasan mengenai pemikiran Feyerabend secara menyeluruh sebenarnya sulit dilakukan. Hal tersebut dikarenakan gagasannya yang panjang dan kecenderungannya mengadopsi ide-ide tertentu pada suatu waktu kemudian mengkritiknya diwaktu yang lain.

Pemikiran Feyerabend secara keseluruhan diberi nama “anarkisme epistemologis” yang merupakan suatu kritik. Feyerabend mengkritik dari dua sisi yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Kedua sisi tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Anti-Metode

Atas nama kebebasan individu, Feyerabend ingin melawan ilmu pengetahuan. Ia mempunyai semboyan “anti-metode”. Semboyan tersebut akan digunakan untuk melawan ilmu pengetahuan.

Para ilmuwan menganggap bahwa ilmu pengetahuan memiliki satu metode baku, universal dan berlaku sepanjang masa. Anggapan tersebut dibantah oleh Feyerabend. Menurutnya, pendapat tersebut tidak realistis dan jahat.

Tidak realistis maksutnya ilmu pengetahuan hanya diambil dari pandangan sederhana yang berdasarkan pada kemampuan seseorang. Jahat maksutnya ilmu pengetahuan memaksakan hukum-hukum yang menghalangi berkembangnya kualitas seseorang dengan mempertaruhkan kemampuannya.

  1. Anti Ilmu Pengetahuan

Atas nama kebebasan yang sama, Feyerabend bersikap anti-ilmu pengetahuan. Sikapnya tersebut bukan berarti ia anti terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri, namun anti terhadap kekuasaan imu pengetahuan yang sering melampaui maksut utamanya.

Dengan sikapnya inilah, ia memiliki keinginan melawan ilmu pengetahuan yang dianggap oleh para ilmuwan lebih unggul dibandingkan bidang pengetahuan lainnya.

“Teachers' using grades and the fear of failure mould the brains of the young until they have lost every ounce of imagination they might once have possessed.”

Sangat menarik bukan beberapa catatan tentang biografi Paul Karl Feyerabend di atas? Nah, jika Anda adalah salah satu pengkaji dunia intelektual, wawasan terkait tokoh yang satu ini sangat penting didalami lebih jauh.

Baca juga: Biografi Thomas Kuhn, Riwayat Hidup, Karya, dan Pemikirannya

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
pewarta
3 tahun yang lalu 02/11/22
Thomas Kuhn

Biografi Thomas Kuhn, Riwayat Hidup, Karya, dan Pemikirannya

Headline

Pewartanusantara.com Thomas Kuhn merupakan seorang filsuf yang terkenal karena pemikiran dan karyanya yang berpengaruh terhadap perkembangan ilmu. Tentunya, bagi Anda yang berkecimpung dalam dunia keilmuwan sudah tidak asing lagi dengan tokoh yang satu ini. Lalu, sebenarnya apa saja yang menarik dari biografi Thomas Kuhn ini? Untuk mengetahuinya, simak ulasan berikut.

Riwayat Hidup

Thomas Samuel Kuhn atau yang biasa dikenal dengan Thomas Kuhn, lahir di Cicinnati, Ohio, Amerika Serikat pada tanggal 18 Juli 1922. Ayahnya adalah seorang Insinyur industri yang bernama Samuel L.Kuhn dan ibunya bernama Minette Stroock Kuhn.

Kehidupan akademik Kuhn dimulai di bidang fisika. Dia berhasil mendapatkan gelar B.S dalam bidang fisika dari Harvard University, tepatnya pada tahun 1943. Kemudian, pada tahun 1949, dia juga berhasil mendapat gelar Ph.D dalam bidang fisika dari universitas yang sama.

Beberapa taun kemudian, dia meninggalkan Harvard dan bekerja sebagai dosen sejarah sains di Universitas Berkeley, California pada tahun 1956. Pada tahun 1964, dia mendapatkan gelar professor bidang sejarah sais sekaligus filsafat dari Princeton University. Setelah itu, di tahun 1983, ia mendapat gelar professor lagi dari Massachustts Institute of University.

Karya-Karya

Kuhn mempunyai banyak karya. Namun, dari karya-karyanya tersebut, yang paling terkenal ialah karyanya yang berjudul The Structure of Scientific Revolution yang terbit pada tahun 1962 oleh University of Chicago Press.

Buku tersebut ditulis Kuhn ketika ia berada di Berkeley. Karya ini banyak dijadikan rujukan dalam pengajaran yang berhubungan dengan pendidikan, sejarah, riset, psikologi, dan juga filsafat sains.

Pemikiran Kuhn Tentang Ilmu

Biografi Thomas Kuhn tentu tidak bisa dipisahkan dari pemikirannya. Pemikiran Kuhn tentang Ilmu sebenarnya merupakan respon terhadap pandangan Positivisme dan Popper. Kuhn menolak pandangan tentang proses verifikasi dan konfirmasi-eksperimentasi.

Dalam bukunya The Structure of Scientific Revolution, Kuhn berusaha meyakinkan bahwa dasar segala penyelidikan adalah pada sejarah ilmu. Ia memandang ilmu dari perspektif sejarah. Menurutnya, filsafat ilmu harus berguru pada sejarah ilmu, sehingga nantinya dapat memahami bagaimana hakikat dari ilmu.

Kuhn menggunakan istilah “paradigma” untuk menggambarkan sistem keyakinan yang mendasari upaya untuk memecahkan problem-problem yang ada dalam ilmu. Paradigma diartikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar yang menuntut seseorang bertindak dalam kehidupan sehari-hari.

Pemikiran Kuhn terhadap perkembangan ilmu dimulai dari tahap pra-paradigma. Tahap ini merupakan masa dimana pengetahuan manusia belum mempunyai seperangkat teori, metode, dan dasar keyakinan yang lainnya. Fase ini dimiliki oleh masyarakat primitif.

Permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi, mereka selesaikan tanpa seperangkat teori dan metode. Seiring berjalannya waktu, muncul teori, metode, dan fakta yang disepakati dan menjadi pegangan aktivitas ilmiah. Inilah yang disebut paradigma.

Munculnya suatu paradigma membantu suatu komunitas ilmiah dalam menyelesaikan persoalan. Kemunculan paradigma sendiri awalnya melalui proses kompetisi antara teori-teori yang pernah muncul. Kemudian, teori yang dianggap terbaiklah yang diterima oleh komunitas ilmiah sebagai paradigma.

Menurut Kuhn, sebenarnya dalam sejarah telah membuktikan bahwa suatu paradigma tidak ada yang sempurna dalam menjawab problem ilmiah. Problem-problem yang tidak dapat diselesaikan oleh paradigma, disebut Kuhn dengan “anomali”.

Tentang Paradigma Baru Menurut Thomas Kuhn

Seiring berkembangnya fakta-fakta tentang ilmu, problem ilmiah yang tidak dapat diselesaikan oleh paradigma tersebut semakin lama semakin menumpuk.  Tumpukan-tumpukan anomali ini kemudian menjadi sebuah krisis.

Krisis ini merupakan suatu fase dimana paradigma lama tidak mampu menyelesaikan problem ilmiah baru. Krisis inilah yang memicu munculnya penelitian yang selanjutnya.

Dalam kemunculan paradigma baru akan ada yang namanya peperangan paradigma. Beberapa paradigma akan saling berkompetisi. Pada akhirnya, waktu akan berpihak para paradigma baru. Paradigma baru inilah yang akan mendasari normal science yang baru.

“Normal science, the activity in which most scientists inevitably spend almost all their time, is predicated on the assumption that the scientific community knows what the world is like”

Thomas Kuhn adalah sosok penting dalam dunia intelektual dengan teori yang telah digagasnya. Karena hal tersebut biografi Thomas Kuhn selalu menjadi hal yang menarik untuk diperbincangkan dan terus tercatat dengan baik hingga saat ini.

Baca juga: Biografi Burrhus Frederic Skinner, Seorang Psikolog Beraliran Behaviorisme

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap