
Laporan tentang tentara Israel yang melepaskan anjing untuk menggigit anak Palestina hingga ketakutan telah muncul dalam beberapa insiden yang didokumentasikan di Tepi Barat. Organisasi Defense for Children International – Palestine (DCIP) mencatat kasus-kasus di mana pasukan Israel menggunakan anjing militer selama razia, menyebabkan luka serius pada anak-anak. Praktik ini dikritik sebagai bagian dari pola sistematis yang menimbulkan teror pada warga sipil Palestina, termasuk anak-anak.
Kasus Omar Ziyad (Usia 3 Tahun)
Pada 5 November 2024 di Qabatiya dekat Jenin, anjing militer Israel menggigit bahu kiri Omar saat razia, dan anjing itu tidak melepaskan gigitannya selama beberapa menit meski keluarga memohon bantuan. Tentara menunda intervensi dan akses medis, memaksa keluarga berjalan lebih dari 1 km dengan Omar yang berdarah ke ambulans. Omar dirawat di rumah sakit dengan luka parah, antibiotik, dan obat anti-rabies.
Kasus Ibrahim Hashash (Usia 4 Tahun)
Pada 4 Februari 2024 di kamp pengungsi Balata dekat Nablus, anjing militer menyerang Ibrahim, merobek pakaiannya dan menggigit bagian bawah tubuhnya selama tiga menit hingga berdarah hebat. Ibu Ibrahim tak bisa melepaskan anjing tersebut, dan anak itu dirawat di rumah sakit Rafidia untuk luka internal serta eksternal, termasuk operasi plastik. Serangan terjadi setelah operasi penangkapan di area tersebut.
Pola Penggunaan Anjing Militer
DCIP mendokumentasikan empat kasus serangan anjing militer terhadap anak Palestina pada 2023, termasuk di Tulkarem, Jenin, dan Tubas. Laporan serupa muncul di Gaza, seperti pria dengan Down syndrome yang diserang anjing pada Juli 2024. Video dan berita lokal Indonesia juga menyebut insiden terbaru pada Desember 2025 di mana anak Palestina diikat dan direkam saat digigit anjing hingga ketakutan.