
Ular piton raksasa sepanjang sekitar 5 meter terlihat berenang di jalanan banjir di Bali pada akhir Februari 2026, tepatnya saat hujan deras memicu genangan di kawasan wisata dan permukiman, hingga video warga yang merekam langsung viral di media sosial.
Fenomena ini akibat banjir bandang Monsun Asia aktif yang kejar hewan liar dari habitat pegunungan ke dataran rendah.
Video berdurasi 30 detik unggah warga Pedungan, Denpasar, tunjukkan piton reticulatus berenang lincah di air keruh setinggi lutut, panjangnya estimasi 4-5 meter berdasarkan bandingkan kendaraan terdekat; lokasi kemungkinan Kuta atau Buleleng pasca-hujan 21 Februari. Warga panik rekam dari jarak aman, unggah TikTok/Instagram capai 1 juta views dalam 24 jam dengan tagar #PitonBanjirBali, picu spekulasi migrasi akibat La Niña. Damkar setempat evakuasi serupa di Celukan Bawang dan Gerokgak, tapi piton ini lolos identifikasi spesifik.
Piton reticulatus (sanca kembang) endemik Indonesia capai 5-7 meter dewasa, berat 50-100 kg, non-berbisa tapi lilitan mematikan; musim hujan dorong cari mangsa baru seperti ayam/anjing di banjir. Kasus mirip Sulawesi (7,22m rekor GWR Januari 2026) tunjuk tren konflik manusia-satwa naik 30% akibat deforestasi; piton tak agresif kecuali terancam. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali imbau lapor evakuasi via hotline, jangan bunuh karena dilindungi UU No.5/1990.
Dinas Lingkungan Hidup Bali koordinasi Damkar PLTU Celukan Bawang evakuasi rutin, edukasi warga tutup kandang ternak saat banjir; viralitas video tingkatkan kesadaran restorasi mangrove cegah migrasi liar. BMKG prediksi banjir lanjut hingga Maret, potensi piton muncul di Kuta-Seminyak; kasus ini paralel piton 5,5m Lanud Kendari 2023 yang lahap rusa. Hingga 27 Februari, BKSDA pantau tanpa korban jiwa, tapi waspadai Lebaran wisatawan ramai.