Pewarta Nusantara
Add Post Menu

Monthly Archives: Oktober 2017

triana wulan
2 tahun yang lalu 07/05/23
Potret Bangsaku

Potret Bangsaku

Op-ed

Tidak terasa setelah 2 bulan berlalu, kita telah merasakan hingar bingar kemeriahan pesta 17 agustusan atau kemerdekaan sembari tidak lupa untuk menundukkan kepala dan merenung. Mengingat jasa para pahlawan yang rela berkorban nyawa demi mendapatkan kemerdekaan dan kebebasan ini. Kita tentu bisa bernafas lega karena hal itu tetapi apa yang terjadi di Indonesia saat ini? Indonesia yang dahulu sungguh berbeda dengan Indonesia yang sekarang. Saat banyaknya pengaruh budaya asing yang masuk dan mulai mempengaruhi budaya asli kita, kita hanya diam dan malah menerima pengaruh budaya luar tersebut. lantas, siapakah yang akan meneruskan warisan kekayaan leluhur ini? Apakah kita hanya perlu diam meratapi kekejaman yang semakin menghantam bumi pertiwi ini? Tentu generasi peneruslah yang harus melakukan hal tersebut. generasi muda perlu menggali ilmu sebanyak – banyaknya agar apa yang seharusnya kita hindari dapat terhindarkan. Namun apa yang terjadi? Indonesia malah semakin terpuruk oleh genari penerus kita. Pembunuhan dan pemerkosaan marak dilakukan oleh kalangan pemuda. Dimana letak hati dan pikiran mereka? Pengaplikasian dari ilmu yang mereka dapatkan justru disia – siakan. Disaat ilmu sangat penting untuk kita justru perlu disimak, mereka justru bermain – main dan bolos saat menimbah ilmu tersebut. Masuknya perkembangan teknologi juga membuat kalangan muda memilih untuk mencoba menggunakan teknologi dalam kehidupan mereka sehingga berkomunikasi secara langsung sudah snagat minim dilakukan. Itukah perilaku anak bangsa? Apakah moral itulah yang patut dicontohi?. Penggunaan dan peredaran narkoba marak terjadi. Sebab apa? Mereka tergiur dengan iming – iming uang yang mungkin dapat menyejahterakannya. Justru hal itu salah. Hal tersebut justru membiarkan diri kita terjerumus kedalam masalah dan dikejar masalah. Jika terus begini, siapa yang akan menjaga keutuhan bangsa indonesia?. Tentu tidak ada jika tidak diupayakan. Oleh karena itu, sebagai perangkat negara, pemerintah seharusnya ikut ambil alih dalam memberikan pengarahan dan sosialisasi ke seluruh Indoesia agar dapat menyadarkan mereka bahwa bangsa ini akan semakin hancur jika kita tidak berhenti membuat masalah. Apakah kita tidak rindu dimasa ketika pepohonan menari sambil menggugurkan daun – daunnya. Disaat komunikasi yang tidak pernah dilepas oleh apapun. Kekeluargaan sangat kental pada saat itu. Kita semua hidup tenteram sehingga kepercayaan tetap terjaga satu sama lain. Dahulu kita berbondong – bondong berlari menimbah ilmu. Kami senang dan tidak ada beban. Bermain bersama teman adalah obat kegelisahan kami. Budaya sangat dijaga sehingga tetap terjaga kesakralannya. Tidakkah kita rindu hal tersebut? indonesia itu indah. Sangat sayang jika disia – siakan hanya karena diperdaya oleh hal – hal baru yang mengusik. Perlu adanya kesadaran diri agar kita tetap bisa menjaga keutuhan bangsa dan negara indonesia sehingga dapat kembali merasakan kedamaian dan kemakmuran Agar bangsa ini tetap terjaga seperti dahulu.

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
rizal nanda maghfiroh
2 tahun yang lalu 07/05/23
Kala Sayyidah Aisyah R.A Tertuduh Berzina

Kala Sayyidah Aisyah R.A Tertuduh Berzina

Op-ed

Pada suatu hari Rasulullah SAW hendak berpergian lalu beliau bingung untuk memilih siapa isteri beliau yang diajak untuk berpergian. Atas dasar keadilan Rasulullah Muhammad SAW pun memutuskan untuk melakukan pengundian yang pada akhirnya nama yang keluar adalah Sayyidah Aisyah Ra. Pada saat itu adalah masa turunnya ayat tentang Hijab (pemisah antara laki-laki dan perempuan), sebelum turunnya ayat itu laki-laki dan perempuan bebas bersama-sama melakukan sebuah aktifitas. Oleh karena itulah pada saat itu Sayyidah Aisyah Ra pun harus merelakan untuk menempati ruangan rumah-rumahan tertutup yang digotong oleh para sahabat. Saat itu pula bertepatan dengan sebuah perang bernama “Banil Mustaliq” yang mana pada akhirnya Nabi Muhammad SAW, Sayyidah Aisyah Ra, beserta para rombongan berpartisipasi dalam peperangan tersebut.

Setelah perang selesai dengan kemenangan pasukan islam, maka pada malam harinya Rasulullah SAW beserta rombongan termasuk Sayyidah Aisyah Ra pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Ketika dalam perjalanan Sayyidah Aisyah Ra hendak membuang hajat dan memutuskan untuk turun dari rumah-rumahan tersebut (Sekedup). Para sahabat tidak mengetahui bahwa Sayyidah Aisyah Ra turun dari rumah-rumahan tersebut, mereka pun pergi meninggalkan Sayyidah Aisyah yang buang hajat dengan menggotong rumah-rumahan (Sekedup) kosong, karena mereka mengira bahwa Sayyidah Asiyah Ra masih berada didalam ruangan tersebut.

Mendapati bahwa para rombongan meninggalkan beliau, Sayyidah Aisyah Ra pun cemas dan khawatir apalagi ditambah putusnya kalung kesayangan beliau. Sayyidah Aisyah Ra berfikir pasti nantinya rombongan akan mencari beliau tatkala tak mendapatinya dalam sebuah rumah-rumahan (sekedup), beliau pun memutuskan untuk diam di tempat hingga tertidur ditempat tersebut. Suatu ketika salah satu sahabat Nabi bernama “Saffan Ibnu Muwafiq” yang ditugaskan berjaga barisan belakang kaget tatkala menemukan Sayyidah Aisyah Ra yang tertidur sendirian, ia pun mengajak Sayyidah Aisyah Ra bersama-sama pulang menuju Madinah.

***
Tatkala sampai di Madinah terjadilah berita menggemparkan bahwa yang mana Sayyidah Asiyah Ra dituduh berzina dengan Saffan Ibnu Muwafiq. Sebenarnya tuduhan tersebut bermula dari seorang mufasiq bernama Abdullah Bin Ubaid. Saat itu sebenarnya Sayyidah Aisyah Ra belum mengetahui tuduhan tersebut. Beliau baru mengetahuinya dari “Ummu Mitsah” tatkala ketika beliau hendak membuang hajat dengan ditemani Ummu Mitsah, mengingat sesampai di Madinah Sayyidah Asiyah Ra langsung menuju rumah Ayahandanya “Abu Bakar As Shiddiq”. Akan tetapi saat itu Siti Aisyah menanggapi tuduhan tersebut dengan apatis dan cuek.

Ketika Sayyidah Aisyah Ra bermaksud bertemu Rasulullah SAW dirumah beliau dan menjumpai beliau disana. Siti Aisyah dibuat heran dengan perilaku Rasulullah SAW yang tak seperti biasanya, dimana Nabi Muhammad hanya berkata tentang ucapan salam dan bertanya tentang bagaimana kabar Aisyah. Merasa bahwa ada yang aneh dari geliat Nabi Muhammad SAW maka Siti Aisyah Ra pun minta izin kepada Nabi untuk pulang kembali ke rumah Ayahnya Abu Bakar, dimana Siti Aisyah bermaksud hendak menayakan kebenaran terkait tuduhan zina bersama Saffan yang menimpa padanya.

Sesampainya dirumah Ayahnya Abu Bakar, Siti Aisyah pun menanyakan pada beliau terkait kebenaran adanya kabar terkait tuduhan tersebut. Sayyidina Abu Bakar Ra pun menjelaskan pada Siti Aisyah selengkap-lengkapnya terkait kabar tuduhan tersebut. Mendengar cerita dari ayahanda Siti Aisyah pun menangis dan meneteskan air mata.

***
Disisi lain Nabi Muhammad SAW meminta pertimbangan pada dua sahabat beliau “Ali Bin Abi Thalib Ra” dan “Usama Bin Zaid” terkait keputusan untuk menceraikan Siti Aisyah atas dasar kabar perzinaannya dengan Saffan. Hal ini dikarenakan sejak munculnya kabar berita perzinaan Siti Aisyah, wahyu tidak lagi turun kepada Nabi Muhammad SAW tak seperti biasanya. Usama Bin Zaid pun mengebalikan keputusan tersebut kepada Nabi untuk menceraikan atau tetap mempertahankan ikatan, “terserah engkau wahai Rasul” Kata Usama, sedangkan Ali Bin Abi Thalib memberikan pertimbangan “Semoga memang baik-baik saja, Wanita bukan hanya Siti Aisyah wahai Rasulullah” (Ucapan Ali Bin Abi Thalib inilah yang pada akhirnya berdampak pada sedikit rusaknya keharmonisan antara beliau dengan Siti Aisyah yang pada puncaknya terjadinya Perang Jamal pada masa kepemimpinan beliau sebagai Khalifah).

Kemudian Usama Bin Zaid dan Ali Bin Abi Thalib pun memberi usulan agar Nabi Muhammad SAW menjumpai Balirah guna memberikan pertimbangan lain terkait penyikapan berita tersebut. Balirah pun berkata “Tidak mungkin wahai Nabi bahwa Siti Aisyah melakukan perbuatan perzinaan mengingat sifat Siti Aisyah sendiri masih kekanak-kanakan”. Mendengan perkataan Balirah, Nabi Muhammad SAW pun mempercayai bahwa Siti Aisyah memang tak bersalah dan hanya semata-mata dituduh oleh seseorang.

Nabi pun memutuskan untuk mengumpulkan para pemuka kabilah dan suku guna menanyai terkait siapa yang telah menyebar berita bohong tersebut. Tiba-tiba muncul Saad Bin Ubaid (pemimpin Suku Khasraj) berkata “Barang siapa yang memang memfitnah yang mana jika berasal dari suku Aus maka akan ku potong lehernya dan jika berasal dari suku ku (Khasraj) maka akan aku serakan kepada engkau wahai Nabi”. Sontak perkataan dari Saad Bin Ubaid tersebut mendapat bantahan keras dari pihak suku Aus, “Tidak bisa engkau memutuskan hal itu” kata Uzaid Bin Khudair selaku pemimpin Suku Aus. Perdebatan dua suku tersebut hampir saja memicu pengulangan terjadinya peperangan antar dua suku terbesar di Madinah tersebut.

***
Ketika Rasulullah menemui Siti Aisyah dirumah Ayahandanya Abu Bakar beliau mendapati Aisyah menangis pilu, lalu Rasul pun berkata kepada Aisyah; “Wahai Aisyah, apabila engkau tidak berzina maka tentulah Allah SWT akan memberi kemudahan, namun jika engkau memang melakukan hal tersebut maka bertaubatlah”. Mendengar perkataan dari Rasul, Aisyah pun berhenti menangis lalu berkata “Aku ini wanita muda, aku ini juga belum hafal Al-Qur’an. Demi Allah, jika aku memang mengatahakan tidak terkait hal tersebut engkau tentu tetap tidak akan mempercayainya wahai Rasul karena berita tersebut memang sudah seakan menjadi kebenaran. Namun apabila aku mengatakan ucapan Ya terkait kejadian tersebut tentulah aku membohongi Allah SWT”.

Setelah kejadian itu maka turunlah wahyu Allah kepada Nabi sampai Nabi Muhammad mengeluarkan keringat walau saat itu suasana Madinah sangat dingin. Nabi pun tersenyum dan berkata “ Wahai Aisyah, engkau telah dibebaskan dari kebohongan oleh Allah SWT”. Mendengar perkataan Nabi maka Ibu Aisyah pun berkata “Aisyah bersyukur dan berterima kasihlah kepada Nabi”. Sontak Aisyah pun berkata “Aku tidak akan bersyukur kepada Nabi tetapi aku akan bersyukur kepada Allah SWT”

Disisi lain Abu Bakar pun marah setelah mengetahui kebenaran dari peristiwa tersebut, “Demi Allah, aku tidak akan memberi nafkah lagi pada Mistah (Mistah adalah orang yang bersama Abdullah Bin Ubaid memfitnah Aisyah)”. Tiba-tiba kembali turun wahyu kepada Nabi yang berisi larangan mengucapkan sumpah atas nama Allah dalam hal keduniawian. Mendengar penjelasan Nabi maka Abu Bakar pun mencabut sumpahnya dan berkata “Demi Allah Aku menyukai Allah SWT yang Maha Pemaaf”. Semenjak kejadian tersebut Siti Aisyah pun senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. Dalam waktu lain Nabi Muhammad SAW bertanya kepada isteri beliau Zainab “Wahai Zainab, bagaimana pandanganmu tentang Aisyah ?”. Zainab menjawab “Aku tidak melihat apa-apa dan aku tidak mendengar apa-apa, Aisyah adalah wanita yang selalu terjaga kesuciannya”.

Rizal Nanda Maghfiroh

Sumber:
Dikutip dari dawuh KH. Mohammad Djamaluddin Ahmad (Majlis Pengasuh Ponpes Bahrul ‘Ulum Tambakberas) dalam pengajian Al Hikam 4 Januari 2010.

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Kholid al Afghani
2 tahun yang lalu 07/05/23
welcome to the machine

"Welcome To The Machine" Sebuah Refleksi Terhadap Lembaga Pendidikan

Op-ed

"Welcome To The Machine"

Welcome my son, welcome to the machine.
Where have you been?
It's alright we know where you've been.
You've been in the pipeline, filling in time
Provided with toys and Scouting for Boys.
You bought a guitar to punish your ma.
And you didn't like school,
and you know you're nobody's fool.
So welcome to the machine.

Welcome my son, welcome to the machine.
What did you dream?
It's alright we told you what to dream.
You dreamed of a big star,
He played a mean guitar,
He always ate in the Steak Bar.
He loved to drive in his Jaguar.
So welcome to the machine.

Akhir-akhir ini saya sering memutar lagu-lagu 70-an 'progressive rock' (atau yang bernuansa psikedelik) setelah sekian lama mabuk dengan petikan gitar berat Jimmy Page dari Led Zeppelin, terlebih saat sedang menulis tugas -yang numpuk- kemarin. Genre progresif ini akhirnya berhasil menjatuhkan saya dan saya mulai merasa nyaman saat mendengarkannya, ketukannya slow, banyak nada-nada eksperimental yang sulit ditebak, terkadang bercampur dengan harmonisnya Jazz yang hangat, dan terutama sekali pada lirik-liriknya yang filosofis dan kritis.

Pink Floyd adalah salah satu band prog-rock juga psychedelic rock asal Inggris yang dibentuk pada tahun 1965. Dalam album "Wish You Were Here" (1975) lagu yang berjudul "Welcome to The Machine", mengkritik sistem pendidikan di sekolah-sekolah bagaikan sebuah mesin. Namun mesin disini dalam arti tidak menjadikan anak itu sebagai suatu suku cadang atau hardware yang menjadikan mesin semakin canggih, tapi anak dijadikan sebagai bahan bakar. Makanya dalam bagian liriknya digambarkan "sesuatu yang keluar dari pipa".

.....
You've been in the pipeline, filling in time
Provided with toys and Scouting for Boys
.....
So welcome to the machine

Menurut subyektif penulis, yang dimaksud dalam lirik ini juga tentang realitas anak yang seharusnya berada di bangku sekolah namun tidak mau (mampu) untuk sekolah, entah karena relativitas kemampuan anak ataupun yang lainnya. Sehingga, anak hanya menjadi penerima pelajaran dengan buta dan mimpi-mimpi dari 'orang tua' (kiranya yang dimaksud 'orang tua' di lirik ini mengacu kepada status quo, atau dalam istilah film The School of Rock adalah “The Man”. Atau juga karena tekanan sosial yg membuat seragam dengan orang lain). Hal yang demikian akan menghilangkan sikap kritis dan kreativitas. Pada akhirnya hal itu akan membuat si anak datang ke dalam 'mesin' bukan sebagai suku cadang, tetapi sebagai bahan bakar. Oleh karenanya si anak digambarkan datang dari 'pipeline' atau pipa saluran bahan bakar.

Sepertinya 'sekolah' yang diinginkan oleh-persona atau penulis-lirik dalam lagu ini adalah sekolah yang menjadikan seseorang menjadi pemikir kritis dan mempunyai kreativitas yang bebas, sehingga tidak hanya mendamba bintang-bintang besar yang hidup berkubang di steak bar dan menunggang Jaguar. Jadi, kalau diulur lebih jauh lagi, lagu ini juga mengandung asumsi bahwa tidak sekolah formal pun tidak masalah asal bisa berpikir kritis.

Menurut Emha Ainun Nadjib, pendidikan adalah menemani anak didik untuk mengetahui kehendak Tuhan terhadap dirinya tersebut. Cara pertama yang harus ditempuh untuk mengetahui kehendak Tuhan adalah mengenal jati dirinya. Sesungguhnya Tuhan sudah memberikan seperangkat pengetahuan, begitu lahir ke dunia - ia sengaja dilupakan oleh Tuhan. Hikmahnya, agar manusia tersebut senantiasa mencari, meneliti dirinya sendiri sampai menemukan (keagungan) Tuhan. Paradigma pembelajaran yang ada hingga saat ini masih cenderung 'mengimpor' pengetahuan dari luar dirinya. Akibatnya pengembangan potensi kemampuan nalar akal dan kreativitas mengalami kemandegan. Oleh karena itu, menurut Cak Nun pendidikan harus mengenal sangkan paran, yaitu dimana tempat berpijak dan kemana harus melangkah ke tujuan sejati.

Dari kecil kita sudah menjadi budak yang sangat terdidik dengan jerat sistem pendidikan (sekolah) yang sedemikian rapi dan cita-cita bak raja dengan segala kemuliaannya. Semua yang diajarkan di sana kompleks, sempurna dan brilian. Bahkan, budak tersebut harus mampu mendaki tebing yang tinggi, yakni tujuan dengan peraturan yang sombong itu. Demi mimpi yang paling mulia kelak. Tak peduli relativitas kemampuan mereka, bagaimana mereka melangkah tertatih-tatih kesulitan atau mungkin seperti merasa tenggelam dalam laut yang begitu dalam. Pada akhirnya mau tidak mau mereka harus menurut pada sistem itu dengan hasil apapun. Hingga akhirnya mereka terlepas dari sistem yang mengekang, dan dihadapkan dengan medan pertempuran yang baru, yakni realitas kehidupan.

Paradigma tentang seorang (pelajar) yang cerdas pun kiranya telah benar-benar sempit dan terbatasi oleh bagian-bagian kecil dari kehidupannya di lingkungan sekolah saja. Dalam arti bahwa seorang akan dianggap cerdas jika ia hebat dalam (pelajaran) matematika, fisika, ekonomi dan lain sebagainya. Yang (kebanyakan) hanya bersifat teori saja. Padahal, proses pendidikan bukan hanya dalam lingkup sekolah saja. Namun, ada keluarga dan lingkungan yang merupakan agen sosialisasi juga.

Kesadaran menampar mereka, nyatanya apa yang sudah dipelajari kala itu tidak bersahabat dengan relativitas dan kondisi realitas yang dihadapinya. Sisi kreatifitas mereka lumpuh dan membusuk. Meskipun beberapa dari mereka, akhirnya dapat berjumpa dengan mimpi yang selalu dimpikannya. Sebagian yang lain akan menjadi pupuk penyubur tanaman kapital yang seakan tak mungkin mati.

Dan sebagian yang terakhir akan dihadapkan dengan kebingungan, seakan apa yang dirasakannya bagaikan bayi yang baru lahir atau seperti anak kecil yang diharuskan turun dalam medan pertempuran tanpa adanya mukjizat dari Tuhan. Bagaimanapun mereka harus bereksplorasi di saat itu juga, menemukan passion dan mulai membangkitkan kreativitas yang lumpuh itu. Lalu sejauhmana pendidikan yang sudah ia teguk selama bertahun-tahun itu berdampak??

Kesadaran harusnya ditumbuhkan sedini mungkin, di mana tempat berpijak dan kemana harus melangkah ke tujuan sejati. Sekolah harus melahirkan para pemikir yang kritis dan menjadi pribadi yang kreatif agar mereka dapat bereksplorasi ria, karena mereka adalah tonggak bangsa bukanlah bahan bakar. Menemukan apa yang harus dihadapi dengan relativitas kemampuannya juga medan realitas yang mengharuskannya hidup hingga dapat tumbuh berbunga dan berbuah.

Tulisan ini hanya bunga liar dari pekatnya kopi dan asap-asap yang menemani saya di malam hari.

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
sri wahyuni
2 tahun yang lalu 07/05/23
KEBANGSAAN

KEBANGSAAN

Op-ed

Menurut saya Setiap warga negara Indonesia memiliki kedudukan hak dan kewajiban yang sama. Yang terpenting setiap orang haruslah terjamin  haknya untuk mendapatkan status kewarganegaraan. Indonesia adalah negara yang besar. Kaya akan suku, budaya, agama, bahasa,  kekayaan yang melimpah, dan memiliki ribuan pulau yang terbentang luas dan diiringi jumlah penduduk yang selalu bertambah.  Seiring perjalanan waktu,  wawasan kebangsaan semakin memudar.

Menurut kalian apa itu Kebangsaan? Apakah dengan mengakui bahwa “ Saya berKEBANGSAAN Indonesia “ itu sudah bisa di katakan KEBANGSAAN? “ itu namanya hanya pengakuan saja. Negara kita saat ini sedang mengalami krisis kebangsaan. Kebangsaan negara kita setiap harinya terancam. Ancam-ancaman dari luar yang ingin menghancurkan negara kita dengan cara-cara yang tidak pantas dan merusak moral. Misalnya, Narkoba adalah salah satu cara warga asing untuk mengintervensi generasi muda di Indonesia. Untuk itu, Marilah kita para generasi muda tidak terjerat kepada barang haram itu serta membantu penegak hukum untuk memberantasnya. Kalian pasti sudah sering mendengar barang haram itu. Di Negara kita ini, Narkoba bukanlah hal yang tabu lagi untuk di bicarakan. Jangan menyepelekan Narkoba. Barang tersebut bisa merusak diri kita dalam persekian detiknya setelah mengkonsumsi obat tersebut. Dengan menggunakan Narkoba, Kita bisa kehilangan akal sehat. Selalu melakukan hal-hal buruk yang tentu saja berdampak pada kebangsaan kita.

Dengan susah payah para pahlawan memerdekakan negara kita. Bertumpah darah bahkan mati untuk negara kita. Kebangsaan lahir ketika bangsa Indonesia berjuang membebaskan diri dari segala bentuk penjajahan, seperti penjajahan oleh Portugis, Belanda, Inggris, dan Jepang. Perjuangan bangsa Indonesia yang waktu itu masih bersifat lokal ternyata tidak membawa hasil, karena belum adanya persatuan dan kesatuan, sedangkan di sisi lain kaum colonial terus menggunakan politik “devide et impera”. Kendati demikian, catatan sejarah perlawanan para pahlawan itu telah membuktikan kepada kita tentang semangat perjuangan bangsa Indonesia yang tidak pernah padam dalam usaha mengusir penjajah dari Nusantara. Sekali lagi para generasi Muda, Mari banggakan bangsa kita ini. Dengan menjunjung nilai tinggi pancasila dan membuktikan bahwa Kebangsaan Indonesia adalah Bangsa yang kuat dan cerdas.

Pada tanggal 10 November di peringati sebagai hari Pahlawan. Yang melatarbelakangi tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan adalah peristiwa pertempuran hebat yang terjadi di Surabaya antara arek-arek Suroboyo dengan serdadu NICA yang diboncengi Belanda. Mantan pimpinan tertinggi gerakan Pemuda Republik Indonesia (PRI) Sumarsono yang juga ikut ambil bagian dalam peperangan pada saat itu mengusulkan kepada Presiden Soekarno agar menetapkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan. Momentum peperangan di Surabaya tersebut menjadi legitimasi peran militer dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Sehingga nilai kepahlawanan tersemat dalam sebuah perjuangan melawan agresi militer. Dan untuk memobilisasi kepahlawanan secara militeristik. Sekali lagi dan lagi, Saya sebagai Generasi muda penerus bangsa mengajak kalian semua untuk menjadi generasi menghargai perjuangan para pahlawan-pahlawan kita.

Hari jadi Pewarta Nusantara yang bertepatan dengan hari pahlawan juga yaitu  pada tanggal 10 November mengusung tema “Merajut Kebinekaan untuk Persatuan dan Kesatuan”. Tema ini disusung guna menyikapi era yang serba teknologi dan termediakan. Bagaimana tidak, Pengetahuan masyarakat jawa terhadap keadaan dan berbagai informasi tentang Papua, Sulawesi, Sumatera, tentusaja berasal dari teknologi media elektronik. Begitu juga sebaliknya, masyarakat papua yang kemudian bisa mengenal Sumatera, Kalimantan Jawa baik kebudayaan maupun kegiatan adatnya tentu berasal dari sumber yang sama. Untuk itu, perlu kiranya Pewarta Nusantara menjembatani satu ungkapan perasaan yang sama kepada seluruh masyarakat Indonesia tentang bagai mana sesungguhnya kita tidak sekedar saling tau, melainkan saling cinta dan saling menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Apa itu Pewarta Nusantara? Pewarta Nusantara adalah media online yang memfasilitasi generasi kreatif Indonesia di bidang literasi. Kalian adalah generasi muda yang mengaku kreatif tapi belum mengunjungi website resmi mereka? Ayo kunjung website resmi mereka di https://www.pewartanusantara.com/ Kalian bisa mendapatkan hal-hal yang bermanfaat di website mereka.

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
sepri murtiningsih
2 tahun yang lalu 07/05/23
Merdeka

Indonesiaku (Sudah) Merdeka, Namun Kondisi Bangsaku Sudah Berbeda

Op-ed

Menilik kembali pada sejarah negeri. Ingatkah Anda dengan Sumpah Pemuda? Sebuah pengakuan dari Pemuda-Pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Sumpah Pemuda yang lahir pada tanggal 28 Oktober 1928 merupakan puncak dalam tonggak bersatunya bangsa Indonesia yang nyata. Dalam sejarahnya, pemuda Indonesia selalu ikut andil dan berperan penting dalam pergerakan nasional dan kebangkitan bangsa. Mereka menyebarkan semangat ’45 dan melakukan aksi nyata untuk sebuah perubahan, keadilan hingga kemerdekaan. Hebatnya, semua yang mereka lakukan dibarengi dengan kepekaan sosial, kecerdasan intelektual dan semangat akan sebuah pergerakan. Bagaimana tidak? Apa yang mereka lakukan, semua didasari karena rasa kebangsaan dan rasa cinta terhadap Indonesia.
Berkaca pada 89 tahun pasca Sumpah Pemuda, kita tidak bisa memungkiri dan mengelak bahwa kondisi bangsa Indonesia kini tak lagi sama. Negara Indonesia sudah merdeka, namun semangat cinta tanah air dan rasa kebangsaan kian terasa berbeda. Memang tidak bisa dipukul rata terhadap penyimpulan kondisi negara dan bangsa kita yang sekarang dengan dulu. ‘Kan dulu Indonesia belum merdeka, penjajah masih ada, pergolakan terjadi dimana-mana. Jadi wajar jika para pemuda melakukan pergerakan nasional demi kemerdekaan dan kemenangan bangsa dan negara. Lha sekarang? Indonesia kan sudah merdeka, lalu apalagi yang mau diperjuangkan?.’ Mungkin memang benar Indonesia sudah merdeka, namun semangat Sumpah Pemuda jangan terlupakan begitu saja. Tetap tanamkan rasa cinta terhadap Indonesia dimanapun kita berada. Jika dikatakan sudah merdeka, memang negara kita sudah merdeka. Namun untuk masalah penjajahan? Bisakah kita ambil kesimpulan bahwa seratus persen penjajahan itu sudah tidak ada? Bisa dikatakan berbeda zaman, berbeda wujud pula. Sadar ataupun tidak penjajahan itu masih ada. Mungkin bukan berupa penjajah pada umumnya yang berwujud manusia, tapi bisa berupa teknologi, budaya luar ataupun semacamnya yang secara tidak langsung masuk ke Indonesia kemudian membius jutaan umat dengan berbagai cara hingga membuat masyarakat semakin lama, semakin lupa dengan dirinya sebagai bangsa Indonesia. Kita ambil contoh dari segi budaya, budaya luar yang masuk lebih digemari dan digandrungi dibandingkan dengan budaya sendiri. Hal ini tentu saja dapat membuat budaya kita semakin lama semakin terlupa.
Satu hal yang perlu kita ketahui adalah apa yang kita hadapi di era sekarang ini merupakan tantangan baru untuk mempertahankan keutuhan bangsa dan negara. Kita sebagai masyarakat Indonesia dan khususnya generasi penerus bangsa wajib menjaga dan merawat apa yang telah dimiliki negara kita tercinta. Memaknai kembali Hari Sumpah Pemuda dan berusaha bagaimana agar bangsa ini bisa menjadi lebih baik dan bermartabat untuk kedepannya. Dengan segala macam potensi yang tersedia serta dibarengi dengan kekreatifan serta semangat para pemuda Indonesia semoga bisa mengubah Indonesia menjadi negara yang berkembang pesat tanpa menghilangkan rasa cinta terhadap Indonesia dengan segala asset yang dimilik
inya.

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Alfira Windi Afkarina
2 tahun yang lalu 07/05/23

Flashback Hari Pahlawan, yuk!

Op-ed

Hari Pahlawan? Masih ingatkah kalian dengan hari pahlawan? Adakah sejarah yang tersirat di dalamnya? Yuk, kita ulas tentang Hari Pahlawan.

Pahlawan? Tahukah anda apakah pahlawan itu? Ya, pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani. Palawan tak pernah mengenal rasa takut dalam menghadapi musuh, senantiasa membela kebenaran dan tidak akan membiarkan kebohongan, kedustaan, kemunafikan mengikis bangsa kita. Pahlawan rela berkorban demi mewujudkan apa yang menjadi hak bangsa kita. Dengan gigihnya, ia tak pernah mengenal kata menyerah. Baginya, menyerah sama dengan kalah sebelum berperang.

Sampai di sini adakah pandangan mengenai hari pahlawan di pikiran kalian? Apa, ya? Baiklah, marilah kita flash back menuju peristiwa bersejarah sekaligus menegangkan 72 tahun silam tepatnya di Kota Pahlawan, Surabaya.

Hari Pahlawan biasanya kita peringati setiap tanggal 10 November, karena tepat pada tanggal tersebut terjadi pertempuran yang cukup besar. Pertempuran 10 November  adalah pertempuran pertama kali setelah dikumandangkannya proklamasi oleh Soekarno Hatta, bapak proklamator kita.

Apa yang menyebabkan terjadinya Pertempuran 10 November 1945, padahal bangsa kita sudah merdeka pada saat itu?

Penyebab Pertempuran 10 November 1945

Latar belakang terjadinya peristiwa 10 November adalah karena insiden yang terjadi di Hotel Yamato Surabaya, tepatnya pada tanggal 18 September 1945. Pasukan Belanda yang berada di bawah pimpinan Mr. Ploegman dengan sengaja mengibarkan bendera Belanda di atas Hotel Yamato. Hal tersebut memicu rasa jengkel dan kemarahan arek-arek Suroboyo.  Arek-arek Suroboyo merasa dihina atas kemerdekaan yang telah diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.  Dengan keberanian yang menggelora, para pemuda menaiki Hotel Yamato kemudian dengan cepat menyobek warna biru pada bendera Belanda sehingga hanya tersisa warna merah dan putih.  Melihat perlakuan tersebut, meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia dengan tentara Inggris pada tanggal 27 Oktober 1945.

Paparan Pertempuran 10 November 1945

Pertempuran – pertempuran kecil itu ternyata kian hari semakin membahayakan Kota Surabaya. Serangan umum sangat cepat berkobar yang hampir membinasakan seluruh tentara Inggris jika Jendral D.C Hawthorn tidak meminta bantuan Jendral Soekarno untuk meredakan situasi panas tersebut.

Pertempuran sempat mereda sampai ditandatangani gencatan senjata antara pihak Indonesia dengan tentara Inggris pada tanggal 29 Oktober 1945. Meskipun demikian, beberapa pertempuran kecil masih saja tak terhentikan di beberapa tempat hingga puncaknya pada peristiwa terbunuhnya Aubertin Walter Sothern (A.W.S.) Mallaby yang lebih dikenal dengan Brigadir Jendral Mallaby, yaitu pimpinan tentara Inggris untuk wilayah Jawa Timur.

Terbunuhnya Jendral Mallaby dikarenakan Mobil Buick yang dikendarainya berpapasan dengan milisi Indonesia ketika melewati Jembatan Merah. Kesalahpahaman pun tak terhindari hingga akhirnya Jendral Mallaby tewas tertembak milisi Indonesia. Kejadian tersebut menimbulkan kemarahan di hati tentara Inggris. Jabatan Jendral Mallaby pun segera digantikan oleh Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh dengan mengeluarkan ultimatum 10 November 1945 yang meminta pihak Indonesia untuk segera menyerahkan persenjataan dan menghentikan serangan terhadap tentara AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) dan administrasi NICA (Netherlands Indies Civil Administration).

Semangat Bangsa Indonesia yang pantang menyerah berujung pada penyerangan oleh tentara Inggris pada tanggal 10 November 1945 di waktu subuh. Aksi yang disebut “Ricklef” atau “pembersihan darah” di seluruh sudut Kota Surabaya dibuktikan dengan pertahanan rakyat Surabaya yang tak pernah runtuh meskipun dengan jelas maut akan menyambut. Mereka tidak meninggalkan Kota Surabaya. Semangat kemenangan yang tinggi meyakinkan mereka untuk tetap mempertahankan Kota Pahlawan itu.

Dalam waktu tiga hari, tentara Inggris mampu menaklukkan seluruh sudut Kota Surabaya yang menewaskan sekitar 6000-16.000 rakyat Indonesia. Mereka yang selamat memilih meninggalkan kota setelah selama tiga minggu pertempuran benar-benar selesai. Banyaknya korban yang tewas menggambarkan gigihnya perjuangan rakyat Indonesia. Rasa cinta tanah air yang tak dapat dibayar dengan apapun menghasilkan kehidupan yang kita rasakan saat ini. Hembusan udara kemerdekaan di setiap pagi adalah hasil perjuangan dengan tumpahan darah yang begitu menegangkan.

Itulah mengapa tanggal 10 November disebut sebagai hari pahlawan. Tengoklah ke belakang! Bangsa ini ada karena diperjuangkan. Memperjuangkan bangsa ini agar berdiri kokoh tak semudah kita membalikkan telapak tangan. Banyak yang telah dikorbankan hingga nyawa para pejuang melayang. Mereka yang hanya bermodal bambu runcing tak gentar dengan ledakan bom super modern milik musuh. Dengan semangat juang tinggi dan keyakinan untuk tercapainya cita-cita kemerdekaan, para pejuang tetap maju tanpa ragu.

Bambu runcing? Ya, dengan bambu runcing kita lawan para penjajah saat itu. Meskipun panjajah meremehkan kita, meskipun penjajah terus menenggelamkan semangat kita, meskipun penjajah terus menghancurkan bangsa kita. Tapi tidak dengan gelora semangat para pahlawan Indonesia yang selalu membara ditengah gentingnya keadaan. Tekad yang bulat menghasilkan satu kata yang begitu besar, satu kata yang begitu membahagiakan, memberikan rasa aman bagi seluruh rakyat Indonesia, MERDEKA.

Sebagai generasi muda, kita telah menikmati hasil dari perjuangan para pahlawan. Kita telah menghirup segarnya udara kemerdekaan tanpa harus berlelah-lelah berjuang ,bertaruh nyawa dan mengorbankan seluruh jiwa raga. Apa yang harus kita lakukan saat ini? Haruskah kita juga berjuang melawan para penjajah? Menyodorkan bambu runcing ke hadapan para penjajah yang tak berhati nurani? Tak memiliki rasa belas kasih dan rasa toleransi.

Tidak! Kita hanya perlu menjaga bangsa ini agar namanya terus harum di seluruh muka bumi. Menunjukkan betapa kuatnya bangsa kita ini. Membuktikan bahwa kita bisa membawa nama Indonesia ke puncak tertingi dunia. Melalui pendidikan, kita harus berjuang menembus jendela pembatas menuju dunia luar. Kita perlu mengubah pola pikir menjadi lebih kreatif dan inovatif. Tak pernah lengah memanfaatkan peluang yang ada demi terciptanya Indonesia jaya. Bertindak lebih cepat dari biasanya dan senantiasa menjunjung jiwa nasionalisme. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya dan jangan sekali – kali melupakan sejarah, JAS MERAH!

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Kholid al Afghani
2 tahun yang lalu 07/05/23
Kupret ngaji sama kiyai jarkoni

Ngaji sama kiyai Fajar Abdul Ghoni (kiyai jarkoni)

Op-ed

"Manusia adalah makhluk Tuhan yang diberikan akal dan pikiran untuk memandu kehidupannya di dunia. Kalau manusia tidak menggunakan akalnya untuk berpikir, apa bedanya dengan binatang? Jika saya tidak memutar otak, dari mana saya bisa memberi makan keluarga? Memang semuanya itu dari Allah, sayangnya Allah tidak datang kesini menenteng bahan makanan, tapi kita yang harus aktif jemput bola. Bahkan jika tidak ada peluang, kita harus bisa menciptakannya."

Itu adalah wejangan ayah yang selalu saya ingat. Kalau ayah sudah bicara, omongannya memang suka ngelantur kemana-mana. Apa hubungannya bahan makanan dengan bola? Untungnya beliau punya anak yang... yah, you know what i Mean lah... Sehingga esensinya tetap bisa saya terima dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.

Pemikiran ayah yang sedikit meterialis, saya terapkan pada proses penaklukan hati sijelita penyuka warna merah, pemilik hidung panjang seruncing ujung pedang, dambaan para lelaki, Putri binti Kasturi.

Meskipun saya percaya, Tuhan telah mencatat nama saya dan Putri di lauhil mahfud, saya tetap harus menyingkirkan sendiri kutu-kutu yang menempel pada perjalanan cinta saya dan putri, Seperti Yogi dan para pengemis cinta lainnya. Point pentingnya, saya harus terus berada di dekat Putri. Jika tidak ada peluang sekalipun, maka saya harus menciptakannya sendiri.

Karena hari Minggu tidak bisa bertemu dengan putri di sekolah, Untuk itu saya harus ikut mengaji di pak kiyai Jarkoni setiap Minggu pagi. Ini akan menjadi moment perjumpaan yang berbeda dan sekaligus nilai lebih Dimata putri.

Minggu pagi tanpa mandi menjadi hari penting, karena pagi ini adalah pertama kalinya saya mengaji pada kiyai Jarkoni. Jelas itu bukan urusan spirituil, melainkan salah satu upaya strategis dalam penaklukan hati anak bapak kasturi.

Rumah kiyai Jarkoni tidak jauh, hanya berjarak 10 menit dari rumah saya. Namun, sekalipun saya tidak pernah mengusik ketenangan feodalis berkedok agama itu, keluarga Cendana yang hartanya tidak habis dimakan 7 turunan, diktator kaum proletar yang di tuhankan para santrinya, kiyai Fajar Abdul Ghoni.

Sesampainya di aula tempat pengajian, ternyata sudah dipadati para santri berpakaian putih yang berjumlah ratusan. Saya duduk di depan berharap putri tau kalau saya juga mengaji.

Tidak lama saya duduk pak kiyai datang. Beliau membuka pengajian dengan bacaan yang saya tidak pernah dengar, tapi semua santri hafal bacaan tersebut.

Seketika itu saya merasa salah di hadapan Tuhan, keimananku seolah kurang sempurna karena tidak hafal bacaan mereka, dan di dalam hati saya bertanya pada Tuhan "ya Tuhan, saya percaya kepadaMu. Dengan kepercayaan itu, saya merasa menjadi hambaMu. Melihat santri begitu antusias membaca bacaan ini yang saya baru pertama kali mendengarnya, apakah selama ini saya adalah orang yang sekular ya Tuhan? Apakah saya ini benar-benar hambaMu ya Tuhan?" Kataku sambil bengong melihat pak kiyai yang terus menatap kebengongnku.

Dalam pengajian, pak kiyai berkata "Sebagai umat Islam kita wajib hukumnya menuntut ilmu, jika tidak tau, maka bertanya kepada yang tau. Bagai mana kita bisa shalat jika kita tidak tau cara shalat?" Kata pak kiyai sambil memandangku dengan pandangan sinis seolah menebak saya adalah santri baru yang tidak datang kerumahnya membawa gula teh dan kawan-kawannya.

Kemudian beliau menunjuk saya dan menanyakan nama. "Siapa nama kamu mas? Iya, kamu yang pake peci hitam karatan." Seluruh ruangan menjadi gaduh oleh tawa santri. Mereka menganggap peci hitam kakek yang saya pakai ini lucu. "Dasar oportunis" kataku dalam hati.

"Siapa mas?" Tanya pak kiyai lagi. Entah kenapa yang saya ingat adalah ketika Putri memaki dengan sebutan "kupret" karena sampannya saya tabrak waktu itu.

Dengan tergesa-gesa dan sedikit grogi, saya jawab "Kupret pak kiyai !!" Suasana tiba-tiba hening, para santri menganggap saya memaki pak kiyai. "Oh, nama kamu kupret" kata pak kiyai. Santri kembali tertawa terbahak-bahak menertawakan nama saya yang tidak lazim.

Pak kiyai kembali bertanya "pret, kamu pernah shalat di masjid?" "Pernah pak kiyai" jawab saya sambil melirik putri yang duduk di barisan sebelah kanan khusus santriwati. "Bagus.. lalu kamu tau tidak, bagaimana hukumnya, jika kamu sedang shalat tiba-tiba ada seekor anjing masuk, anjing tersebut kemudian menjilat kaki waktu kamu shalat, shalat kamu sah atau tidak pret?"

Sebelum pertanyaan diucapkan, saya sempat berpikir "ini jelas pertanyaan jebakan. Saya harus bisa menjawab ini secara detail agar putri tau betapa calon imamnya sangat faham keilmuan agama" Yang saya pikirkan adalah moment ini harus dimanfaatkan dengan baik untuk mendapat perhatian Putri.

Sebelum pak kiyai selesai bertanya, saya menyela dengan jawaban yang lantang "Shalat harus dalam keadaan suci pak kiyai. Suci yang dimaksud adalah terbebas dari hadas kecil maupun besar. Sedangkan air liur anjing adalah najis mugholadhoh, najis besar pak kiyai!!, membersihkannya harus dibasuh tujuh kali, dan yang terakhir menggunakan pasir. Jika shalat dalam keadaan najis menempel di kaki, maka hukumnya haram dan tidak sah!!" Jawabku dengan tegas.

Suasana kembali hening setelah saya selesai menjawab. Pak kiyai kemudian berkata "ini adalah salah satu contoh anak yang harus terus mengaji, karena pemahamannya ternyata sangat dangkal" para santri kembali menertawai saya karena statement pak kiyai yang menyudutkan.

"Bagai mana mungkin shalat bisa sah kalau kakinya dijilat anjing pak kiyai!!, Pak kiyai jangan mengajarkan kesesatan pada santri!!" Saya mencoba menjelaskan kembali, dengan nada lantang penuh emosi.

"Shalat kamu tetap sah kupret.., karena yang dijilat anjing adalah kakinya sendiri". Seketika itu ruangan pecah dengan tawa santri yang terbahak-bahak. Saya benar-benar melakukan blunder fatal, terlihat dungu dan jelas saya belum pernah mengaji ala santri kiyai Fajar Abdul Ghoni. "Dasar Jarkoni"

 

#KupretPart2

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Arini Rachmatika
2 tahun yang lalu 07/05/23

Materai

Op-ed

Beberapa orang datang bergantian memadati sela di belakang punggungku. Sudah pukul sembilan malam, hanya pemilik foto kopian ini yang masih menyalakan lampunya. Foto kopian terdekat, dengan tarif murah perlembarnya, seratus lima puluh rupiah saja.

Urusanku dengan tukang foto kopi sudah sebelas menit lalu selesai. Tapi enggan aku beranjak menuju pulang. Udara malam berisik di telingaku, menari-nari, mengarang melodi, hingga disampaikannya sesuatu; jangan pulang dulu.

Nikmati kami, nikmati kami.

Tapi tidak ada boks rokok di kantung kemejaku, hanya materai enam ribu.

Kukeluarkan dia itu dari saku yang baru berpindah tangan dari sang penjual kepada pembeli yang belum mapan. Secara hangat, baik-baik, dan bersahabat. Pecahan uangku pas, sehingga dia tidak perlu repot-repot mengambil kembalian dan mendapatkan kesenangan kecil karena bisa lebih cepat tiga detik melayani pelanggan baru.

Seorang bapak-bapak tambun mengisi ruang di belakang punggungku. Aku maju sedikit dengan tumit bawah yang kugeser kecil-kecil.

Materai enam ribu itu sekarang di tanganku. Kumiliki untuk keperluan administrasi yang merepotkan sekali. Angka 6000-nya yang dibuat dari bahan berbeda dengan permukaan lainnya berkilauan disorot cahaya lampu jalanan, yang kalau kutatap ia, cahayanya mau beradu sengit dengan kacamataku.

Kutangkupkan dia, si materai enam ribu di tangan. Rasanya seperti menjebak seekor kupu-kupu dengan sayapnya yang rapuh.

“Hei, apa yang kau tunggu?”

Seorang anak muda, sebayaku, terlihat bicara dengan mulutnya yang dipenuhi segala macam ide tentang dia dan caranya menghabisi malam –mungkin setelah pergi dari sini. Dia terlihat melotot ke arahku, atau matanya memang begitu. Membuat jeda antara pertanyaannya dan jawabanku yang selain itu juga disekat oleh udara.

Aku belum kepikiran tentang apa yang kujawab padanya. Apakah berkas yang masih difoto kopi, file yang di-print, atau recehan kembalian. Jadi aku hanya menunjuk etalase yang kelihatannya dari sini sang tukang foto kopi tengah memeluknya. Atau menguncinya dengan tangan yang bertumpukan di atas etalase kaca itu.

“Bisa geser sedikit?” Katanya mencoba beramah tamah.

Kugoyangkan lagi tumitku. Rasanya tidak terlalu nyaman, tapi ini yang harus kubayar karena aku-Ingin-tetap-di-sini.

Angka 6000 itu masih berkilat. Menyadarkanku, bahwa di carik sekecil itu ada konsekuensi mahal yang hidup dan siap menerkam manusia dan segala urusannya, kapan saja.

Ingatanku terguncang ketika anak tadi barusan tidak sengaja menyenggol tengkuk-ku dengan betisnya yang kulitku rasai kenyal, seolah hanya terdiri dari air dan sekelumit daging saja.

Aku pernah berpikir untuk menyalin obrolanku dengan seseorang pada sebuah kertas bermaterai, sehingga akan kupaksa ia membubuhkan tanda tangan, setelah milikku, karena tentunya aku yang akan menggores duluan

Tujuannya waktu itu, ya hanya agar omong kosong aku dan dirinya yang ketinggian, harapanku yang diam-diam diselipkan di tiap rencananya yang digelontor tanpa beban…

…kesampaian.

“Iya, kamu nanti buat lirik lagu, biar aku yang mengirimu bernyanyi.”

Ingin kusalin kata-katanya selalu.

Tentang karya yang ingin kami selesaikan. Yang bahkan waktu itu belum dimulai.

Aku bermimpi sejuta kali tentang sesuatu yang bisa mengabadikan kami dalam sebuah ide yang direalisasi. Rasa, cita, persembahan kami yang barangkali bisa dikecup di permukaan sebuah batu. Pikiran kami yang segar, yang meskipun usang akan tetap kami sayang. Kalau kami beruntung, orang-orang juga akan menikmatinya, kan?

Malamnya, setelah ia bilang begitu, menerbangkan mimpiku mengenai hal-hal yang tidak perlu kami tiru –karena kami bisa menciptakannya. Aku memikirkan lirik lagu. Kucungkil pemikiran terdalam, yang jarang, yang kuharap siapapun tidak terluka ketika mendengarnya. Karena itu menyinggung rahasia. Aku mempertaruhkan kerahasiaan suatu hal. Dalam lirik lagu itu. Dalam sajak-sajakku yang rencanya akan temanku lagukan.

Aku benci omong kosong bernama rencana.

“Aku udah buat sebait liriknya…” Kataku di obrolan santai kami, jam dua siang.

“Udah? Selesai?”

Aku mengangguk. Kumantap-mantapkan anggukan itu.

“Nanti ya aku liat.”

“Ini lho kertasnya, nggak jauh-jauh.” Aku menyodorkan pemikiranku, yang kuharap akan ia bungkus rapih-rapih dengan instrumennya.

“Wah, bagus. Tapi aku nggak begitu ngerti sih maksud liriknya apa hahahaha.”

“Nggak penting ngerti apa nggak.” Sangat penting baginya mengenai maksud. Dia eksekutornya. Semua ini di tangannya.

“Sok, tancep.”

“Aku nggak bawa gitar nih. Nanti ya, lagian baru makan siang.”

“Oke.”

Tidak. Harus sekarang dilakukan. Makan siang kami sudah tertinggal satu jam yang lalu. Acara ini (kalau memang pantas dibilang acara), harus secepatnya diselesaikan. Mimpiku menggantung di sana, rahasiaku mengendap di dasarnya.

Akan kuambilkan gitarmu.

Jangan, kesannya aku terlalu buru-buru.

Gimana kalau sekarang saja? Besok aku nggak bisa.

Bukan begitu, alasannya terlalu dibuat-buat.

“Aku punya ide.”

“Apa?” Katanya mendongak malas, mengalihkan pandangan dari layar ponsel yang kupikir kontrasnya terlalu terang.

“Rencana ini akan kutulis di kertas. Keinginan kita membuat lagu akan kelihatan. Tanda tanganku, tanda tanganmu, di atas materai enam ribu. Biar kesampaian. Biar riil kedengaran ke telinga orang-orang. Iya, kan?”

“Brilliant.” Katanya tanpa menatapku.

“Aku serius.”

Dia menoleh, tertawa. Lama.

“Hey.”

“Tapi ini nggak seserius itu. Jangan terlalu mengikat, Andrea. Rencana bisa tertiup angin kapan saja. Kadang-kadang kita butuh obrolan tentang masa depan sebagai selingan.” Dia menyentuh mulutnya seperti mengelap sisa tawa yang baru saja tumpah.

“Apa?”

“Iya, maksudku nggak begitu. Materai? Memang ini apa, perjanjian yuridis, bersifat hukum? Kenapa nggak dibawa santai aja, sih, Andrea?”

Aku terlalu sering membawanya jauh melewati santai-santai yang kamu maksud. Tapi hal yang kusadari setelahnya adalah impian yang hilangnya tanpa bekas.

“Begitu, ya?”

Dia tidak menjawab lagi. Earphone yang menggeliat nyaman di kantung celananya dia paksa keluar, mengalihkan kegiatannya yang sedang tiduran agar buru-buru menyumpal telinga. Jelas, temanku butuh setembang lagu.

__

Baru sekarang kupegang materai setelah terakhir kali ide itu menggelitik kepalaku.

Ketidaksetujuannya dan tawanya yang tidak penuh –karena hanya terisi heran mengapa aku bisa begitu bersungguh-sungguh.

Tawa itu memenuhi akhir pekanku, mendesakku untuk segera melakukan praktek kontemplasi, hingga suatu hari aku mendapat kesimpulan; dia memang terbiasa membangun harapan.

Kuingat-ingat bagaimana harapan ditumbuhkan di banyak tempat, kemudian dia yang tidak pernah menuai. Lucu ya, kubayangkan seorang petani wortel menebar bibit banyak sekali tapi ia tidak pernah mau memanennya.

Hingga pagi.

Hingga pagi esoknya lagi.

Hingga aku berpikir begini, di sebuah tempat foto kopi.

Mesin foto kopi berderit-derit, rupanya masih ada yang menginginkan berkasnya diperbanyak. Kutebak, mesin foto kopi itu pasti mulai menghukum dirinya sendiri kenapa ia mau-maunya ditakdirkan jadi demikian.

Sekian tahun berlalu. Ideku tentang materai itu hanya angin lalu, tapi pikiran kadang bisa menguarkan apa saja. Seperti sekarang. Dan kudapati materai enam ribu itu mengambang di udara. Mendengung malu. Menjauh. Menanggalkan ikatan-ikatan tak kasat mata yang selama ini tumbuh dalam dirinya.

Terbang terus dia. Lebih tinggi di atas lampu jalan.

Memperjauh jaraknya denganku. Hingga aku beranjak pulang dengan ingatan yang berserakan.

 

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Ahmad Ali Adhim
2 tahun yang lalu 07/05/23
Keberkahan Ahmad Ali Adhim

Keberkahan Bukan Hardware, Melainkan Software yang Harus Terinstal!

Op-ed

Oleh : Ahmad Ali Adhim

Kehidupan tidak melulu tentang kesuksesan dan keberhasilan, ada kalanya dalam menjalani hidup ini manusia terpaksa harus terseret kepada dua arus, arus yang pertama adalah arus kebahagiaan, sedangkan arus yang kedua adalah arus kesedihan atau kegelisahan. Martin Seligman seorang Pakar Psikologi yang terkenal dengan nama “Father Of Positive Psychology” dalam karyanya yang berjudul learned optimism, what your change and what your cant, the optimistic child dan authenthic happiness menjelaskan, kebahagiaan merupakan konsep mendasar, mengacu pada emosi positif manusia serta aktifitas positif yang tidak mempunyai komponen perasaan sama sekali.

Sigmund Freud seorang pendiri aliran psikoanalisis dalam bidang ilmu psikologi berpendapat bahwa kegelisahan berasal dari kata gelisah, yang berarti tidak tenteram hatinya, selalu merasa khawatir, tidak tenang, tidak sabar, dan cemas. Sehingga kegelisahan merupakan hal yang menggambarkan seseorang yang tidak tenteram hati maupun perbuatan, merasa khawatir, tidak tenang dalam tingkah lakunya, tidak sabar ataupun dalam kecemasan.

Seperti itulah kedua gambaran tentang kebahagiaan dan kegelisahan yang seringkali datang begitu saja, juga terkadang pergi begitu saja dalam kehidupan manusia. Keduanya tidak pernah pilih-pilih dalam menjalani tugasnya sebagai hamba Allah yang diamanahi untuk mewarnai kehidupan manusia. Seseorang yang terlihat sukses dalam dunia bisnis pun bisa saja mengalami kegelisahan ketika bisnisnya mengalami kerugian. Begitupun dengan seseorang yang hidup serba pas-pasan, bisa saja ia selalu bahagia karena setiap hari hati dan fikirannya selalu sibuk mengingat Allah, selalu bersyukur atas pemberian Allah. Tidak menutup kemungkinan, bisa saja seorang jomblo, mempunyai hak untuk tersenyum lepas dalam menjalani hidupnya, padahal ia hidup seorang diri, tanpa ada yang perhatian dan peduli dengan kesehatan batinnya.

Rasa-rasanya hidup ini penuh misteri, sesuatu yang biasa dianggap kebahagiaan, ternyata justru mendatangkan kegelisahan. Begitupun sebaliknya. Lalu di manakah letak keberkahan hidup? Apakah segala sesuatu yang tidak berkah akan mendatangkan kegelisahan? Dalam kitab Mu’jam Maqaayisil Lughah disebutkan kata berkah memiliki satu makna asal, yaitu tetapnya sesuatu. Dalam kitab al-Mufradat, karya ar-Raghib al-Ashfahani disebutkan lafadz berkah berarti makna menetap di suatu tempat.  Sedangkan dalam perspektif yang lain kata berkah bisa juga diartikan berkembang, Az-Ziyadah atau bertambah hal itu telah tertulis jelas dalam kitab Mu’jam Maqaasyisil Lughah Jilid 1 Halaman 230 disebutkan, Al-Khalil berkata Berkah artinya bertambah dan berkembang.

Kembali kepada pertanyaan di atas tadi, apakah keberkahan bisa mendatangkan kebahagiaan? Al-Imam Abu Zakaria Yahya bin Ziyad bin Abdullah bin Manzhur bin Marwan al-Aslami ad-Dailami al-Kufi al-Farra seorang ulama’ Ahli bahasa Arab di Bagdad dalam karyanya Ma’anil Qur’an beliau berkomentar mengenai penggalan Surat Hud yang artinya seperti ini “…(itu adalah) rahmat Allah dan keberkahan-keberkahan-Nya dicurahkan atas kamu, hai ahlul bait….” (QS. Hud: 73). Al-Farra berkata “Keberkahan (dalam ayat ini) artinya kebahagiaan.”

Setelah menerangkan pendapat ini kepada para muridnya, Abu Manshur al-Azhari mengatakan dalam karyanya yang berjudul Tahzibul Lughah, Al-Azhari “Demikian pula dengan ucapan beliau dalam tahiyyat, Assalamu ‘alaika ayyuhan Nabiyyu wa rahmatullahi wa barakaatuh, karena siapa saja yang diberi kebahagiaan oleh Allah dengan sesuatu yang Allah membahagiakan Nabi dengannya, maka dia telah memperoleh kebahagiaan yang diberkahi dan langgeng.”

Sedangkan makna sa’adah (kebahagiaan) adalah mendapatkan taufik untuk melakukan kebaikan. Dalam kitab lisanul ‘arab  Jilid 3 Halaman 214 disebutkan “Jika ada yang mengatakan Allah telah membahagiakan seorang hamba, maka maksudnya adalah Allah telah memberinya taufik untuk melakukan sesuatu yang diridhai-Nya, sehingga karenanya dia memperoleh kebahagiaan.”

Adapun makna berkah secara istilah adalah tetap dan langgengnya kebaikan. Makna ini sesuai dengan definisi pertama secara bahasa, yaitu tetap dan selalu melekat. Ar-Raghib Al-Ashfahani mengatakan dalam kitabnya Al-Mufradat fi Gharibil Qur’an, “Al-Barakah adalah tetapnya kebaikan Ilahi pada sesuatu.

Setelah mengkaji beberapa hakikat tentang keberkahan dan kebahagiaan di atas apakah kita masih secara buru-buru menganggap bahwa keberkahan atau kebahagiaan yang sejati bisa dilihat? Atau bisa diibaratkan sebuah benda? Tidak memungkiri kenyataan bahwa keberkahan hidup adalah keadaan yang dikehendaki oleh mayoritas hamba Allah yang beriman, karena itu orang bakal memperoleh limpahan kebaikan dalam kehidupannya. Berkah tidaklah bermakna pada kata cukup dan memenuhi kebutuhan saja, akan tetapi berkah adalah rasa syukur dan kelapangan hati kita dengan semua kondisi yang ada, baik pada situasi berlimpah ataupun pada situasi sebaliknya.

Hidup yang berkah tidak cuma sehat, namun terkadang sakit justru mendatangkan keberkahan sebagaimana Nabi Ayyub, sakitnya membuatnya semakin taat kepada Allah. Berkah itu tidak senantiasa panjang usia, ada yang umurnya pendek namun semakin dahsyat ketaatnya seperti Musab Ibn Umair. Tanah yang berkah bukanlah lantaran subur dan panoramanya yang indah, tanah tandus seperti Makkah yang miliki keutamaan di hadapan Allah tidak ada yang menandingi keberkahannya. Makanan berkah bukanlah makanan yang memiliki komposisi gizi komplit, namun makanan itu dapat mendorong dan memberi energi orang yang mengkonsumsi sehingga ia berubah menjadi lebih patuh sesudah makan. Ilmu yang berkah bukanlah ilmu banyak kisah dan catatan kakinya, bukanlah predikat dan angka yang tinggi, namun ilmu yang berkah adalah ilmu yang dapat menjadikan seseorang meneteskan keringat dan darahnya untuk beramal dan berjuang demi agama Allah. Penghasilan berkah juga tidak melulu soal upah yang besar dan menjadi bertambah semakin banyak, namun sejauh mana penghasilan itu menjadi jalan rizqi untuk yang lain dan makin banyak orang yang terbantu dengan penghasilan itu. Anak-anak  yang berkah tidaklah anak yang banyak, waktu kecil mereka lucu serta imut kemudian sesudah dewasa mereka berhasil meraih bergelar dan memiliki pekerjaan, jabatan tinggi. Namun anak yang berkah adalah yang selalu patuh pada Tuhan-Nya dan nantinya diantara mereka ada yang lebih shalih, tidak henti-hentinya mendo'akan kedua Orang tuanya.

Wallahu a’lam, begitulah keberkahan hidup, ia adalah sistem yang harus terinstal dalam hati dan fikiran kita, ia merupakan software, bukan benda, bukan hardware.! Setelah sistem itu terinstal dalam hidup kita, masih adakah ruang kegelisahan yang patut kita sikapi dengan hati yang sempit? Jika konsep keberkahan ini kita letakkan kepada konteks nasib seorang jomblo, menurut Anda bagaimanakah konsep keberkahan jomblo yang paling tepat?

Happy Weekend, Selamat berbahagia Mblo 🙂

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap
Anisa Kurniati
2 tahun yang lalu 07/05/23
Pemuda Penentu Maju Mundurnya Suatu Bangsa !!

Pemuda Penentu Maju Mundurnya Suatu Bangsa !!

Op-ed

‘’ Atas Berkat Rohmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.

Kita sering mendengar kalimat diatas pada saat  upacara bendera, khususnya pada saat pembacaan pembukaan undang-undang dasar. Hal ini sudah diperdengarkan sejak kecil, ditujukan agar generasi bangsa memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. Potongan pembukaan undang-undang dasar tersebut merupakan sebgaian dari cita- cita bangsa Indonesia.

Namun seiring berjalanya waktu, cita-cita ini mulai pudar di kalangan pemuda karena begitu banyak budaya luar yang masuk dan tidak sesuai dengan bangsa Indonesia yang diimplementasikan  pada kehidupan sehari-hari dan membuat rasa cinta tanah air mulai memudar. Hal ini merupakan kemunduran bagi bangsa, yang hakikatnya pemuda adalah ujung tombak dan tulangpunggung bagi keberlanjutan masa depan bangsa Indonesia. Suatu bangsa yang besar dan dapat bertahan secara berkelanjutan karena ada pemuda yang menggerakkan perubahan dan melakukan tindakan yang positif dan kreatif untuk kemajuan bangsa Kurangnya rasa kebangsaan membuat pemuda bersikap apatis terhadap apa yang terjadi di sekitarnya, baik lingkungan rumah maupun terhadap kinerja pemerintah Indonesia. Pemudalah yang akan melanjutkan jenjang birokrasi bangsa Indonesia ini.

Untuk itu, sangat penting untuk membangkitkan jiwa- jiwa nasionalisme pada pemuda dengan pemaparan tentang para pahlawan yang dulunya terdiri atas pemuda bangsa dan berjuang hingga titik penghabisan untuk merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan – tangan para penjajah. Pemuda haruslah mengetahui dasar- dasar yang mempersatukan bangsa kebhinekaan bangsa Indonesia yang hingga kini tetap berada dibawah nauangan Pancasila.  Selain pengetahuan akan bangsa Indonesia, jiwa nasionalisme dapat ditingkatkan dengan memancing para pemuda untuk melakukan hal-hal positif yang tentunya berkaitan dengan Kebangsaan Indonesia.

Pada hari pahlawan tepatnya tanggal 10 November, merupakan suatu moment yang dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme dengan adanya perwadahan yang akan mewadahi para pemuda untuk mengembangkan dirinya untuk kemajuan bangsa Indonesia. Salah satu contohnya adalah Pewarta Nusantara yang dapat mewadahi pemuda dan masyarakat Indonesia untuk lebih mengenal bangsa Indonesia yang dalam rangka memperingati hari jadinya tepat pada hari pahlawan mengadakan lomba menulis dengan tema Kebangsaan.

Baca Selengkapnya Icon buka halaman lengkap