Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

Thailand Gelar Simulasi Penemb*kan di Sekolah, Siswa Dilatih Hadapi Serangan

Thailand menggelar simulasi penembakan di sekolah setelah serangkaian insiden kekerasan bersenjata. Polisi berperan sebagai pelaku dalam simulasi, sementara siswa dilatih menghadapi situasi darurat. Sebelumnya, sekolah-sekolah di Thailand juga mulai menerapkan latihan “run, hide, fight” serta meningkatkan pemeriksaan keamanan.

Kekhawatiran terhadap insiden penembakan di lingkungan sekolah mendorong kepolisian Thailand menggelar simulasi penanganan penembak aktif di sebuah sekolah menengah atas di Bangkok.

Dalam simulasi tersebut, seorang polisi berperan sebagai pelaku penembakan. Para siswa kemudian dilatih mengenai langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi darurat di lingkungan sekolah.

Latihan ini dilakukan di tengah meningkatnya perhatian terhadap keamanan sekolah Thailand setelah sejumlah insiden penembakan yang melibatkan pelajar terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Salah satu kasus paling mematikan terjadi pada 7 Agustus 2026. Seorang siswa berusia 14 tahun di Debsirin Nonthaburi School, wilayah Nonthaburi dekat Bangkok, melakukan penembakan yang menewaskan sejumlah orang dan melukai lebih dari 20 lainnya.

Kasus tersebut kemudian memicu evaluasi terhadap sistem keamanan sekolah serta akses anak dan remaja terhadap senjata api. Pemerintah Thailand juga mulai meninjau kembali aturan kepemilikan senjata.

Sebelumnya, pada 19 Agustus, sekolah-sekolah di Thailand juga telah menggelar latihan serupa. Dalam salah satu simulasi di Surasak Montri School, Bangkok, siswa dilatih menggunakan konsep “run, hide, fight”, termasuk berlari menjauh dari ancaman, bersembunyi di ruangan yang dapat dikunci, serta mengamankan diri ketika tidak dapat melarikan diri.

Dalam latihan tersebut, polisi bahkan menggunakan peran sebagai penyerang dengan senjata yang menggunakan peluru hampa untuk membuat simulasi lebih realistis. Sekolah juga meningkatkan pemeriksaan keamanan, termasuk pemeriksaan tas dan penggunaan detektor logam.

Langkah tersebut menunjukkan bagaimana sekolah di Thailand mulai mempersiapkan siswa dan tenaga pendidik menghadapi kemungkinan serangan bersenjata, meski insiden semacam itu tetap tergolong jarang.

Selain penembakan pada Agustus, pada awal September seorang siswa berusia 14 tahun juga ditangkap setelah melepaskan beberapa tembakan di sekolahnya di Provinsi Kamphaeng Phet. Tidak ada korban luka dalam insiden tersebut.

Peristiwa lain kembali terjadi pada 9 September ketika seorang guru taman kanak-kanak di Provinsi Chonburi ditembak hingga tewas. Sebanyak 44 siswa di sekolah tersebut berhasil dievakuasi dengan selamat.

Rangkaian kejadian tersebut membuat isu keamanan sekolah dan pengendalian senjata kembali menjadi perhatian besar di Thailand.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.